Nasional

Bea Cukai Dorong Tumbuh dan Kembangnya IKM di Aceh

Editor: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID - Industri Kecil dan Menengah (IKM) sejatinya memegang peranan yang sangat signifikan bagi perekonomian nasional, disamping adanya fakta bahwa industri kecil dan menengah merupakan skala industri yang paling tahan banting dari terpaan badai ekonomi. Berdasar data dari Kementerian Koperasi dan UKM, kontribusi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap perekonomian nasional mencapai 57 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan bahkan mampu menyerap 97 persen tenaga kerja. Namun demikian, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih relatif kecil, yaitu hanya sekitar 16 persen dari ekspor nasional. Hal inilah yang membuat pemerintah tidak henti-hentinya berupaya untuk terus memberikan kemudahan bagi pelaku IKM ini.

Berdasar data dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Aceh, saat ini jumlah UMKM di Aceh sudah mencapai hampir 75.000 unit usaha, dengan andalan berupa usaha produksi souvenir dan olahan makanan khas Aceh. Pertumbuhannya pun sangat menggembirakan, karena dalam kurun waktu 2012 - 2015, sektor Industri Kecil dan Menengah di Aceh tumbuh pesat sekitar 15,77 persen per tahunnya.
Dalam rangka semakin mendorong berkembangnya Industri Kecil dan Menengah di Aceh agar dapat berorientasi ekspor, Bea Cukai Aceh mengadakan kegiatan sosialisasi Fasilitas Kemudahan Impor dan Tujuan Ekspor Industri Kecil dan Menengah (KITE-IKM), Kamis (27/4). 

Pada acara yang dilaksanakan di Aula Kantor Bea Cukai Aceh ini, diundang para pelaku IKM di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang, akademisi dari universitas negeri dan swasta di Banda Aceh, serta instansi terkait dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Dinas Koperasi, dan UKM Provinsi Aceh dalam.

Plh. Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Aceh, Bambang Lusanto Gustomo menyampaikan bahwa fasilitas KITE-IKM ini merupakan terobosan dari Kementerian Keuangan, khususnya Bea Cukai, berupa pemberian fasilitas perpajakan maupun fasilitas prosedural khusus untuk IKM yang melakukan kegiatan pengolahan, perakitan dan/atau pemasangan bahan baku asal impor dengan tujuan untuk diekspor. 

"Hal ini sejalan dengan salah satu misi Bea Cukai untuk memfasilitasi perdagangan dan industri, sebagai  perwujudan dari Nawacita dan Paket Kebijakan Ekonomi, yang salah satu tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan IKM," ujar Bambang.
Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan, Erwindra Rachmawan, narasumber dalam sosialisasi ini memberikan pemaparan secara global mengenai fasilitas KITE-IKM. 

"Fasilitas KITE-IKM ini diberikan dengan tujuan agar para pelaku IKM dapat menurunkan biaya produksinya, dengan tidak adanya pungutan bea masuk dan pajak dari bahan baku asal impornya dengan tujuan untuk diekspor, sehingga diharapkan mampu menimbulkan efek berantai berupa meningkatnya kapasitas dan utilitas produksi, peningkatan output dan keuntungan pelaku IKM, peningkatan daya saing produknya di pasaran internasional serta mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja," jelas Erwindra.

Disampaikan pula oleh Erwindra, bahwa sejak diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 30 Januari 2017, sampai saat ini telah terdapat 22 IKM yang menggunakan skema fasilitas ini, tersebar di Solo, Yogyakarta, Semarang, Denpasar dan Mataram. IKM tersebut memiliki jenis usaha yang beragam, antara lain industri tembaga, furniture, kerajinan marmer, industri kulit, batik, rambut palsu, kosmetik, dan lainnya.

"Tentunya dibutuhkan pula sinergi dari instansi terkait - Bea Cukai, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Koperasi dan UKM dari sisi kebijakan, serta Perbankan dari sisi permodalan - agar para pelaku IKM dapat memanfaatkan skema fasilitas KITE-IKM secara optimal, sehingga tujuan pemberian fasilitas KITE-IKM dapat tercapai dan menggerakkan perekonomian di Aceh," lanjutnya. (rmn)

Berita Lainnya kan

Banner

Kanal BCTV

Twitter