Lifestyle

Jangan Panik Jika Anak Mainkan Alat Kelaminnya

Redaktur: Ali Rahman
Jangan Panik Jika Anak Mainkan Alat Kelaminnya - Lifestyle

Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID Maraknya protes orangtua terhadap buku “Aku Bisa Mengendalikan Diri Sendiri” dianggap mencontohkan perilaku mastubasi.

Saya sebagai praktisi psikolog, pendidik dan orangtua dari 3 orang anak merasa berkewajiban untuk menulis artikel ini disebabkan maraknya respon “panik” dari orangtua tentang buku seri “Aku Berani Tidur Sendiri: Aku Belajar Mengendalikan Diri”.

Seorang sahabat memposting di sosial media tentang buku tersebut halaman per halaman. Dimulai dari seorang anak yang diminta Ibu nya untuk tidur siang. Anak tersebut belum mengantuk dan tanpa disengaja bermain dengan menggesekan alat kelaminnya ke bantal guling. Ada sensasi baru yang dirasakannya membuat anak tersebut senang dan melakukannya lagi.

Kemudian si Ibu masuk dan dengan tenangnya menjelaskan kepada anak untuk tidak melakukan hal tersebut dikarenakan kotoran yang mungkin dapat masuk ketika bermain dengan alat kelamin. Si Ibu juga memberikan alternatif solusi agar anak melakukan aktivitas lain seperti berenang atau bermain di luar ketimbang bermain dengan alat kelaminnya.

Bagaimana pendapat saya tentang buku tersebut?

Secara konten, very good. Bagaimana si Ibu bersikap tenang merupakan respon terbijak saat anak ketahuan pegang alat kelaminnya. Banyak orangtua panik, kaget, berteriak saat melihat anaknya bermain dengan alat kelaminnya.

Menurut teori perkembangan anak, usia 2-5 tahun anak memiliki rasa ingin tahu yang besar (curiosity). Mereka ingin tahu mengenai bagian tubuh mereka (termasuk genital), bahkan ingin memegang dan merasakan bentuk dan teksturnya. Seorang anak lebih berminat untuk memuaskan rasa ingin tahunya, bukan sensasi rangsang seksualnya.

Sejauh mana rasa ingin tahu anak dianggap normal dan tidak normal?

Dianggap normal jika anak berusia dibawah 7 tahun (usia sekolah). Sensasi rangsang ditemukan secara tidak sengaja, bukan karena melihat orang dewasa berhubungan intim (dalam kasus ini saat anak menggesekan kelamin ke bantal dengan gerakan naik turun).

Sedangkan masuk kategori tidak normal jika terjadi perubahan perilaku dalam diri anak seperti tidak dapat mengendalikan diri untuk menyentuh alat kelaminnya. Memperagakan gerakan perilaku seksual orang dewasa.

Bagaimana orangtua perlu merespon jika menemukan anak yang suka memainkan alat kelaminnya?

Tidak panik. Panik hanya membuat anak merasa takut dan tidak mau terbuka di kemudian hari. Panik hanya akan ‘mematikan’ rasa ingin tahu nya di kemudian hari. Sama seperti anjuran buku yang diterbitkan oleh tiga serangkai, seyogyanya orangtua tetap tenang dan memberikan pengarahan bahwa bermain dengan alat kelamin berdampak tidak baik (kotoran bisa masuk). Begitupun dengan pendidikan bahwa alat kelamin adalah bagian tubuh yang wajib ditutup (menggunakan celana dalam) dan tidak boleh dibuka didepan umum dan disentuh oleh siapapun.

Apakah anak yang membaca buku Seri “Aku Berani Tidur Sendiri: Aku Belajar Mengendalikan Diri” berpeluang untuk mencontohkan perilaku masturbasi?

Children see, children do. Oleh sebab itu buku tersebut harus di label sebagai buku seri parenting/ orangtua, yang wajib dibaca dengan bimbingan orangtua.

Apakah Buku itu sebaiknya ditarik dari peredaran?

Jika buku tersebut belum memiliki label ‘buku parenting’ dan dapat dibaca oleh anak-anak tanpa bimbingan orangtua sudah seharusnya ditarik dari peredaran. Namun tujuan dan konten buku tersebut adalah edukasi pendidikan seks. Saat ini pendidikan seks perlu diberikan kepada anak sedini mungkin sesuai dengan usia nya.

Saya menyayangkan reaksi orangtua yang panik dan bersifat emosional tidak melihat manfaat dari buku tersebut. Kenyataannya, banyak orangtua belum memberikan pendidikan seksual kepada anak, tidak mengetahui usia yang pas, dan tidak memahami konten apa yang akan diajarkan kepada anak. Pendidikan seksual dapat dimulai sedini mungkin dimulai dari 3 tahun saat fungsi kognitif rasa keingin-tahuan mereka besar terhadap lingkungannya.

Apa solusi bagi orangtua dan masyarakat?

Setelah buku tersebut ditarik dari peredaran, dapat :

·      ditambahkan label “buku parenting” dan tanda himbauan “Wajib didampingi oleh Orangtua”.

·      Di halaman awal, perlu ada himbauan kepada orangtua mengenai tujuan buku, bagaimana cara pendampingan saat membaca, apa yang harus dijawab (tips dan trik) saat anak mengajukan beberapa pertanyaan seputar kisah dalam buku? .

·      Jika diperlukan, perlu adanya review dari psikolog/konselor sebelum buku tersebut diterbitkan.

Jika prasyarat tersebut siap dan sudah dipenuhi, saya mendukung dan mendorong agar penerbit tiga serangkai mempublikasikan revisi buku “Aku Berani Tidur Sendiri: Aku Belajar Mengendalikan Diri” untuk masyarakat luas.

Saya menghimbau, “Mari para orangtua dan masyarakat menyikapi suatu kasus dengan obyektif dan tidak berat sebelah. Menitikberatkan pada analisa berpikir logis dan terpenting adalah pencapaian SOLUSI terbaik untuk anak. Waspadalah pada sikap “over” (berlebihan/didominasi emosi). Over-protektif. Over-reactive. Over-sensitive. Over-negative. Seimbangkan segala sesuatu antara rasa kesal, marah dengan kepala dingin dalam mengambil langkah solutif.

Orangtua Hebat = Orangtua Aktif Berlogika.

Orangtua Hebat = Tidak Reaktif, Namun Solutif

Orangtua Hebat = Banyak Belajar Ilmu

Penulis

Elizabeth Santosa, Praktisi Psikolog dan Komisioner Komnas Anak Indonesia

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Kementerian PPPA Sebut Internet Indonesia Belum Layak Anak

Lifestyle / Tes DNA Bisa Kontrol Gaya Hidup dan Pola Makanan

wisata / Puri Tri Agung, Destinasi Wisata Budaya dan Religi

wisata / Indahnya Sunset di Pasir Timbul Meko

wisata / Sensasi Melangkah di Bibir Kawah


Baca Juga !.