Minggu, 23 September 2018 11:25 WIB
pmk

Tekno

Dimension Data Dorong Kesuksesan Transformasi Digital

Redaktur: Ali Rahman

Foto : istimewah

INDOPOS.CO.ID - Dimension Data, menyelenggarakan seminar keamanan siber yang mengusung tema Security Imperative for a Successful Digital Transformation di Jakarta untuk mendorong kesuksesan transformasi digital bagi perusahaan jasa keuangan dan perbankan di Indonesia. 
 
Berdasarkan Global Threat Intelligence Report (GTIR)2017 yang dikeluarkan oleh NTT Security, ancaman siber di industri jasa keuangan dan perbankan mengalami peningkatan yang cukup signifikan setahun belakangan ini. Data riset terbaru tersebut juga mengungkap bahwa serangan siber di sektor keuangan meningkat secara pesat dari hanya 3 persen di tahun 2015 menjadi 14 persen dari semua ancaman yang ada di 2016. 
 
Di Indonesia sendiri, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Indonesia (ID-SIRTII), ancaman siber di semua sektor meningkat setiap tahunnya lebih dari 90 juta ancaman di pertengahan tahun 2016 lalu.  
 
Grup NTT sebagai induk perusahaan Dimension Data memiliki lebih dari 40 persen kabel internet bawah laut memungkinkan NTT Group di periode 1 Oktober 2015 - 30 September 2016 merekam 3,5 triliun log yang dianalisadan 6,2 milyar serangan dengan Honeypot dan Sandbox di 100 negara melalui hampir 10 ribu Klien di seluruh dunia termasuk 10 Pusat Operasi Keamanan (Security Operations Centre).
 
Dengan kelengkapan ini, Grup NTT mampu melihat potensi serangan siber ke perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra Grup NTT secara global. Dimension Data sertaanakperusahaan NTT lainnya melakukan pemeriksaan atas keamanan siber di setiap negara.  
 
Neville Burdan, General Manager, Security Solutions, Dimension Data Asia Pasifik mengatakan, ancaman yang terus menerus terjadi di industri jasa keuangan bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Organisasi-organisasi ini, lanjut dia, memiliki aset digital yang besar dan data pelanggan yang sensitif. 
 
"Dengan mendapatkan akses pada aset digital dan data pelanggan tersebut memungkinkan para pelaku kejahatan siber untuk mendapatkan keuntungan dari informasi pribadi nasabahdan data kartu kredit," kata dia dalam keterangannya, Jumat (12/5).
 
Ransomware menjadi salah satu bentuk serangan siber yang akanterus mendominasi di sepanjang tahun 2017. Dari data yang dikeluarkan GTIR 2017, 77 persen serangan ransom ware tersebar di bidang: layanan bisnis dan profesional (28 persen), pemerintahan (19 persen), kesehatan (15 persen) dan ritel (15 persen). 
 
Ransomware, seperti yang kita ketahui adalah malware yang didesain untuk menyandera data atau perangkat kita. Dan ini menjadi catatan penting untuk berbagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan dan perbankan, karena perubahan kebiasaan konsumen ke arah digital. 
 
“Padahal ancaman siber di Indonesia mengarah ke perusahaan keuangan dan perbankan, termasuk retail e-commerce,” kata Hendra Lesmana, Country Director, PT Dimension Data Indonesia.
 
Sumber serangan phising (dimana di dalamnya terdapat serangan ransomware) terbesar adalah dari Amerika Serikat (41 persen), Belanda (38 persen) dan Perancis (5 persen).
 
“Di seminar yang diselenggarakan oleh Dimension Data, dengan melihat peningkatan ancaman siber yang semakin tinggi, kami memiliki komitmen untuk bersama-sama membenahi infrastruktur teknologi informasi, khususnya di keamanan siber yang semakin hari semakin diperlukan bagi terjadinya transformasi digital di dunia keuangan dan perbankan Indonesia,” lanjut Hendra. 
 
“Di seminar yang diselenggarakan hari ini, Dimension Data mengajak semua jajaran yang terlibat sebagai pemain dan pembuat keputusan di sektor jasa keuangan dan perbankan untuk bersama memerangi ancaman-ancaman siber yang dapat merugikan perusahaan tidak hanya dari sisi keuangan, tetapi juga reputasi dan kredibilitas, serta menghambat perusahaan untuk melakukan inovasi digital apabila ancaman-ancaman siber tersebut tidak terantisipasi dengan baik dan seksama,” jelas Hendra.  
 
Dimension Data memberikan solusi terhadap permasalahan dan tantangan-tantangan yang dihadapi industri jasa keuangan dan perbankan terutama pada serangan-serangan siber yang semakin meningkat dan canggih bentuknya dalam beberapa tahun belakangan ini.
 
Disinyalir bahwa 64 persen eksekutif bank di kawasan Asia Pasifik sadar akan gencarnya ancaman siber, tetapi mereka tidak memiliki persiapan yang cukup untuk menangkal ancaman siber tersebut. 
 
“Dengan semakin sadarnya eksekutif di berbagai perusahaan, kami berkomitmen untukmenjadi mitra mereka untuk mengimplementasikan solusi keamanan siber secara menyeluruh sehingga dapat melindungi keamanan data mereka dari ancaman dan serangan siber,” tutup Hendra. (rmn)


TOPIK BERITA TERKAIT: #keamanan-data 

Berita Terkait

IKLAN