Rabu, 21 November 2018 05:22 WIB
pmk

Ekonomi

BI Catat Defisit Transaksi Berjalan USD 1,8 Miliar

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan (CAD) kuartal IV 2016 sebesar USD 1,8 miliar (0,8 persen) dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Angka itu lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya USD 4,7 miliar (1,9 persen) dari PDB. BI mengklaim itu, paling baik untuk kinerja kuartalan.

Kinerja transaksi berjalan sepanjang Oktober-Desember juga lebih baik dibanding periode sama 2015 mencatat defisit USD 4,7 miliar (2,2 persen) dari PDB. Transaksi berjalan ditopang perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan pendapatan primer. ”Kondisi CAD membaik secara persentase bisa 0,8 persen,” tutur Gubernur BI Agus Martowardojo, di Jakarta, akhir pekan lalu (12/2).

Surplus neraca perdagangan barang tercatat meningkat didorong peningkatan ekspor seiring perbaikan ekonomi negara-negara mitra dagang dan peningkatan harga komoditas global. Sementara, defisit neraca pendapatan primer menurun mengikuti jadwal pembayaran bunga surat utang pemerintah lebih rendah. Untuk transaksi modal dan finansial, mencatat surplus cukup besar dan melampaui defisit transaksi berjalan.

Surplus transaksi modal dan finansial kuartal IV 2016 tercatat USD 6,8 miliar, terutama bersumber dari surplus investasi lain sejalan repatriasi dana tax amnesty. Namun, surplus transaksi modal dan finansial itu lebih rendah dari surplus periode kuartal tiga sebelumnya. Itu terjadi menyusul eksodus dana asing dari saham dan Surat Utang Negara (SUN) rupiah. ”Surplus investasi langsung juga lebih rendah karena pengaruh outflow sektor pertambangan,” tambah Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.

Selanjutnya, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tercatat surplus USD 4,5 miliar. Kondisi itu mendongkrak posisi cadangan devisa menjadi USD 116,4 miliar, lebih tinggi dari kuartal tiga USD 115,7 miliar. Jumlah cadangan devisa itu cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri selama 8,4 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Secara akumulatif, kinerja NPI 2016 membaik ditopang penurunan defisit transaksi berjalan dan kenaikan surplus transaksi modal dan finansial. NPI 2016 mencatat surplus USD 12,1 miliar setelah tahun sebelumnya defisit USD 1,1 miliar. Defisit transaksi berjalan turun menjadi USD 16,3 miliar (1,8 persen) dari PDB periode sama 2015 di kisaran USD 17,5 miliar (2,0 persen) dari PDB didukung perbaikan kinerja neraca perdagangan barang dan jasa.

Surplus neraca perdagangan menanjak seiring impor susut lebih besar dibanding koreksi ekspor. Meski begitu, laju penurunan impor tidak sedalam edisi 2015 sejalan perbaikan ekonomi domestik. Laju penurunan ekspor tidak sedalam tahun sebelumnya berkat lonjakan harga komoditas global. Defisit neraca perdagangan jasa juga menurun mengikuti penurunan impor barang.

Di sisi lain, surplus transaksi modal dan finansial tahun lalu meningkat menjadi USD 29,2 miliar, dari periode 2015 USD 16,8 miliar. Peningkatan itu terutama didorong kenaikan surplus investasi langsung dan investasi portofolio serta penurunan defisit investasi lain sejalan persepsi positif pelaku ekonomi terhadap ekonomi domestik dan implementasi program pengampunan pajak berjalan baik. ”Selanjutnya, BI bakal terus mewaspadai perkembangan global, terutama arah kebijakan AS, Tiongkok dan peningkatan harga minyak dunia, bisa memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan,” tukas Tirta. (far)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #bank-indonesia 

Berita Terkait

Cegah Melemah, Transaksi Pakai Rupiah

Nasional

BI Yakin Mampu Lewati Tekanan terhadap Rupiah

Headline

Anies Senang BI Permudah DP Rumah

Jakarta Raya

IKLAN