Politik

Anies-Sandi Menang di Pilkada DKI Bukan karena Dukungan Islam Radikal

Redaktur: Ali Rahman
Anies-Sandi Menang di Pilkada DKI Bukan karena Dukungan Islam Radikal - Politik

Sunarto Ciptoharjono, Pjs Ketua Umum AROPI (kiri) bersama Dr. Umar Bakry selaku Pendiri AROPI pada konferensi pers paparan hasil survei dengan tema “Benarkah Islam Radikal Menang di Pilkada DKI?” yang digelar di Graha Dua Rajawali, Jalan Pemuda Raya, Jakarta Timur, Selasa (9/5).

INDOPOS.CO.IDKemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Anies Rasyid Baswedan - Sandiaga Salahuddin Uno pada Pilkada DKI Jakarta 19 April lalu bukan ditentukan oleh Islam radikal. Jika Islam radikal didefinisikan sebagai penganut Islam yang menginginkan Negara Islam di Indonesia, jumlah mereka di bawah 10 persen. Survei yang dilakukan Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) menunjukkan yang memenangkan Anies-Sandi justru penganut Demokrasi Pancasila.

Hal itu dikemukakan oleh Sunarto Ciptoharjono, Pjs Ketua Umum AROPI pada konferensi pers paparan hasil survei dengan tema “Benarkah Islam Radikal Menang di Pilkada DKI?” yang digelar di Graha Dua Rajawali, Jalan Pemuda Raya, Jakarta Timur, Selasa (9/5).

“Yang memenangkan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI 2017 bukan Islam radikal. Jika Islam radikal didefinisikan sebagai penganut Islam yang menginginkan Negara Islam di Indonesia, jumlah mereka di bawah 10 persen. Survei kami justru menunjukkan yang memenangkan Anies-Sandi justru penganut Demokrasi Pancasila,” kata Sunarto yang didampingi Dr. Umar Bakry selaku Pendiri AROPI dalam paparannya.

“Penganut negara Islam di kalangan pemilih Jakarta hanya berjumlah 9,80 persen saja. Sisanya 82,70 persen tak menyetujui negara Islam diterapkan di Indonesia. Yang tak menjawab/rahasia sekitar 7,50 persen. Dari 82,70 persen itu, sebanyak 73,60 persen menginginkan Demokrasi Pancasila. Sebanyak 9,10 persen menginginkan Demokrasi seperti layaknya di negara Barat,” jelas dia.

Memang, lanjut Sunarto dari pendukung negara Islam, mayoritas 85,20 persen memilih Anies-Sandi. Dan pendukung demokrasi liberal seperti negara Barat, mayoritas 77,30 persen mendukung Ahok-Djarot. Tapi pendukung negara Islam ataupun pendukung demokrasi ala barat masing masing hanya minoritas, di bawah 10 persen saja.  Dari pendukung Demokrasi Pancasila, sebanyak 67,80 persen mendukung Anies-Sandi, 23,80 persen mendukung Ahok-Djarot. Sisanya 8,40 persen tak tahu/rahasia

“Dari data di atas, pemilih yang mengidealkan aneka bentuk negara tersebut, semuanya ikut berkontribusi memenangkan Anies-Sandi. Namun kontribusi paling banyak memenangkan Anies-sandi justru datang dari pendukung sistem Demokrasi Pancasila,” ujar dia.

AROPI adalah Asosiasi Riset Opini Publik. Berdiri di tahun 2007, dan merupakan asosiasi lembaga survei pertama di Indonesia. Di tahun 2009, AROPI berhasil mematahkan dua Undang-Undang  di Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang itu melarang lembaga survei mempublikasi hasil quick count di hari pemilu dan hasil survei di hari tenang. Berkat gugatan AROPI di MK dan menang, kini masyarakat dapat menikmati pengumuman quick count di hari pemilu.

Selama bulan April sampai awal Mei 2017, AROPI melakukan serial riset meliputi survei opini public, analisis media dan FGD (focus group discussion). Survei dilakukan dengan metode standard multistage random sampling, wawancara  tatap muka, 440 responden, dengan margin of error 4,8 persen. (rmn)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Politik / Anies-Sandi Harus Tetap Merawat Jaringan Relawan

Politik / Bara JP Awasi Anies-Sandi

Politik / Terima Kekalahan, Djarot Masih Tegang

Politik / Bawaslu DKI Tangani Ratusan Kasus Pilgub


Baca Juga !.