Rabu, 26 September 2018 02:12 WIB
pmk

Formula 1

Kuda Hitam Berharap Hujan di Sirkuit F1 Shanghai

Verstappen Bisa Menggila di Wet Race
Redaktur:

Max Verstappen (paling depan) diikuti Kimi Raikkonen yang membayangi dalam salah satu ajang balap F1 2016. Verstappen dianggap akan bersinar di 2017.

INDOPOS.CO.ID - Lewis Hamilton punya rekor bagus di Shanghai yang akhir pekan ini bakal menjadi tuan rumah seri kedua Formula 1 (F1). Melihat kemenangan Sebastian Vettel di seri pembuka Australia tentu banyak prediksi menyebutkan persaingan bakal kembali terjadi antara keduanya. Tapi bagaimana kalau hujan turun?

Langit Shanghai selalu gelap dalam beberapa hari terakhir. April tahun ini kota terbesar di Tiongkok tersebut sedang mengalami anomali cuaca. Untuk kali pertama selama 150 tahun terakhir hujan diprediksi akan turun selama 25 dalam satu bulan. Ini bukan kondisi normal karena biasanya hanya turun hujan paling lama 10-15 hari.

Hujan juga diperkirakan turun pada akhir pekan nanti. Jumat sirkuit akan diguyur hujan pada dini hari dan berhenti jelang pagi. Diperkirakan sesi latihan bebas pertama berlangsung dalam kondisi trek basah. Kemudian pada Sabtu kondisinya membaik, tanpa hujan, dan suhu udara lebih hangat.

Hujan diprediksi bakal kembali mengguyur trek pada hari balap. Kemungkinan balapan Formula 2 juga akan dilangsungkan dalam kondisi hujan. Sedangkan hingga kemarin diperkirakan balapan Formula 1 bakal dilaksanakan dalam kondisi basah-kering.

Situasi ini akan mengubah peta pertarungan. Dengan hujan dipastikan balapan bakal menarik. Karena dengan kondisi tersebut para kuda hitam punya peluang untuk bertarung merebut podium atau bahkan kemenangan. Apalagi mereka yang lihai membalap di trek basah.

Tahun lalu, balapan paling epik di kondisi basah terjadi di Brasil. Bintang mudah Red Bull-TAG Heuer Max Verstappen tampil luar biasa menunjukkan skill balapnya di bawah kondisi hujan. Posisinya anjlok hingga di urutan 15 saat balapan hanya menyisakan 10 lap. Tapi dia mampu menyalip satu per satu pembalap di depannya hingga akhirnya mampu finis di posisi ketiga.

Situasinya memang sedikit berbeda tahun ini, dimana postur mobil yang lebih lebar akan menyulitkan pembalap untuk melakukan overtaking. Bahkan, setelah GP Australia dua pekan lalu, Verstappen menyatakan balapan musim ini akan lebih membosankan karena peluang untuk melakukan overtaking lebih kecil. Apapun itu, ketika hujan turun dan air menggenangi trek balapan menjadi lebih sulit diprediksi.

Red Bull masih ada di belakang Ferrari dan Mercedes saat membukan musim 2017 di Australia. Power mesin Renault belum memadai untuk bertarung di depan. Verstappen menyatakan mesin Renault butuh satu detik per lap untuk bisa menandingi para rivalnya. ''Masih ada gap yang besar. Tapi aku percaya kami pasti bisa semakin mendekat di beberapa balapan ke depan sampai di bawah satu detik. Kita akan melihat setelah upgrade mesin kami dapat,'' ucap Verstappen dilansir Crash.

Yang membuat Red Bull sedikit lega adalah jaraknya dengan tim-tim di belakang mereka juga cukup jauh. Verstappen menyebut, di GP Australia dia bisa melakukan dua kali pit stop dan berada di posisi yang sama ketika kembali ke trek. ''Tapi kita akan lihat nanti di trek yang “normal” seperti di Shanghai,'' tandasnya.

Meski menang di Australia, pembalap Ferrari Sebastian Vettel yakin Shanghai adalah trek yang pas untuk gaya balap Lewis Hamilton. Diapun menyebut Mercedes tetap menjadi favorit juara jelang seri kedua akhir pekan ini. ''Kami tahu kami punya paket (mobil) bagus yang bisa menempatkan kami di posisi kuat. Tapi ada banyak hal yang perlu tingkatkan untuk bisa bertahan dengan mereka (Mercedes),'' sebut Vettel dalam jumpa pers kemarin. (cak)


TOPIK BERITA TERKAIT: #f1 

Berita Terkait

IKLAN