Tingkatkan Layanan Pariwisata, Kaltara Bekali Tour Guide Ilmu Teknis

INDOPOS.CO.ID – Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tak mau ketinggalan membangun industri pariwisata. Berbagai cara dilakukan untuk menggairahkan pariwisata di provinsi termuda di Indonesia itu.

Salah satunya dengan menggelar bimbingan teknis pemandu wisata atau tour guide di salah satu hotel di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, 26-28 September.

Pelatihan diberikan kepada pemandu wisata, pelaku usaha travel, perhotelan, media, dan restoran se-Kaltara.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kaltara Saiful Bahri mengatakan, kegiatan itu sangat penting untuk meningkatkan mutu layanan kepada wisatawan.

Baca Juga :

"Pramuwisata kabupaten/kota se-Kaltara harus bisa sejajar dengan pramuwisata di daerah-daerah lain yang sudah tergolong maju dan mendunia," ucap Saiful.

Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Kepala Seksi Kemitraan dan Standar Usaha Wisata Kaltara Gun Kila menjelaskan, kegiatan itu memiliki arti sangat penting bagi industri pariwisata. "Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendorong pariwisata di Kaltara lebih maju lag,” ujar Gun Kila.

Para peserta bimbingan teknis pun menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menyadari kegiatan itu sangat membantu dalam meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan.

"Dengan mengikuti bimbingan ini kami jadi tahu hal apa yang boleh kami lakukan dan yang tidak boleh kami lakukan," ujar Rani Agustini (29), peserta dari Dinas Pariwisata Kota Tarakan.

Di sisi lain, Kepala Seksi (Kasi) Analisis Pasar Strategi dan Komunikasi Dinas Pariwisata Provinsi Kaltara Agustian Arsyad mengatakan, jumlah pemandu wisata di Kaltara belum terdata dengan lengkap.

Namun, masing-masing kabupaten dan kota sudah mempunyai pemandu wisata. “Pemandu wisata saat ini belum ada yang mempunyai sertifikat sehingga belum bisa dikatakan pemandu wisata yang profesional,” ujar Agustian.

Menurut dia, menjadi pemandu wisata profesional tidak sesulit yang dibayangkan. Agustian menambahkan, pemandu wisata harus memiliki wawasan dan cara berkomunikasi yang bagus kepada wisatawan.

“Pemandu wisata ini dari mana pun bisa sepanjang dia mempunyai kemampuan mengetahui dan bisa menceritakan tentang destinasi wisata setempat. Apakah itu wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, dan lainnya,” tambah Agustian.

Kegiatan tersebut tak hanya berhenti di bimbingan teknis. Ke depan, Pemprov Kaltara akan membentuk asosiasi pemandu wisata.

Asosiasi itu dianggap penting karena bisa menjadi tempat saling berbagi informasi, menjaga profesi, dan menjaga etika pemandu wisata.

“Menurut saya ini sangat penting karena pemandu wisata ini adalah sebuah profesi yang mempunyai tanggung jawab besar. Sebab, sesungguhnya profesi ini menjadi citra daerah kami,” jelas Agustian.

Selain itu, ada gagasan membentuk forum bernama Pena Biru. Forum itu berisi kumpulan jurnalis yang peduli tentang pariwisata.

Forum Pena Biru akan melakukan beberapa kegiatan seperti diskusi tentang pariwisata, tour wisata, mengeksplorasi tempat wisata, dan membuat artikel objek wisata.

“Melalui wadah ini nanti kami dorong teman-teman media untuk menulis tentang kepariwisataan. Paling tidak masing-masing itu mampu menyajikan informasi tentang kepariwisataan,” jelas Agustian.

Dia berharap kegiatan itu memberi nilai manfaat dan mengangkat pariwisata di Kaltara. Menurut Agustian, Kaltara memiliki banyak modal untuk membangun industri pariwisata.

“Saya berharap semua pihak selalu menjaga citra pariwisata di Kaltara dengan tidak menyampaikan informasi-informasi yang membuat para wisatawan menjadi tidak nyaman dan enggan untuk kembali datang ke Kaltara,” ujar Agustian.

Di Rakornas III Kemenpar yang dilangsungkan di Bhirawa Assembly Ballroom, Hotel Bidakara, Jakarta 26-27 September 2017, ada usulan menarik dari Kaltara. Yakni penambahan TPI Tempat Pemeriksaan Imigrasi di perbatasan dengan Malaysia. Agar bisa mengembangkan crossborder tourism di sana.

Menpar Arief Yahya memang sedang menggalakkan Crossborder Festival di banyak destinasi perbatasan. Seperti Atambua, Aruk, Sambas, Entikong, dan lainnya. (ags)

Komentar telah ditutup.