Megapolitan

Demi Air, Warga Rela Jalan Kaki 2 Km

Redaktur:
Demi Air, Warga Rela Jalan Kaki 2 Km  - Megapolitan

AIR BANTUAN: Puluhan warga Desa Sirnajati dan Ridhogalih, Kecamatan Cibarusah rebutan untuk mendapatkan air bersih yang dibagikan BPBD Kabupaten Bekasi, Kamis (24/8).

INDOPOS.CO.ID - Dampak kekeringan di tiga desa di Kecamatan Cibarusah mulai memprihatinkan. Bahkan kondisi aliran Kali Irigasi yang selama ini jadi andalan warga mendapatkan air mulai mengering. Kini warga harus berjalan kaki hingga 2 kilometer (km) demi mendapatkan air dari Kali Cipamingkis.

”Semua sumur warga mengering. Karena Kali Cihoe juga sudah mulai mongering maka kami beralih ke Kali Cipamingkis. Masalah ini terjadi karena tidak ada hujan,” terang Suhatmi, 45 warga Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Sekarang ini sebagian warga, kata Suhatmi juga, hanya mengandalkan air dari galian bebatuan yang ada di pinggir Kali Cipamingkis. Namun, agar bisa sampai ke kali, dia harus berjalan sejauh 2 km. ”Saya jalan kaki karena hanya disini bisa mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya juga.

Meski begitu, Suhatmi mengaku, pilihan mencari air tidak hanya di Kali Cipamingkis. Menurutnya, ada sebagian warga yang masih memilih mencari air dari kolam artesis buatan pemerintah daerah. ”Sama juga mereka harus berjalan kaki ke sumber air yang ada di kolam artesis,” jelasnya.
                Dia juga mengaku, lokasi dimana akan didatangkan warga asal ada air yang bisa diambil untuk kepentingan sehari-hari. ”Air kan kebutuhan utama,” cetusnya. Menurut Suhatmi, kekeringan ini memang kerap terjadi kala musim kemarau tiba.”Kejadiannya terus berulang. Tiap musim kemarau sudah pasti kesulitan air,” ungkapnya juga.

Sebenarnya, sudah ada upaya Pemkab Bekasi membuat kolam artesis meski satu unit saja. Begitu juga pembuatan Water Traetmen Plant (WTP) untuk PDAM setempat yang lantas disalurkan melalui pipanisasi untuk warga yang kerap dilanda kekeringan setiap musim kemarau. Namun, hingga kini air PDAM yang berbayar itu belum bisa beroperasi.

Sementara itu, Ketua RT 02/01, Kampung Ciketuk, Desa Sirnajati, Rohman Gobel mengatakan warga sudah terlalu lama mengalami kekeringan. Sehingga aktivitas mereka jadi terganggu. ”Karena kalau sudah malam hari mereka mencari air. Kalau kejadian ini sampai satu bulan diperkirakan sumber air kering semua,” terangnya.

Terpisah, Camat Cibarusah, Abdul Iman mengaku, sebenarnya sejak tahun 2013 pemerintah daerah sudah membuat 8 kolam artesis. Pembuatan kolam itu untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan. ”Tapi dari 8 kolam, hanya tiga kolam yang masih ada airnya. Sisanya kering,” terang Iman.

Ketiga kolam artesis yang masih dalam kondisi baik itu, kata Iman juga adalah kolam artesis di Kampung Gempol, kolam artesis di Kampung Bedeng, dan kolam artesi di kantor Desa Ridhogalih. Tapi kini, kondisi air di tiga kolam artesis itu pun sekarang ini sudah mulai susut.

”Memang tidak semua warga ambil air dari kolam artesis. Karena masih ada warga yang memanfaatkan air kali seperti warga di Kampung Korod dan Cihanjuang untuk mendapatkan air,” katanya. Untuk membantu warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengirimkan air.

Sejak kemarin (25/8), kiriman air sebanyak dua mobil tangki milik BPBD diterjunkan ke lokasi kekeringan. Masing-masing tangki berkapasitas 4.500 liter. Tapi bantuan air bersih itu baru menyentuh dua desa yakni Desa Ridhogalih dan Desa Sinarjati. (dny)

TAGS

Berita Terkait

Nusantara / Kekeringan Masih Melanda Ngawi

Nusantara / Warga Berburu Air di Lereng Jurang

Banten Raya / Kemarau, Ratusan Hektare Lahan Pertanian Menganggur

Nusantara / Dampak Kekeringan, Minum Air Sungai

Banten Raya / Penggarap Lahan Kering Lebak Butuh Alsintan


Baca Juga !.