Nusantara

Nur Kholis, Jasa Kawinkan Kambing tanpa Suntik

Dulu Punya 40 Pejantan Unggul, Kini Tinggal 13 Ekor

Redaktur:
Nur Kholis, Jasa Kawinkan Kambing tanpa Suntik - Nusantara

TETAP BERTAHAN: Nur Kholis saat memegang kambing PE yang disiapkan dikawinkan.

INDOPOS.CO.ID - Mendapatkan kambing peranakan unggul umumnya didapat dari kawin suntik. Nur Kholis mempunyai cara berbeda, tanpa menggunakan suntik. Warga Setono Kalong,  Bendiljati Wetan, ini memiliki jasa mengawinkan kambing secara langsung. Kambing pejantan dibawa ke kambing betina untuk dibuahi secara alami.

MEIDIAN DONA DONI, Tulungagung

Suasana desa sangat kental di Bendiljati, Sumbergempol, Sumbergempol, Tulungagung, Jawa Timur. Banyak pohon-pohon besar di sisi jalan. Dan rerumputan tumbuh segar di bawah pohon-pohon. Kiri dan kanan jalan terlihat gubuk-gubuk kandang kambing dan sapi. Warga desa ini tampaknya banyak yang menjadi peternak.

Setelah melewati jalan yang belum selesai dan berdebu. Tiba di sebuah rumah besar dengan halaman luas. Ketika koran ini mencari pemilik rumah ini datang seorang pria separo baya memakai kaus oblong dan bercelana pendek.

Pria tersebut adalah Nur Kholis. Dia mengatakan, kalau pekerjaannya adalah sebagai jasa kawinkan kambing. Seseorang peternak kambing yang menginginkan kambingnya memiliki peranakan bagus pasti datang meminta bantuan darinya. Dia akan mencarikan bibit unggul seperti konsumen inginkan.“Namun saya berbeda, saya membawa kambing pejantan milik saya untuk saya bawa ke kambing betina di rumah pemesan. Dan pembuahan secara alami yaitu kambing dibiarkan kawin sendiri,” ungkap pria 52 tahun tersebut.

Menurut dia, sistem pengawinan kambing secara cara langsung ini mempunyai kelebihan dibanding sistem suntik. Pada sistem suntik sering terjadi kegagalan disebabkan sel sperma mati terlebih dahulu sebelum disuntikkan. Sebab, disimpan terlebih dulu di tabung dalam jangka waktu cukup lama. Selain itu, rahim kambing lebih kecil, sehingga jika petugas kurang ahli suntikan akan meleset dan tak terjadi pembuahan.“ Saya rata-rata sehari ada sekitar enam kambing yang minta untuk dikawinkan. Saya tinggal bawa kambing-kambing saya menggunakan pikap ke rumah pemesan,” ujar suami Siti Fatimah tersebut.

Saat ini dia mengaku memiliki 13 ekor kambing pejantan. Kambing-kambing tersebut ada yang peranakan etawa (PE), kambing hitam putih, dan kambing jawa merah. Pemilik tinggal memilih jenis kambing mana yang diinginkan dengan memesan melalui pesan singkat atau telepon. Sedangkan harga pengawinan per ekor kambing Rp 50 – 60 ribu, tergantung bibit kambing yang diminta. “Tapi saat ini sudah agak sepi pesanan. Kalau dulu awal buka bisnis ini saya punya 40 kambing indukan unggul. Banyak pesanan hingga bisa buat membangun rumah dan beli mobil,” kata Ayah dari Khorul Rosidah.

Untuk perawatan kambing pejantan juga mudah. Sebab, kambing-kambing ini hampir segala jenis makanan dimakan. Makanan utama kambing-kambing ini cukup diberi sentrat dicampur kulit ari dari selipan kacang dan kedelai. Sedangkan suplemen tambahannya adalah vitamin B kompleks dan mineral dari toko peternakan.

Sedangkan kesulitan yang kerap dia alami adalah kegagalan dari proses pengawinan. Kebanyakan disebabkan peternak tidak tahu kalau kambingnya  tidak sedang birahi. Sehingga tak terjadi pembuahan karena sel telur tak dilepaskan. “Biasanya saya suruh peternak memberi makan kambingnya dengan capar yang kecil-kecil dulu baru menghubungi saya. Biar kambing betinanya siap kawin,” jelas pria yang sebelumnya bekerja sebagai perajin mebel itu.

Saat ini dia melayani di wilayah hampir seluruh Tulungagung. Di antaranya area Rejotangan, Kalidawir, Campurdarat, dan yang terjauh di Ngantru. “Dulu pernah sampai luar kota. Sekarang sudah  banyak yang ikut-ikut. Sebab, usaha ini banyak untungnya karena jenisnya jasa tidak ada barang yang hilang,” tutupnya. (and/jpg)

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.