Lifestyle

Lezatnya Hidangan Khas Aceh

Konsep Unik The Atjeh Connection

Redaktur:
Lezatnya Hidangan Khas Aceh - Lifestyle

NYAMAN: Dengan sajian makanan dan minuman khas Aceh, The Atjeh Connection Resto & Coffee menghadirkan kelezatan otentik Bumi Serambi Mekkah. Tampilan satu gelas kopi Aceh yang diracik unik dengan resep tempo dulu (kanan).

INDOPOS.CO.ID - Bila berkunjung ke Aceh, kopi sanger adalah salah satu minuman yang wajib dicicip. Sekarang, tidak perlu jauh-jauh ke negeri Serambi Mekkah untuk menjajal kopi asli  Aceh itu. Di The Atjeh Connection Resto & Coffee, kopi andalannya adalah sanger.

''Sanger itu diambil dari padanan kata sama-sama ngerti. Pada mulanya sekitar tahun 1980-an banyak mahasiswa pecinta kopi, tapi diakhir bulan dengan keuangan yang menipis. Mereka minta pengertian dari pedagang supaya kopi tetap diberi susu, hanya lebih sedikit dari biasanya. Jadilah sama-sama ngerti disingkat sanger,'' jelas Founder dan owner The Atjeh Connection Amir Faisal.

Amir menjelaskan, kopi yang digunakan adalah kopi asal Aceh yakni kopi Gayo yang premium. Satu kilo kopi jenis arabika ini sekitar Rp 300 ribu. ''Air juga berpengatuh terhadap rasa kopi. Makanya kami hanya menggunakan air mineral karena ph-nya seimbang,'' tandas pengusaha asal Aceh tersebut.

Saat ini, The Atjeh Connection telah memiliki empat cabang. Pertama kali buka di Apartemen Slipi di tahun 2015, lalu delapan bulan lalu buka di Jl. Agusa Salim atai dikenal dengan jl. Sabang, enam bulan lalu buka di Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat dan dua minggu lalu buka di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. ''Tahun ini targetnya buka sepuluh cabang. Fokusnya masih di Jakarta dan sekitarnya,'' tandasnya.

Awal mula Amir membuka gerai ini diakui hanya dari sekedar iseng. ''Awalnya untuk menerima tamu di apartemen kan agak sulit, akhirnya saya buka di apartemen untuk menerima tamu,'' tukasnya.

Dengan koneksinya yang luas, dan termasuk salah satu tokoh asal Aceh yang disegani, Amir ingin menhadikan restonya ini sebagai ajang mempromosi Aceh di kalangan nasional dan internasional, sehingga tak jarang terlihat para tokoh-tokoh nasional hadir di tempat itu, baik dari kalangan politisi, birokrat hingga pengusaha.

Tak hanya menyajikan sanger, digerai yang buka mulai pukul 07.00 ini juga ada aneka varian kopi seperti capucino atau latte. Fokus dengan kuliner Aceh, camilan-camilan dan makanan disinipun berasal dari Aceh. Seperti kue ade, kue timpan, kue talam, pai Aceh dan masih banyak lagi. ''Camilan ini setiap hari dikirim dari Aceh. Ini supaya rasanya terjaga dan merasa seperti sedang berada di Aceh,'' ungkapnya.

Ada juga satu camilan unik yang direquest oleh temannya yang bernama Ary, yang kini menjadi salah satu petinggi di Wika. ''Awalnya dia minta dibikinkan roti tawar, pakai mentega, susu, dan madu lalu dikukus. Ternyata cocok. Karena ide awalnya dari dia, jadilah kita namakan roti ary,'' ungkapnya. Rupanya, roti ini juga jadi camilan favorit Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto.

Untuk makan berat, nasi gurih dan nasi kuning adalah andalannya. Sekilas nasi gurih mirip dengan nasi uduk, hanya saja, rempah-rempahnya lebih terasa. Nasi gurih disajikan dengan telur balado, rendang, tumis kacang panjang dan buncis, serta ikan asin. Demikian pula dengan nasi kuning, bedanya dengan nasi kuning Jakarta adalah tidak menggunakan santan dan bumbu rempah yang terasa terutama kapulaga. Selain itu adaAda pula lontong sayur, mie Aceh, bebek kari, daging masak merah, ayam kari, pliek u, tom yum kak ani, ikan tumis Aceh, telur ikan masak, ubi tumbuk, sate matang khas Bireun, asam keung, ayam tangkap, ikan kuah lemak, kari kambing, soto medan, sop iga, gulai kepala ikan, hingga sambal ganja. ''Semua masakan, kecuali mie Aceh dimasak di dapur sentral kami. Dimasak oleh koki asal Aceh, setelah matang baru didistribusikan ke cabang-cabang,'' tukasnya.

Tak hanya makanan atau minumannya yang istimewa, konsep gerai The Atjeh Connection pun istimewa. Disetiap gerai menyajikan atmosfer yang berbeda. Di gerai Gajah Mada misalnya. Disini, Amir mengusung konsep vintage, atau jadul. Sangat pas dengan wilayahnya yang dekat dengan kota tua. Aroma jadul terasa dari hiasan-hiasan di dindingnya yang dihiasi dengan pigura-pigura perangko pertama dan foto-foto lama. Sangat sayang jika dikewatkan untuk foto-foto lalu diunggah ke sosmed.

Aroma jadul lebih terasa di lantai dua, dimana kursi-kursinya merupakan kursi jadul. ''Kursinya saya dapat dari Bandung. Piringan hitam saya dapat dari Surabaya,'' ujar pria yang memang kolektor benda antik itu. (dew)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Es Goyang Masih Bertahan di Era Es Krim

Megapolitan / Di Pasar Ini bakal Disemarakkan Kedai Kopi

Lifestyle / Nikmatnya Sajian Kuliner Siput Air Tawar Bumbu Kuning

Lifestyle / Ini yang Dicari Emak-Emak Ketika Adu Kebolehan Masak 

Lifestyle / Nyai Rasa Resto, Sajikan Makanan Modern dan Tradisional


Baca Juga !.