Rabu, 26 September 2018 04:16 WIB
pmk

Tekno

Raja Berita Hoax Amerika Tewas Di Kamar, Ini Penyebabnya

Redaktur:

MENDIANG: Paul Horner. (Screen-shoot CNN via BBC)

INDOPOS.CO.ID – Seorang penulis yang dilabeli raja hoax Amerika Serikat meninggal dunia. Lelaki 38 tahun itu ditemukan tewas karena overdosis di kamarnya di Laveen, Arizona, Kamis (28/9). Paul Horner, secara terang-terangan mengaku sudah menjual berita hoax selama kampanye pemilihan AS 2016.

Horner, yang menerbitkan artikel palsu itu via Facebook dan situs web yang dia siapkan, mengklaim bahwa dia adalah alasan Donald Trump terpilih sebagai presiden pada November tahun lalu.

Berita-berita yang dihasilkan Horner memang bikin tercengang. Misalnya, klaim palsu yang menyebut kalau mantan Presiden Barack Obama adalah seorang gay dan seorang Muslim radikal.

Berita-berita hoax itu pun jadi serbuan bagi pendukung Trump. Anak lelaki Trump, Eric, dan manajer kampanye Corey Lewandowski, bahkan memposting salah satu berita hoax Horner tentang demonstran yang mengaku dibayar USD 3.000 untuk melawan kandidat Partai Republik. Tetapi Horner membela karyanya sebagai politik satir. Bukan berita hoax.

Seorang juru bicara dari kantor sheriff Maricopa County, Mark Casey, mengkonfirmasi kematian tersebut. ”Hasil otopsi tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan,” katanya.

Casey mengatakan Horner memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan terlarang. ”Bukti di tempat kejadian menunjukkan bahwa ini bisa menjadi overdosis yang tidak disengaja,” sambungnya.

Saat diwawancarai The Washington Post pada November, Horner mengatakan kalau dia merasa Trump berada ada di Gedung Putih karena jasanya. ”Situs saya diambil oleh pendukung Trump sepanjang waktu. Pengikutnya tidak pernah memeriksa apa pun. Mereka akan memposting semuanya, percaya apa saja,” katanya. (tia/BBC/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #raja-hoax-amerika #paul-horner #berita-palsu #akun-palsu #facebook 

Berita Terkait

Facebook Bekukan AkunPendukung Genosida

Internasional

Izin Facebook Terancam Dicabut Sementara

Nasional

Kominfo: Harus Punya Alternatif Blokir Facebook

Nasional

IKLAN