Kamis, 20 September 2018 11:51 WIB
pmk

Rapat Kebijakan Moneter Bank Indonesia Menjadi Fokus Perhatian

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, risiko peristiwa utama untuk Rupiah Kamis ini adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diprediksi tidak akan mengubah suku bunga di bulan Juni.

Sentimen terhadap Indonesia terus meningkat di tahun 2017 dengan semakin stabilnya data ekonomi. Inflasi juga terus membaik dan keyakinan konsumen mencapai rekor level tertinggi di bulan Mei.

”Walaupun BI mungkin tetap mengambil posisi berhati-hati di jangka pendek, masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga BI sebelum akhir tahun apabila keadaan ekonomi semakin membaik,” kata Lukman.

Berfokus pada valas, menurutnya USDIDR tetap volatil pada grafik harian menjelang keputusan suku bunga.Bulls jangka pendek mungkin akan memanfaatkan IDR yang melemah saat ini untuk mengantarkan kurs ke 13320.

Lukmat melihat, pasar finansial benar-benar terkejut pada akhir perdagangan hari Rabu karena Federal Reserve mengambil posisi yang sangat hawkish dan bahkan menampilkan optimisme tentang pertumbuhan ekonomi walaupun kekhawatiran yang semakin tinggi mengenai inflasi yang lemah.

”Investor memperkirakan nada berhati-hati dari Fed, dan ternyata justru mendengar niat kuat untuk terus memperketat sebagai respons jumlah penduduk bekerja dan di saat yang sama mengakui periode inflasi lemah yang berkepanjangan tahun ini,” kata Lukman.

”Walaupun kejutan hawkish ini mengangkat USD untuk sementara, pasar tidak mempercayai optimisme ini karena ekspektasi kenaikan suku bunga lagi di tahun 2017 saat ini di bawah 50 persen,” katanya.

Intinya, kata Lukman, sepertinya ada ketidaksesuaian antara apa yang diantisipasi pasar dan apa yang disinyalkan oleh Fed. Investor butuh lebih diyakinkan mengenai kemampuan Fed untuk meningkatkan suku bunga lagi.

Persuasi ini dapat berupa data ekonomi yang membaik, tapi sementara ini Indeks Dolar tetap tertekan di grafik harian dan apabila semakin melemah dapat membuka jalan menuju 96.50.

Sedangkan kondisi pasar minya, Lukmat melihat bahwa minyak mentah WTI terekspos pada penurunan tajam di hari Rabu. Dan sesi hari Kamis pun dilanda aksi jual setelah peningkatan persediaan BBM yang lebih besar dari ekspektasi memicu ketakutan pada oversuplai.

”Semakin jelas bahwa walaupun OPEC berupaya keras untuk menyeimbangkan kembali pasar yang telah jenuh ini dengan memangkas produksi, masalah oversuplai global tetap berlanjut dan menekan trading minyak,” katanya.

”Aksi harga minyak mentah WTI yang bearish menyiratkan bahwa mereka yang tadinya sangat bullish terhadap komoditas ini mungkin mulai ragu, sehingga peningkatan harga mungkin terbatas. Saya meyakini bahwa sentimen terhadap minyak tetap sangat bearish dan akan semakin tergelincir karena masalah oversuplai menjadi alasan bagi penjual untuk menyerang tanpa ampun,” paparnya.

Emas kembali menghadapi tekanan jual pada hari Rabu setelah Fed memberi kejutan hawkishkepada pasar. Perlu diperhatikan bahwa logam mulia ini tetap diatur oleh ekspektasi suku bunga AS dan berisiko semakin melemah apabila spekulasi tentang kenaikan suku bunga Fed semakin tinggi.

”Walaupun emas saat ini tertekan, penghindaran risiko terkait perkembangan Brexit dan ketidakpastian politik AS masih mungkin mengangkat harga. Dari sudut pandang teknikal, prospek harian emas tetap bullish selama harga tetap berada di atas USD1260,” tutupnya. (wsa)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #bank-indonesia #moneter #fxtm 

Berita Terkait

BI Yakin Mampu Lewati Tekanan terhadap Rupiah

Headline

Anies Senang BI Permudah DP Rumah

Jakarta Raya

IKLAN