Ancaman Banjir, Pejabat Mulai ‘Kalang Kabut’

INDOPOS.CO.ID – Curah hujan di Jakarta mulai meningkat dalam sepekan terakhir. Diprediksi, puncaknya terjadi antara Oktober-November 2017. Untuk mengantisipasi ancaman banjir, sejumlah pimpinan wilayahpun terus bekerja melakukan pembenahan. 

Salah satunya diungkapkan Camat Matraman, Jakarta Timur Achmad Salahudin, yang sudah melakukan pemetaan titik banjir, serta pengerukan saluran air. Pihaknya juga mengerahkan petugas dan berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk membenahi daerah rawan banjir.

Baca Juga :

Antisipasi Luapan Kali Grogol

"Ada puluhan petugas yang setiap hari bekerja mengeruk lumpur, membongkar bangunan di atas saluran, membuat sodetan di titik banjir serta membuang sampah dari sungai. Sehingga wilayah kami sejauh ini siap mengantisipasi musim penghujan," ujar Salahudin, Jumat (29/9).

Salahudin mengatakan, wilayahnya dilewati oleh Kali Utan Kayu yang membentang beberapa kilometer. Di beberapa titik kali tersebut rawan meluap dan menggenangi pemukiman warga. Namun sejauh ini titik-titik rawan luapan itu terus dibenahi. "Sehingga masyarakat diharapkan tidak khawatir," ucap dia.

Lebih lanjut kata dia, pihaknya menghimbau masyarakat untuk ikut memperhatikan kebersihan lingkungan masing-masing. Tidak diperbolehkan membuang sampah dan menutup saluran air dengan bangunan. "Selain itu masyarakat juga harus rutin melakukan kerjabakti membersihkan lingkungannya," tegas dia.

Ka‎sudin Tata Air Jakarta Barat Imron mengungkapkan, musim penghujan yang diprediksi datang Oktober nanti telah diantisipasi. Salah satunya dengan melakukan normalisasi di beberapa titik kali, seperti Kali Grogol, Kali Pesanggrahan, dan Kali Smongol. 

Baca Juga :

Pada beberapa titik itu, kata Imron, pihaknya ‎menurunkan beberapa alat berat untuk melakukan pengerukan dan pembuangan lumpur. Sementara pada beberapa saluran di lingkungan, pembenahan dilakukan dengan membuat penghubung.

Langkah ini dilakukan untuk membuat aliran air menjadi lancar alias bebas sumbatan. "Saluran air itu kita bikin atasanya portable. Artinya bisa dibuka tutup apabila sewaktu-waktu terjadi bencana," jelas dia.

Selain dari pihak Sudin Tata Air, pembenahan terhadap ‎persiapan musim hujan juga dilakukan di sejumlah kecamatan. Rapat dengan para lurah terus dilakukan untuk membahas penanganan saluran air yang tersendat. 

Camat Taman Sari, Firman Ibrahim, mengatakan pihaknya telah menyiapkan saluran air untuk mempelancar arus air. Pembenahan dilakukan terhadap kawasan pemukiman yang kerap kali menimbulkan banjir.  

Kemudian, pihaknya telah meminta kepada seluruh lurah untuk melakukan pemetaan wilayah. Titik rawan harus banjir dipantau demi menjaga warga agar tak terkena musibah. "Di gudang kami juga mendapatkan karung karung pasir. PPSU kami tebar untuk melakukan pembenahan saluran dan pengangkutan sampah," ucapnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat akan memanggil seluruh pemilik utilitas (kabel di jaringan bawah tanah) di ibu kota untuk menghadapi musim penghujan. Penataan trotoar harus dibarengi dengan penataan utilitas agar tidak membahayakan masyarakat.

Djarot mengatakan, untuk menghadapi musim penghujan pihaknya sudah meminta Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Dinas Kehutanan dan Dinas terkait lainnya, untuk mengecek semua saluran air, tali air, penopinan pohon, dan sebagainya. 

Pekan depan, Djarot merencanakan memanggil dan mengumpulkan penyedia utilitas di Jakarta untuk membuat komitmen bersama melakukan penataan utilitas. "Semua utilitas kami minta dimasukkan ke dalam ductin yang sudah dibuat dalam penataan trotoar. Semua harus berkomitmen memindahkanya ke ducting. Jadi tidak ada lagi korban ketika hujan tersengat kabel," kata Djarot.

Djarot mengatakan, genangan yang muncul pada saat hujan Rabu (27/9) lalu menjadi bahan evaluasi untuk menghadapi musim penghujan yang sesungguhnya. Menurutnya, genangan tersebut akibat tersumbatnya saluran air dan tali air.

Untuk itu, dia meminta pengecekan saluran dan tali air dilakukan secara rutin. "Genangan yang terjadi itu bagus buat kita. Ini persiapan menghadapi musim hujan yang sesunguhnya," tandasnya.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Pemantau Jakarta (LPJ) Asep Setiawan menuturkan, lumrah bila seluruh pejabat menunjukkan kinerjanya kepada masyarakat. Meski demikian, hal itu harus dilakukan secara rutin selama menjabat.

“Jangan sampai para pejabat berbondong-bondong mengungkapkan kerjanya ke publik lantaran ingin dilihat oleh gubernur dan wakil gubernur yang akan dilantik pada pertengah Oktober 2017. Itu namanya ‘cari muka’ dong,” pungkas Asep. (wok)

Komentar telah ditutup.