Selasa, 18 September 2018 08:46 WIB
pmk

Nasional

Kerja Sama dengan Jepang Paling Menguntungkan

Dengan Arab Saudi dalam Tahap Saling Mengenal
Redaktur:

Kerja Sama Jepang : Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Ketua Japan Indonesia Association (JAPINDA) yang juga mantan Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda, di Istana Negara, Rabu (27/7/2016). Foto : Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Dari beberapa negara yang melakukan kunjungan di Indonesia pada satu tahun terakhir, kunjungan Jepang dianggap sebagai yang paling menguntungkan jika dilihat dari realisasi kerjasama dan investasi. Alasannya karena dibanding negara-negara lainnya, Jepang disebut sangat paham dengan iklim investasi Indonesia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani menyatakan, dibanding beberapa negara yang berkunjung ke Indonesia, seperti Belanda dan Arab Saudi, Jepang datang dengan materi kerjasama yang sangat mendetail. ”Karena pengusaha Jepang paham dengan environment bisnis di Indonesia. Terkait regulasi di sini, kultur tenaga kerjanya, dan sebagainya,” ujar Rosan, kemarin (5/3).

Selain itu, faktor lain yang memudahkan kerjasama antara Indonesia dan Jepang, adalah karena investasi Jepang yang begitu besar di Indonesia. Berdasarkan data Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2016, Jepang ada di urutan dua setelah Singapura, dengan nilai investasi mencapai USD5,4 miliar atau sekitar Rp71,8 triliun di 3.302 proyek.

”Investasi yang besar menunjukkan adanya trust dari kedua negara. Sehingga, ketika mau berekspansi pada kerjasama-kerjasama yang lain lebih mudah,” tambah Rosan. Menurut Rosan, tindak lanjut kerjasama Indonesia dengan Jepang sudah terealisasi sekitar 70 persen.

Sementara untuk ­kerjasama dengan Arab Saudi, Rosan menyatakan bahwa dari kedua negara masih dalam tahap saling mengenal dan melakukan monitoring terhadap iklim bisnis masing-masing. ”Kami masih terus berkordinasi lewat Kamar Dagang dan Industri mereka (Arab Saudi, red). Secara besaran investasi juga kalau dilihat Arab Saudi ada di peringkat 57, artinya mereka belum terbiasa dan belum mengenal lebih jauh tentang investasi di sini,” urai Rosan.

Kadin Indonesia selalu mengagendakan bisnis forum tiap kali ada negara yang berkunjung ke Indonesia. Tujuannya, adalah melakukan bisnis matching untuk segera mempertemukan para stakeholder dan pengusaha yang terkait dengan kerjasama.

”Prosedurnya biasanya seperti itu. Kami agendakan bisnis forum untuk bertemu kadin dari negara yang bersangkutan, lalu kami lakukan bisnis matching. Kemudian dibentuk tim monitoring yang terdiri dari perwakilan kedua negara, untuk kemudian mem-follow up MoU yang sudah disepakati,” kata Rosan.

Menurut Rosan, faktor utama yang mempengaruhi cepat dan lambatnya realisasi investasi Negara asing dan Indonesia adalah tentang regulasi dan aturan. Seringkali regulasi pusat dan daerah yang akan dijadikan tempat investasi tidak match. ”Iya, biasanya mereka (pengusaha negara lain, red) menyebut soal keharmonisan regulasi. Ketika BKPM sudah oke, tapi ternyata di daerah ada peraturan-peraturan yang berbeda, akhirnya proses menjadi lebih lama,” beber Rosan.

Di lain sisi, dunia pendidikan juga kecipratan kehadiran Raja Arab Saudi dan delegasinya. Delegasi Kerajaan Arab Saudi menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang diwakili oleh Kementerian Kebudayaan dan Penerangan beserta King Abdulazis City for Science and Technology (KACST). Mereka sepakat memperkuat kerjasama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

KACST sendiri memiliki pusat penelitian dan center of excellence dalam bidang bionanoteknologi, ilmu hayati, advance material, komunikasi dan teknologi informasi, serta energi. ''Kita bisa saling bertukar ilmu pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki untuk kemaslahatan bersama,'' ujar Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain.

Iskandar mengungkapkan, menyambut positif kerjasama yang dilakukan bersama Arab Saudi. Pasalnya, menurut catatan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Arab Saudi merupakan negara yang cukup maju dalam bidang iptek. ''Negeri ini juga sangat terbuka dan menganggap kerjasama penting untuk terciptanya sinergi dan kolaborasi yang bermanfaat,'' imbuhnya.

Selain penelitian, beberapa aspek yang juga akan dilakukan bersama, meliputi pertukaran dan kunjungan, konferensi dan seminar, serta kerjasama antara organisasi-organisasi yang berhubungan dengan MoU antara kedua negara. (byu/agf/mia/jun/dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kerjasama-pembangunan 

Berita Terkait

IKLAN