Sabtu, 22 September 2018 10:33 WIB
pmk

Nasional

Tunggu Ilmu Dam Belanda dan Proposal Kereta Cepat Jepang

Redaktur:

Bertemu di Den Haag: Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berpose bersama para pengusaha Belanda setingkat CEO dalam CEO Business Meeting di Den Haag, Belanda, tahun lalu. FOTO: Kadin for Indopos

Setiap pemimpin negara yang berkunjung ke Indonesia datang dengan kepentingannya masing-masing. Termasuk yang terakhir, kunjungan Raja Salman bin Abdulazis Al Saud. Berikut perbandingannya.

-----

INDOPOS.CO.ID - Mulai tahun ini, Indonesia lebih mudah untuk mengekspor produk-produk kayu ke eropa via Belanda. Kayu Indonesia sudah dilengkapi dengan sertifikat dari Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SLVK). Dengan sertfikat itu, Uni Eropa memberikan lisensi Forest Law Enforcement Government and Trade (FLEGT). Sehingga, kayu Indonesia tidak perlu diperiksa di setiap pelabuhan.

Dampak pemberian lisensi FLEGT itu dibicarakan Presiden Joko Widodo saat bertemu Perdana Menteri Belanda Mark Rutte 23 November lalu di Istana Merdeka. Dengan lisensi itu, Indonesia berkesempatan mengekpor lebih banyak produk kayu ke Belanda. Kondisi tersebut berpeluang meningkatkan volume perdagangan kedua negara, yang pada 2016 lalu sudah mencapai USD 3,2 miliar.

Kedatangan Rutte ke Indonesia tidak sebatas kunjungan kenegaraan semata. Dia membawa serta 200 pengusaha dan tenaga ahli ke Indonesia. Rutte juga menjalin kerjasama dengan sejumlah kepala daerah untuk membangun sistem pencegahan banjir dan tata kelola air. Masing-masing dengan Wali Kota Semarang dan Bupati Demak.

Banyaknya rombongan yang dibawa Rutte pun mendapat apresiasi Presiden Jokowi. ’’Ini menunjukkan kepercayaan, sebuah trust pada Indonesia dalam hal investasi,’’ ujar Jokowi usai pertemuan bilateral. Itu menunjukkan Belanda punya komitmen untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia.

Di luar itu, Rutte mewakili pemerintah Belanda menyumbangkan 1.500 benda budaya yang sebelumnya menjadi koleksi museum Nusantara di Delft, Belanda. Museum itu ditutup beberapa bulan jelang kunjungan Rutte ke Indonesia.

Pemimpin lain yang mengunjungi Indonesia dalah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Sedikit berbeda dengan Rutte, Jokowi menyambut Abe di Istana Bogor pada 15 Januari lalu. Kehadiran Abe cukup Istimewa, karena Jepang merupakan salah satu investor utama di Indonesia.

Dalam kunjungannya, Abe sepakat untuk mengajukan kembali proposal pembangunan infrastruktur perkeretaapian untuk jalur Jakarta Surabaya. Jepang saat ini sedang mempertimbangkan apakah akan mengajukan kereta semicepat (180-200 km/jam) atau kereta cepat (250-300 km/jam).

Begitu pula dengan pembangunan pelabuhan Patimban. ’’Patimban kami minta dibangun paling lambat awal 2018 dan mulai dioperasikan secara bertahap awal 2019,’’ terang Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Di luar itu, Indonesia juga berkesempatan mengekspor lebih banyak produk perikanan dan pertanian ke Jepang.

Kedua proyek tersebut memang sangat ditunggu publik. Proyek kereta cepat, bila terealisasi, akan memangkas waktu tempuh Jakarta ke Surabaya hingga dua pertiganya. Bila sebelumnya menggunakan KA eksekutif butuh waktu sembilan jam, bila ada kereta cepat hanya butuh waktu tiga jam.

Bagaimana dengan Saudi? Kunjungan Raja Salman bin Abdulazis Al Saud disebut-sebut sebagai salah satu kunjungan pemimpin negara paling heboh setelah Presiden Barrack Obama. Sebelum kunjungan terlaksana, Saudi melalui Aramco sudah menandatangani komitmen kerjasama dengan pertamina untuk membangun kilang minyak di Cilacap.

Selebihnya, Saudi berkomitmen untuk berpartisipasi dalam pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia. termasuk di dalamnya perumahan murah. Selain itu, peluang tenaga kerja Indonesia khususnya di bidang medis makin terbuka setelah ada kerjasama rekrutmen dan pengembangan tenaga profesional di bidang kesehatan. (byu/agf/mia/jun)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kerjasama-pembangunan 

Berita Terkait

IKLAN