Listrik Padam 10 Jam, Tak Ada Diskon

INDOPOS.CO.ID – Listrik biarpet sepertinya masih dirasakan oleh sejumlah pelanggan PLN. Sabtu (29/4), terjadi gangguan saat PLN Kaltim-Kaltara (Kaltimra) melakukan perawatan di Gardu Induk Tengkawang, Sungai Kunjang, Samarinda. Listrik padam selama 10 jam. Soal listrik padam juga bukan terjadi saat itu. Sudah sering biarpet. “Anggota kami selalu mengeluhkan soal ini (listrik padam). Bila PLN tidak berbenah, sangat mengganggu iklim investasi dan usaha kami,” kata Sekretaris BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim HM Zulkifli, Ahad (30/4).

Zulkifli mengatakan, gangguan yang ditimbulkan PLN seakan mencekik pelaku usaha. Sebab, biaya operasional membengkak karena harus mengeluarkan lembaran rupiah untuk menggunakan mesin generator set (genset).Sebagai perwakilan asosiasi, dia meminta agar perusahaan setrum memperbaiki layanan.

Baca Juga :

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Slamet Brotosiswoyo merasa jengkel dengan pelayanan PLN. Khususnya di tiga daerah, Balikpapan, Samarinda, dan Tanah Grogot. Pengusaha yang berbisnis hotel juga banyak yang mengeluh kepadanya. Dia menyebut, rata-rata keluhan masih soal biaya operasional. Kerugian disebut mencapai 30 persen dengan kondisi listrik sering padam.

“Bahkan kerugiannya bisa 40 persen setiap terjadi pemadaman. Yang paling terasa di bisnis perhotelan. Kalau PLN tidak membenahi ini, bisa rugi pengusaha. Masak setiap saat harus memakai genset sendiri. Apalagi dengan kondisi kunjungan hotel yang menurun saat ini. Berat sekali pengusaha. Tetapi ada yang masih mendingan, di Berau itu informasinya jarang padam,” tutur Slamet.

Baca Juga :

UU Cipta Kerja Bisa Bikin PLN Dikuasai Asing

Kepada koran ini, Deputi Manajer Hukum dan Humas PLN Wilayah Kaltim-Kaltara Wijayanto Nugroho menyadari, akibat pemadaman listrik berlarut di Samarinda itu akan mendapat keluhan dari pelanggan captive power (pelanggan besar).

 

Dia menyebut, sejak awal, pelanggan ini sudah berkomitmen tak keberatan wajib keluar dari Sistem Mahakam—Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong—saat beban puncak tiba. “Meski demikian, kami tetap berusaha memperbaiki pelayanan kami agar pelanggan besar juga nyaman,” kata dia.

Baca Juga :

Dia menegaskan, atas insiden padam 10 jam dua hari lalu, pelanggan yang menjadi korban tak mendapat kompensasi atau diskon dari PLN. Sebab, rencana pemadaman akibat pemeliharaan gardu induk itu sudah disebarluaskan lewat website dan media.

Namun, hal berbeda bila kejadian padamnya listrik selama 10 jam tersebut tanpa pemberitahuan, baik di website maupun media, maka pelanggan berhak mendapat kompensasi. Tapi, kebijakan antarrayon, disebutnya berbeda. Kompensasi itu berupa, bagi pelanggan listrik prabayar (menggunakan token) akan diberikan tambahan voucher pada pengisian bulan selanjutnya. Sesuai dengan lama waktu pemadaman. Sementara untuk listrik pascabayar, akan mendapatkan diskon saat pembayaran tagihan bulanan.

Sementara itu, kemarin (1/5), TDL golongan 900 VA naik. TDL yang mesti dibayar 19 juta pelanggan itu Rp 329 per kWh menjadi Rp 1.352 per kWh. Sesuai Permen ESDM 28/2016 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan PLN, disebutkan penyesuaian bulan ini merupakan yang terakhir.

Setelah itu, masyarakat yang masih menggunakan listrik daya 900 VA nonsubsidi, tarifnya disesuaikan dengan harga keekonomian. Saat ini, tarif pelanggan rumah tangga nonsubsidi adalah Rp 1.467,28 per kWh.

Itu berarti pengguna daya 900 VA kembali merasakan kenaikan tarif. Namun, itu tidak termasuk tiga tahap penyesuaian yang berjalan sejak Januari, Maret, dan Mei. Angkanya bergantung pada tarif baru yang berlaku pada Juli karena nanti tarifnya sama dengan golongan 1.300 VA.

Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, proses penyesuaian tarif sampai tahap akhir berjalan lancar. Tidak ada resistensi yang berarti karena masyarakat mampu sudah mengerti pentingnya subsidi tepat sasaran. “Subsidi listrik 2016 mencapai Rp 60,44 triliun. Dengan subsidi tepat sasaran, diharapkan pada 2017 bisa ditekan menjadi Rp 45 triliun,” ujarnya, Minggu (30/4). (*/roe/rom/k11/jpg)

Komentar telah ditutup.