PDIP dan PPP Tak Takut Prabowo Nyapres

INDOPOS.CO.ID – Partai Gerindra semakin percaya diri (PD) bila Prabowo Subianto akan mudah merebut kursi presiden di pemilu 2019. Alhasil, partai berlambang burung garuda itu kian gencar melontarkan pencalonan ketua umumnya itu. Namun, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Persatuan Pembangunan telah memiliki jurus jitu dalam menghadang ambisi Partai Gerindra tersebut.
 
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan, kian menguatnya wacana pengusungan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto sebagai calon presiden dalam pilpres 2019. Wacana itu didasari setelah pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menangi pilkada DKI Jakarta berdasarkan hasil hitung cepat.
 
"Ya, Insya Allah lah. Masyarakat dan kami mengharapkan Pak Prabowo sehat dan bisa maju untuk pemilu 2019 karena saya kira kalau beliau terpilih ini akan membawa Indonesia lebih kuat dan terhormat," ujar Fadli kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (20/4).
 
Fadli menganggap, kemenangan pasangan Anies-Sandi menjadi tolok ukur bagi Gerindra untuk mencapreskan Prabowo. Terlebih, Gerindra mampu memenangkan pasangan Anies-Sandi yang dukungan dananya tergolong minim.
 
Saat ditanya apakah Prabowo memang ingin kembali maju sebagai capres? Fadli menjawab, hal itu memang belum dinyatakan secara gamblang oleh Prabowo.
 
"Memang belum, tapi pokoknya Pak Prabowo kami, kader Gerindra, berharap maju, tapi emang beliau belum jawab," lanjut Fadli.
 
Kemumgkinan, sambung Wakil Ketua DPR RI itu, deklarasi Prabowo capres  akan dibahas khusus setelahUndang-Undang Penyelenggaraan Pemilu rampung.
 
Melihat ambisi Gerindra untuk mengusung Prabowo sebagai capres, PDIP sebagai partai pemenang Pilpres 2014 menilai keyakinan Gerindra tersebut bukanlah ancaman.
 
"Kami tidak pernah merasa ada ancaman. Kami hanya kokoh berdiri ketika ada pihak-pihak yang mau mengingkari Pancasila dan kebinekaan konstitusi kita. Toh PDIP telah punya jurus jitu," kata Hasto Kristiyanto, Sekjen (Sekretaris Jenderal) PDIP, kemarin. 
 
Menurutnya, tiap partai memiliki strategi dan cara tersendiri dalam berkontestasi. "Setiap partai punya cara dan strategi. Tapi bagi kami, yang dinyatakan Ibu Mega, kami berdiri kokoh di belakang Jokowi. Skala prioritas terpenting adalah bekerja untuk rakyat," imbuhnya.
 
Senada dilayangkan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy. Dia menyatakan, pengumuman soal capres justru akan mengangkat persoalan kontestasi.
 
"Kontestasi pilpres 2014 kemarin sudah selesai. Dengan adanya pengumuman ini, tentu akan mengangkat kembali persoalan kontestasi. Dan politik nasional akan mengalami lagi bipolarisasi. Dan itu tidak bagus untuk suasana politik nasional ke depan," ujarnya, kemarin. 
 
Romi sapaan akrab Romahurmuziy mengaku, PPP nanti akan menjadai partai penentu siapa capres yang akan maju. Selain itu, Prabowo memang bukalah ancaman karena strategi yang dimiliki PPP nanti. 
 
"Soal strateginya apa itu rahasia," tandasnya.
 
Sebelumnya, peluang Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto maju sebagai calon presiden (capres) 2019 kian lebar. Pasalnya, hasil dari pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 bisa menjadi tiketnya. Ditambah lagi dukungan bulat dari para kader partai berlambang kepala garuda tersebut.
 
Pengamat Pusat Studi Politik Universitas Padjadjaran, Bandung, Muradi menuturkan, ibaratkan pilkada DKI Jakarta 2017 ini sebagai jembatan penghubung antara pilpres 2014 ke 2019. Lantaran, perebutan kekuasaan di ibu kota sangat strategis dan semacam ujian konsistensi dari soliditas partai politik (parpol) skala nasional.
 
Fragmentasi politik sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat presiden, sambung Muradi, terbelah menjadi dua kubu yakni, kelompok oposisi yang nerapat di barisan Prabowo Subianto dan kelompok pendukung pemerintah yang dibawah bayang-bayang Megawati Soekarnoputri.
 
Menurutnya, dua kubu bernama Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) itu sudah lama bubar, termasuk ketika dihadapkan pada pilkada DKI. Namun, dua aktor penting yang bersebrangan tetap berada dipuncak sentral persaingan.
 
"Sekarang ini basisnya sama, mirip dengan 2014. Siapapun yang menang akan berujung pada 2019. Nah, dari hasil quick count Prabowo telah mencuri tiket atas kemenangan Anies-Sandi," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (19/4). (aen)

Komentar telah ditutup.