BNN Bakar Tiga Ladang Ganja

INDOPOS.CO.ID – Menjelang tutup tahun, peredaran ganja ke perkotaan, termasuk Jakarta belakangan ini kian meningkat. Hal itu dikarenakan di sejumlah ladang ganja tengah panen raya. Nah untuk menutup mata rantai peredaran barang haram tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggalakkan operasi pemusnahan ladang ganja di tengah hutan.

Kali ini, sasaran ladang ganja di kawasan Pegunungan Tor Sihite, Desa Rao Rao Panjaringan, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), Senin (9/10).

Operasi gabungan dipimpin Tim Pemberantasan BNN Pusat yang terdiri dari Kombes Pol Drs Atrial, Kombes Pol Ghiri Prawijaya Sik Mth, Kasubdit Narkotika Alami Kombes Pol Anggoro Sukartono Sik MH, Kombes Pol Arief Dimjati, Kombes Pol Johansen Ronald Simamora Sik, AKBP Budi Santoso dari Propam Mabes Polri beserta 20 personel BNNK Madina, 32 personel Polres Madina, 10 pers, dan Kodim 0212/Tapanuli Selatan (TS) lima personel.

Kombes Pol Ghiri Prawijaya Sik Mth mengatakan, dalam operasi ini ditemukan tiga titik ladang ganja masing-masing seluas sekitar satu hektare (ha) di ketinggian sekitar

1.004 mdpl (meter di bawah permukaan laut). ”Ladang ganja itu ditanami sekitar 2.000 batang pohon ganja,” jelasnya.

Ghiri menambahkan, untuk mencapai lokasi ladang ganja tersebut, tim gabungan harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam pulang-pergi (PP) dengan berjalan kaki menembus belantara hutan dan semak. ”Tim berangkat sekitar pukul 08.00 WIB dan  kembali sekitar pukul 18.00 WIB,” ujarnya.

Kepala BNNK Madina AKBP Saharudin Bangko mengatakan, pada saat tim gabungan tiba di lokasi tidak ditemukan pemilik ladang ganja. Tim kemudian memusnahakan seluruh batang ganja dengan cara dicabut dan dibakar di lokasi.

Sebelumnya, Kombes Ghiri pernah menjelaskan, untuk pemasaran ganja asal Sumut, pelaku tidak melalui Madina, tapi memasuki hutan lalu tembus ke Padang, Sumatera Barat, selanjutnya ada yang dipasarkan ke Jakarta. ”Untuk jaringannya sedang kita dalami, tapi kalau dipasarkan dii Jakarta biasanya sudah kita ketahui,” jelasnya.

Ghiri menerangkan, tanaman ganja di pegunungan Tor Sihite, Madina memiliki karakteristik kepemilikan yang berbeda dengan di Aceh. ”Kalau di sini (Madina, Red) pelaku itu juga sebagai pemodal, penanam, dan pemanen. Sementara di Aceh, pemodal, penanam, dan pemanen berbeda orangnya,” jelasnya.

Ghiri menambahkan, melalui operasi pemusnahaan ladang ganja  ini sekalian memberitahukan kepada dunia, termasuk masyarakat Indonesia bahwa ladang ganja itu dilarang. Daun ganja memiliki kandungan zat THC (Tetra Hydro Cannabinol) yang merupakan jenis tanaman terlarang, sesuai dengan UU No 35/2009 tentang Narkotika. ”Karena itu, bagi siapa saja yang masih menanamnya (ganja, Red), maka akan dipidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya. (aro)

Komentar telah ditutup.