Alexa Metrics

Pasutri Pembuat Vaksin Palsu Divonis 9 Tahun

Pasutri Pembuat Vaksin Palsu Divonis 9 Tahun

INDOPOS.CO.ID –  Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, Jawa Barat, Senin (20/3) memvonis pasangan suami – istri (Pasutri), terdakwa kasus pembuatan vaksin palsu. Taufiqurahman dijatuhi kurungan penjara selama sembilan tahun penjara, sedangkan istrinya Rita Agustin dengan penjara delapan tahun.

“Kedua terdakwa terbukti bersalah memproduksi alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar,” kata Hakim Ketua Pengadilan Negeri Bekasi, Marper Pandiangan, Senin (20/3). Menurut dia, putusan itu diberikan berdasarkan pertimbangan dari sejumlah barang bukti yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU), keterangan 16 saksi, serta empat ahli hukum selama agenda persidangan.

Dalam fakta persidangan dibacakan Marper, terungkap pasangan suami istri tersebut terbukti memproduksi vaksi palsu jenis Pediacel, tripacel, Engerix B menggunakan bahan-bahan yang tidak higienis di rumahnya Perumahan Kemang Pratama RT 09 RW35, Kelurahan Bojongrawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi sejak 2010 sampai 2016.

”Bahan baku yang digunakan adalah klem, palu, dan jarum suntik. ‎Caranya, botol bekas dicuci menggunakan alkohol dan dikeringkan. Setelah itu, cairan akuades dicampur dengan vaksin DT/TT dalam dimasukkan ke dalam botol kaca. Kemudian botol ditutup dengan karet dan diklem,” papar Marper.

Di dalam sidang pembacaan vonis juga terungkap bila kedua terdakwa Taufiqurahman dan Rita Agustin berprofesi sebagai produsen vaksin palsu karena ajakan dari terdakwa Iin Sulastri dan Syafrijal. “Kedua terdakwa tergiur karena keuntungannya menggiurkan. Sampai-sampai terdakwa berhenti sebagai perawat rumah sakit dan mulai membuat vaksin palsu,” imbuhnya.

Dalam penjatuhan vonis yang dijatuhi Majelis Hakim kepada kedua terdakwa lebih ringan dari tuntutan JPU masing-masing 12 tahun penjara dengan denda masing-masing Rp300 juta.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Rosyan Umar mengatakan, vonis yang diberikan ke kliennya terlalu berat bila mengacu ke UU kesehatan dan perlindungan konsumen. “Saya sudah menyarankan untuk menempuh banding ke pengadilan tinggi, “ jelasnya.

Menurut Rosyan, yang dimaksud terlalu berat itu karena modus yang dilakukan kliennya dalam perbuatan yang dituduhkan karena desakan ekonomi. “Tadinya saya berharap vonis yang diberikan majelis hakim merujuk pada prilaku produsen saja dengan hukuman lima tahun penjara atau denda, namun faktanya klien saya dijerat dengan sejumlah pasal,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya,  lima terdakwa kasus vaksin palsu telah divonis Pengadilan Negeri Bekasi. Mereka antara lain Safrizal, Iin Sulastri, Irnawati, Seno, dan Muhammad Farid divonis dari tujuh tahun hingga sepuluh tahun penjara, dalam sidang putusan pekan ini.

Putusan tersebut lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri Bekasi, tuntutan paling tinggi ialah 12 tahun penjara. Mereka didakwa dengan Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 36 Tahun 2009.

kelima terdakwa yang divonis adalah Muhammad Farid, pemilik apotek, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara, Seno bin Senen, pembuat label vaksin palsu, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara, Syafrizal, pengedar dan pembuat vaksin palsu, divonis 10 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara, Iin Sulastri, pengedar dan pembuat vaksin palsu, divonis 8 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara dan Irnawati, pengedar vaksin palsu, divonis 7 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan penjara . (dny)



Apa Pendapatmu?