Minggu, 23 September 2018 04:16 WIB
pmk

Headline

Enam Nama Bertarung Raih Ketua MA

Redaktur:

Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Pengisi kursi Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2017 – 2022 bergantung hasil pemilihan hari ini (14/2). Tidak kurang 47 hakim agung bakal memberikan suara dalam pemilihan ketua MA. Meski semua hakim agung punya kesempatan sama, ada enam nama yang disebut punya potensi besar menduduki kursi pimpinan tertinggi MA antara lain M. Hatta Ali, M. Syarifuddin, Artidjo Alkostar, Suhadi, Andi Samsan Nganro, dan Yulius.

Koordinator Program Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Julius Ibrani menyebutkan, enam nama itu paling santer terdengar. ”Tapi, masih beredar liar,” ungkap dia.

Sebab, mekanisme pemilihan Ketua MA belum berubah. Setiap hakim agung dalam posisi sama ketika pemilihan Ketua MA berlangsung. Mereka berhak memilih hakim agung lain atau diri sendiri untuk mengisi kursi Ketua MA.

Enam nama itu bukan wajah baru di MA. Masing-masing punya rekam jejak berbeda. M. Hatta Ali misalnya. Dia adalah Ketua MA yang sampai saat ini masih menjabat. Sedangkan M. Syarifuddin adalah Wakil Ketua MA Bidang Yudisial yang masih aktif bertugas. Di antara enam nama tersebut, hanya Hakim Agung Kamar Tata Usaha Negara (TUN) Yulius saja yang namanya belum banyak diperbincangkan.

Meski sudah beredar enam nama yang dijagokan sebagai pemenang dalam pemilihan ketua MA, petahana M. Hatta Ali masih dianggap paling kuat. Julius menjelaskan, meski MA masih kerap berjumpa masalah sejak 2012 sampai 2017, pria asal Parepare itu tetap punya pengaruh besar. Hubungan antara dia dengan hakim agung lain pun berjalan baik. ”Selama ini adem saja. Kemungkinan menjadi ketua MA lagi ada,” ucap dia.

Meski demikian, bukan tidak mungkin lima nama lain menggeser M. Hatta Ali. Sebab, banyak kritik kepada MA. Tidak hanya itu catatan untuk M. Hatta Ali selama memimpin MA pun cukup banyak. Di antaranya adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat. Bagaimana tidak? Selama dia memimpin, tidak kurang 18 hakim maupun pegawai di bawah naungan MA terjerat korupsi. Angka itu diperoleh dari data Indonesia Corruption Watch (ICW).

Peneliti ICW Lalola Easter pun satu suara dengan Julius. Dibanding nama lain yang masuk bursa pemenang dalam pemilihan Ketua MA, M. Hatta Ali masih berada di posisi teratas. Pengaruh pejabat yang April tahun ini berulang tahun ke-67 itu besar. ”Kemungkinan Pak Hatta Ali jadi Ketua MA lagi memang masih ada,” kata dia. Tapi, sebagai aktivis yang turut aktif mengawal peradilan di tanah air, dia berharap ada pembaruan.

Menurut Lalola, MA butuh regenerasi ketua. Sebab, reformasi peradilan yang diharapkan terjadi pada masa kepemimpinan M. Hatta Ali tidak tampak. ”Masih jalan di tempat,” kata dia.

Regenerasi dibutuhkan untuk memberi kesempatan kepada sosok lain yang lebih segar. Bukan hanya kemampuan dan pengalaman, usia pun harus turut jadi pertimbangan. Sebab, reformasi peradilan bukan perkara mudah. ”Butuh waktu,” tambah dia.

Soal pemilihan ketua MA hari ini, Menko Polhukam Wiranto turut buka suara. Dia menyampaikan, mekanisme pemilihan ketua MA sudah jelas. Karena itu, dia ogah banyak bicara. ”Tunggu saja besok (hari ini, Red),” ucap dia.

Senada, Juru Bicara Komisi Yudisial (KY) Farid Wajdi menyampaikan, pihaknya tidak turut campur dalam urusan internal MA, termasuk pemilihan ketua. Untuk itu, kata Farid, KY hanya memberi beberapa catatan. Disamping regenerasi, batas masa jabatan dan keterlibatan pihak lain dalam proses pemilihan ketua MA wajib jadi perhatian. ”Proses tetap memperhatikan aspirasi publik,” ungkap dia. KY ingin MA mendengar masukan dari pihak lain. Salah satunya soal capaian MA selama ini. ”Apapun itu dengarkanlah dan akomodir,” tambahnya.

Berkaitan transparansi pemilihan Ketua MA, Wakil Ketua MA Bidang Yudisial M. Syarifuddin mengungkapkan, selama ini pemilihan Ketua MA sudah terbuka. ”Tidak pernah tertutup,” ujarnya. (bay/syn)


TOPIK BERITA TERKAIT: #mahkamah-agung 

Berita Terkait

IKLAN