Nusantara

Gerabah Ditinggal Generasi Muda, karena Tak Telaten dan Takut Kotor

Redaktur:
Gerabah Ditinggal Generasi Muda, karena Tak Telaten dan Takut Kotor - Nusantara

TETAP BERTAHAN: Samini (baju putih) membuat gerabah di rumahnya, Senin (11/9).

INDOPOS.CO.ID - Membuat pot dan panci dari tanah liat bukan perkara mudah. Butuh ketelatenan dan keahlian membentuk tanah liat yang lembek bisa berbentuk. Seperti Samini, warga Kates, Kauman, Tulungagung, Jatim, yang masih melestarikan kerajinan tanah liat.

MEIDIAN DONA DONI, Tulungagung

Udara dingin menyapu kulit pagi itu hingga membuat bulu kuduk merinding. Namun sangat menyegarkan, sebab udara bercampur dengan uap air yang keluar dari pohon besar-besar. Juga di sisi jalan terhampar luas sawah dengan padi yang masih hijau. Sungguh pemandangan pedesaan yang masih terjaga.

Melewati jalan yang agak mendaki ke bukit yang cukup tinggi. Serta melewati jalan yang masih makadam belum diselesaikan pengaspalannya. Datanglah ke sebuah rumah yang sampingnya terdapat sebuah gubuk kayu yang luas tak bertembok. Ketika didatangi rumah tersebut sepi tak ada orang. Di gubuk ada beberapa orang. Terdapat dua ibu-ibu berumur tua beserta pemilik rumah tersebut Samini. Ketika didatangi mereka sedang serius memutar tanah liat di sebuah alat bernama perbol.

“ Ini kami sedang membuat pot dari tanah liat. Memang setiap hari selalu begini mengutek-ngutek tanah liat dibentuk menjadi pot, kendi, cuwek, dan panci tradisional atau biasa disebut gerabah,” ungkap Samini.

Menurut dia, dahulu memang di desanya banyak pembuat gerabah. Sekarang kerajinan gerabah tersebut mulai ditinggalkan warga hingga hanya dirinya masih bertahan. Hal tersebut disebabkan pembuatan yang rumit dan juga membutuhkan waktu lama.

“Pertama kita mencari tanah liat di persawahan. Lalu kita membentuknya dengan diputar dan dibentuk dengan tangan kosong. Itu butuh waktu lama juga perlu dibakar agar gerabah tahan terhadap air dan api,” jelas perempuan berusia 58 tahun tersebut.

Proses yang sulit tersebut mulai ditinggalkan warga. Generasi muda pun tak mau meneruskan pekerjaan membuat gerabah yang orang tua mereka warisi. Alasan generasi muda, karena tak telaten dan juga tak mau bergelut berkotor-kotoran dengan tanah liat alias takut kotor.

“ Mulai lima tahun lalu banyak warga sini yang meninggalkan kerajinan gerabah ini. Mereka yang pensiun dari kerajaan ini telah beralih pekerjaan. Tapi biasanya mereka mengirim gerabah belum matang yang dijual ke saya yang tinggal dibakar hingga menjadi gerabah jadi,” jelas ibu dua anak ini.

Kini yang menjalankan kerajinan tersebut hanya terdiri atas ibu-ibu tua. Para ibu-ibu tersebut membentuk tanah liat lalu dia jual ke Samini. Tanah liat yang dijual tersebut sudah berbentuk pot, guci, cuwek atau panci tapi masih lunak (gerabah belum matang) karena belum dibakar. Gerabah belum matang tersebut dibeli Samini senilai Rp 3 ribu per buah. Lalu setelah dibakar dan menjadi keras (gerabah sudah matang) dia jual berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu per buah.

“ Sebenarnya labanya banyak tapi ya itu prosesnya lama. Mulai membentuk tanah liat itu lama per hari hanya jadi sekitar 15 hingga 20 buah. Apalagi kalau cahaya redup dan hujan karena tidak bisa menjemur tahan liat yang baru saja dibentuk,” katanya.

Dia mengeluhkan ketika ada pesanan banyak, tapi tenaga kurang. Hal itu membuat dirinya harus bekerja hingga berhari-hari. Dia berharap ada pihak yang membantu melestarikan kerajinan ini karena merupakan tradisi turun-temurun.“Pesanan banyak dari luar kota seperti Blitar dan Kediri juga memesan ke saya. Pernah memesan tiga ribu buah pot dan kami kekurangan tenaga. Dan terpaksa saya tolak,” pungkasnya. (and/jpg)

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.