Awas, Jangan Ngebut Di Tol Fungsional

INDOPOS.CO.ID – Bertambahnya jalan tol di mudik Lebaran kali ini memang membawa angin segar bagi para pemudik. Betapa tidak, para pemudik bisa menikmati jalan bebas hambatan hingga Gringsing. Tidak jauh dari Weleri, Kendal. Dengan adanya penambahan jalan tol sepanjang 110 kilometer dari Brebes hingga Gringsing memungkinkan para pemudik dengan tujuan lebih jauh bisa menghemat waktu tempuh dengan melewati jalan tol baru itu. Jika melewati jalan nasional Pantura, pemudik harus melewati jalan sepanjang 157,4 kilometer.

Kepala Badan Penyelenggara Jalan Tol (BPJT) Herry TZ mengatakan, jalan tol ini bisa menghemat waktu sekitar satu jam lebih pada waktu normal. Jika melewati jalan tol dengan kecepatan stabil di 40 kilometer per jam, Brebes Timur-Gringsing bisa ditempuh kurang dari tiga jam. Sementara jika melewati jalan nasional Pantura dengan kecepatan 60 kilometer per jam biasanya butuh waktu empat jam. ’’Di jalan nasional kan traffic-nya cukup tinggi. Dengan lewat sini bisa menghemat satu jam lebih kalau kondisi normal. Untuk kondisi mudik belum bisa diprediksi,’’ tuturnya di sela peninjauan jalur mudik di kawasan Batang, Minggu (11/6).

Di satu sisi, jalan tol baru ini begitu menjanjikan. Sayangnya, di sisi lain, kondisi jalan tol tersebut masih sebatas fungsional alias seadanya. Jangan harap jalan tol tersebut sudah seperti jalan tol umumnya. Teraspal dengan baik, dilengkapi pembatas jalan dan penerangan yang baik, rambu dan marka jalan yang baik, serta fasilitas layaknya tol lainnya. Tidak. Kondisinya memang masih serba minim.  Ruas tol baru dimulai dari Brexit. Para pemudik yang hendak melanjutkan perjalanan melalui tol baru akan bertemu pintu tol untuk pembayaran di mulut jalan tol baru. 

’’Mereka nanti tidak keluar di Brexit. Tapi di sini. Bayarnya pun di sini. Ini jadi loket pembayaran tol sebelumnya. Bukan bayat yang fungsional. Yang fungsional ini masih gratis,’’ kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam kesempatan memantau jalu mudik di kawasan Brebes, Sabtu (10/6). Secara fisik, jalan tol baru ini jauh berbeda dengan jalan tol yang sudah operasional. Belum ada aspal yang melapisi jalan. Hanya lean concrete sebagai pelapis sementara. Menurut Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani, lean concrete ini akan kembali dibongkar setelah arus balik selesai. 

’’Di beberapa titik ada yang dipertahankan karena level jalannya sudah pas. Tapi di beberapa titik lainnya akan dibongkar karena level jalannya belum pas,’’ terang Desi. Dampak dari level jalan yang belum semuanya pas ini, perjalanan menjadi penuh tantangan. Jalanan memang mulus, namun tidak rata. Terutama di bagian timbunan seperti jembatan dan gorong-gorong yang agak naik. Di sisi kanan dan kiri jalan pun masih banyak galian tanah merah yang bisa membahayakan saat diguyur hujan.

’’Ini juga akan jadi perhatian kami. Kami akan lakukan antisipasi agar tanah hang basah terkena hujan itu tidak masuk ke jalan,’’ jelas Herry. Pemudik juga harus benar-benar hati-hati dan memerhatikan kecepatan. Herry mengatakan, batas kecepatan aman dan nyaman di 40 kilometer per jam. Dengan kecepatan 40 kilometer per jam saja, Brebes-Weleri bisa ditempuh tidak sampai tiga jam. Namun, kecepatan terlalu tinggi bisa berisiko menimbulkan kecelakaan. Menurut Herry, dengan kondisi jalan yang masih seadanya itu, jika terjadi kecelakaan, jalan bisa stuck.

’’Untuk mengevakuasinya agak susah. Kami memang siapkan juga helikopter. Tapi sebaiknya memang tetap di kecepatan aman 40 kilometer per jam,’’ tambah Herry. Perjalanan siang melalui jalan tol baru terbilang lancar. Pencahayaan baik, batas jalan terlihat jelas, namun sayang, debu yang beterbangan sangat membahayakan pemudik. Debu bisa membatasi jarak pandang pengendara. 

Saat peninjauan jalan tol kemarin siang, debu yang beterbangan menutup pandangan ke kendaraan di depan. Sehingga pengemudi harus lebih hati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraan untuk menjaga jarak. Pada malam hari, perjalanan agak tersendat. Debu masih jadi kendala saat berkendara. Kendala lainnya adalah rambu jalan dan petunjuk arah yang tidak terlihat. Reflektor pada pembatas jalan juga tidak terlihat karena posisinya terlalu tinggi sehingga jatuhnya sorotan lampu kendaraan tidak mengenai reflektor/spotlight. Ini bisa membahayakan. Pemudik bisa keluar jalur karena tidak menyadari adanya pembatas jalan.

’’Ini akan menjadi catatan kita. Untuk debu, kami siapkan tangki untuk untuk menyeprot jalan agar bisa mengurangi debu,’’ katanya. Dirut PT JMSB (Jasa Marga Semarang-Batang),Saut Simatupang mengatakan, saat ini, debu-debu memang belum dibersihkan karena masih ada pekerjaan. Nantinya, akan ada pembersihan total. Debu-debu akan disapu. Jalanan akan disiram agar debu tidak beterbangan. Untuk reflektor/spotlight pada pembatas jalan, Basuki mengatakan, pihaknya akan melakukan penambahan. Saat uji coba Sabtu lalu, reflektor/spotlight hanya bekerja saat kendaraan menggunakan lampu jauh.

 

Ada 11 Tempat Istirahat

 

Para pemudik yang memilih untuk melewati jalur tol baru ini boleh bernafas lega. Di sepanjang 110 kilometer ruas tol tersebut disediakan 11 rest area sementara. Basuki mengatakan, rest area dibangun di setiap 10 kilometer jalan tol tersebut untuk memenuhi kebutuhan para pemudik. Herry menjelaskan, karena sifatnya sementara, rest area yang dibangun tidak mengikuti standar yang ada. Namun, tetep diusahakan bisa memenuhi kebutuhan dasar pemudik. Seperti toilet, mushala, restoran, minimarket, posko kesehatan, dan booth penjual BBM kemasan. Rest area di ruas tol ini rata-rata bisa menampung hingga 70-100 kendaraan. Tapi pemudik tidak boleh lama-lama. ’’Harus segera. Di situ kan harus mengalir. Nanti akan ada petugas yang mengatur,’’ kata Herry.

Hal lain yang menjadi catatan adalah sinyal ponsel yang tidak stabil. Di beberapa titik, sinyal bisa sampai bagus di jaringan 4G. Tapi di beberapa titik lainnya, sinyal akan betul-betul hilang. Herry menyadari aadanya permasalahan tersebut. ’’Ini memang agak-agak hilang. Ini akan segera kami komunikasikan dengan pihak operator,’’ ucap Herry.  Pemandangan berbeda terlihat di ruas tol Bawen-Salatiga. Jalan tol sudah berbentuk layaknya jalan tol. Tebing-tebing di kedua sisi jalan sudah rapi, marka jalan sudah diselesaikan, rambu-rambu dan reflektor pun sudah siap. Hanya di beberapa titik masih dilakukan finishing. Kendaraan berat pun masih ada di lokasi. H-10 nanti ditargetkan sudah tidak ada lagi pekerjaan fisik dan jalan tol layak untuk dilalui.

Tol yang menghubungkan Semarang dan Solo itu kondisinya sudah 99 persen. Basuki bahkan menyatakan bahwa selepas Lebaran, tol tersebut akan diuji kelayakan operasinya. ’’Setelah itu akan operasional,’’ kata Basuki. Gerbang tol Salatiga ini juga terbilang unik. GT ini diklaim sebagai gerbang tol paling indah di Indonesia. Saat kendaraan keluar lewat gerbang tol ini, akan ada pemandangan indah dari Gunung Merbabu yang bisa jadi saingan tol di Swiss.  Pemudik akan merasakan sensasi dan pemandangan berbeda tahun ini khususnya yang melewati Tol Semarang-Solo, seksi III Bawen-Salatiga.

Pemandangan Gunung Merbabu terlihat jelas di belakang GT Salatiga. Namun, pemandangan itu tidak akan selalu terlihat. Pagi dan sore saat tidak berawan jadi waktu yang tepat untuk melihat keindangan Gunung Merbabu dan memgambil foto. Tol Bawen-Salatiga ini nantinya akan disambungkan ke Solo. Saat ini, ruas tol Salatiga-Solo sepanjang 32 kilometer masih dalam tahap pengerjaan. Dirut Jasa Marga Desi Arryani mengatakan, pengerjaan ruas tol tersebut sempat terkendala pembebasan lahan. ’’Jadi baru sekarang bisa dikerjakan. Sekarang sudah masuk konstruksi. Tapi baru lima persen. Targetnya selesai akhir 2018,’’ kata Desi.

 

Stamina Tubuh dan Kendaraan Harus Oke

 

Lebaran sudah di depan mata. Waktunya bersiap mudik ke kampung halaman untuk bersilaturrahmi dengan keluarga. Lalu, sudah siapkah kita? Para pemudik harus bersiap penuh untuk menempuh perjalanan panjang menuju kampung halaman, baik itu yang mudik dengan angkutan pribadi, pesawat, kereta api, kapal maupun angkutan umum. Hal-hal yang perlu diperhatikan tentu saja mulai dari stamina tubuh hingga kendaraan. 

Bagi pemudik dengan menggunakan pribadi, banyak list to do yang harus dicermati betul jelang mudik nanti. Pertama, kondisi kendaraan. Pastikan melakukan pengecekan penuh pada kendaraan yang akan dibawa mudik, seperti kampas rem, kondisi ban dan lainnya.

Kedua, stamina tubuh. Bila kondisi tubuh tidak memungkinkan, disarankan tidak memaksakan diri. Pemudik juga wajib beristirahat usai mengemudi maksimal 8 jam. Ada banyak rest area dan parking bay yang disiapkan pemerintah yang dapat dimanfaatkan.

Bagi yang berniat menempuh perjalanan melalui jalan tol, pemudik disarankan untuk terlebih dahulu memiliki uang elektronik (e-money). Penggunaan alat pembayaran ini bisa lebih mempersingkat lama pembayaran di gerbang tol. Yang artinya, antrian panjang bisa dikurangi.

Tidak sulit untuk memperoleh alat pembayaran ini. Beberapa gerai minimarket sudah menjualnya. Banyak jenis yang bisa dipilih sesuai dengan bank yang digunakan. 

’’Emoney ini bisa mengurangi antrian di gerbang tol. Kalau manual bayar cash bisa memakan waktu 8-10 menit, dengan emoney bisa dipangkas. Cukup 3-5 detik,’’ tutur Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Pudji Hartanto, kemarin (11/6).

Selain itu, pastikan menyimpan nomor-nomor penting dan miliki aplikasi mudik. Ini akan sangat membantu ketika sudah diperjalanan.

Untuk urusan kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka hotline di nomor 119. Ada 3722 posko kesehatan yang disiagakan di 15 provinsi yang siap membantu kesehatan pemudik. Ada pula ambulance motor yang akan dioperasionalkan dalam jalur tol, bila pemudik sakit di tengah kemacetan. ’’Kami bekerja sama juga dengan Basarnas dan Kepolisian untuk menyiapkan helikopter bila situasi darurat,’’ ungkap Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek. 

Sedangkan, untuk arus lalu lintas, banyak aplikasi yang nanti bisa didownload oleh pemudik. Pasalnya, tahun ini pemerintah dan kementerian/lembaga terkait tengah berlomba-lomba meningkatkan jangkauan informasi arus mudik. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada minggu ini segera meluncurkan aplikasi "ayo mudik". Aplikasi ini dijanjikan bisa memandu pemudik untuk mengetahui kondisi uptodate arus lalu lintas sepanjang jalur mudik. Selain itu, disajikan pula informasi terkait titik-titik rest area dan SPBU terdekat.

Pihak Korlantas juga akan meluncurkan aplikasi serupa, bernama Intelegence Traffic Analisys (Intan). Kepala Korlantas Polri Royke Lumowa menjelaskan, aplikasi ini bekerja sama dengan google maps dan waze untuk memandu pemudik menuju jalur-jalur lengang. Ada juga petunjuk soal nomor penting, posko kesehatan dan SPBU terdekat. ’’Keunggulan aplikasi ini, nanti ada catatan-catatan yang kami berikan. Misalnya, 500 meter di depan ada kecelakaan. Sebaiknya dihindari dan sebagainya,’’ ungkap Royke. 

Dengan akses informasi yang baik soal arus lalu lintas ini, diharapkan pemudik bisa mengantisipasi jalu-jalur mana saja yang harus ditempuh. Sehingga, tak ada penumpukan panjang akibat kemacetan. Di sisi lain, Pudji turut menghimbau pemudik untuk menyiapkan perbekalan selama di jalan. Mulai dari permakanan, minuman hingga obat-obatan. Tak kalah penting, pemudik juga diminta untuk memastikan bahan bakar kendaraan dalam kondisi penuh dalam perjalanan. Meski, Pertamina akan menyediakan BBM dalam jurigen untuk menjangkau kendaraan yang terjebak kemacetan di sepanjang ruas tol Jakarta-Jawa Tengah. 

Pemudik juga harus pandai-pandai membaca kondisi untuk menentukan kapan waktu mudik. Kementerian Perhubungan telah merilis puncak arus mudik pada tiap-tiap moda angkutan. Moda angkutan darat, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-3 dan H-2 (23 dan 24 Juni). Sedangkan untuk angkutan udara dan laut diprediksi pada H-3 atau 23 Junia 2017. ’’Karenanya diimbau untuk tidak bersama-sama. Pada H-3 malam itu, volume kendaraan dipastikan sangat padat. Jadi kalau bisa, kalau bisa libur lebih cepat, bisa langsung mudik,’’ tutur Mantan Kapolda Sulawesi Selatan itu. 

Untuk angkutan roda dua, Pudji menegaskan, penggunaannya diperbolehkan. Dengan catatan, penggunaannya sesuai aturan. Pengemdi dilarang keras berboncengan tiga, meski penumpang ketiga adalah anak-anak. Bila hal itu dilanggar, Pudji mengaku telah berkoordinasi dengan Korlantas untuk menindak tegas. ’’Pemudik juga harus sering beristirahat karena pengguna roda dua mudah lelah. Ada jembatan timbang yang difungsikan sebagai rest area. jadi bisa dimanfaatkan,’’ jelasnya.

 

 

Jangan Hanya Andalkan Tol

 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadomuljono mengimbau para pemudik untuk tidak menjadikan jalan tol fungsional sebagai satu-satunya jalur mudik. Dia mengingatkan masih ada jalur pantai utara (Pantura) dan pantai selatan (Pansela) yang bisa dilalui para pemudik. ’’Kondisinya pun baik. Jalan tol fungsional ini menambah alternatif mudik. Jangan dijadikan satu-satunya,’’ kata Basuki.

Jalur jalan nasional Pantura, kata Basuki, sudah sangat baik. Tidak ada lagi lubang yang akan membahayakan para pemudik. Namun, masih ada beberapa titik macet. Salah satunya pasar tekstil Tegalgubug di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Basuki mengatakan, pasar sandang terbesar se-Asia Tenggara itu merupakan pemicu kemacetan. ’’Dua tiga kali lewat sini selalu berhenti waktu hati pasaran. Saya sudah telpon Kakorlantas dan beliau bilang H-4 pasar akan ditutup. Sampai kapannya, nanti mengikuti H plus sekian,’’ katanya.

Basuki menjelaskan, jika pasar terus dibiarkan buka saat musim mudik tiba, pemudik akan tersendat memasuki kawasan tersebut sehingga perjalanannya menjadi tidak nyaman. Padahal, kata Basuki, jalur arteri Pantura ini merupakan jalur mudik utama yang akan mendampingi jalan tol. ’’Jalan Pantura ini bukan sekadar jalan alternatif. Ini juga menjadi jalan utama. Ada dua lajur arteri dan dua lajur tol untuk mudik,’’ terangnya.

Kondisi kemacetan akibat Pasar Tegalgubug itu cukup parah. Terutama saat hari pasaran tiba. Pasar dengan 6.000 pedagang itu kerap memakan badan jalan. Berasarkan pantauan, tidak sedikit pedagang yang berjualan di bahu jalan dan memarkir kendaraan mereka di badan jalan. Dengan kondisi seperti itu, dua lajur jalan yang harusnya bisa dimanfaatkan terpaksa berkurang satu. Untuk mengatasi kemacetan tersebut, pihak kepolisian membuat rekayasa lalu lintas contraflow dengan mengambil lajur seberang untuk bisa dilewati pengguna jalan.

Pihak terkait seperti pengelola pasar dan pihak kepolisian terkesan membiarkan kendaraan-kendaraan yang memakirkannya di badan jalan karena kejadian tersebut terus berulang. Demi kenyamanan para pemudik, Basuki memastikan bahwa pasar tersebut akan ditutup total pada H-4 Lebaran atau Rabu (21/6). Itu artinya bahwa pada H-4, tidak akan ada lagi aktivitas perdagangan di pasar seluas lebih dari 30 hektare itu.

Titik kemacetan lain adalah perlintasan kereta api. Setiap harinya terdapat 90 kali perlintasan kereta api. Setiap melintas, dibutuhkan waktu sekitar lima menit. Jika dikalikan, dalam sehari, setidaknya akan ada penutupan jalan karena perlintasan kereta selama 7,5 jam. 

Ketika arus mudik, terjadi peningkatan perlintasan kereta api menjadi sekitar 97 kali per hari atau lebih dari lebih dari 8 jam pemberhentian dalam sehari. Untuk menghindari kemacetan karena perlintasan kereta api, Basuki ngebut membangun flyover. Empat flyover yang sedang dibangun bisa dilalui pemudik mulai H-10 atau 16 Juni mendatang. Yakni flyover Dermoleng, Klonengan, Kesambi, dan Kretek.

Basuki mengakui bahwa banyak pihak yang pesimis keempat flyover itu bisa  dilalui seperti janjinya. Namun, setelah melihat langsung progresnya, Sabtu (10/6), Basuki makin yakin keempat flyover itu bisa digunakan. Basuki mengatakan, kehadiran flyover itu sangat krusial dan akan membantu mengurangi kemacetan saat melewati perlintasan kereta api seperti yang selama ini terjadi. Hadirnya flyover juga bisa mereduksi kemacetan hingga 30 persen. (and/mia)

Komentar telah ditutup.