Senin, 26 Februari 2018 04:56 WIB
Citra indah

Rupiah Menguat Pasca Rilis Notulen FOMC

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

MENGUAT: Petugas sedang menata uang rupiah. Foto: dok. indopos

INDOPOS.CO.ID-Rupiah terus menguat terhadap Dolar AS pasca rilis notulen rapat FOMC terbaru. Walaupun pasar finansial masih memperhitungkan kemungkinan bahwa Fed akan meningkatkan suku bunga AS sekali lagi di tahun 2017, pasar berkembang tampaknya telah mempersiapkan untuk menghadapi hal ini dengan baik. Salah satu alasannya adalah karena inflasi AS yang terus menerus lemah dapat mengakibatkan laju kenaikan suku bunga AS  melambat signifikan setelah 2017.

Inflasi rendah masih menjadi masalah utama bagi ekonomi AS. Ketua Dewan Gubernur Fed Janet Yellen mengatakannya sebagai sebuah ’misteri’. Jika institusi yang mempekerjakan lebih dari 300 ekonom bergelar PhD tidak mengetahui apakah inflasi rendah ini akan bertahan lama atau sementara, maka risiko pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan menjadi kesalahan serius apabila inflasi tidak kembali ke level normal.

Model kurva Phillips yang mengatakan bahwa ada hubungan terbalik yang kuat antara tingkat pengangguran dan inflasi harga rupanya tidak berlaku di sini. Mungkin sudah saatnya Fed mengabaikan teori ini dan mencari model baru.

Notulen rapat Fed yang dirilis kemarin merefleksikan kekhawatiran itu. Beberapa anggota Fed menekankan bahwa keputusan meningkatkan suku bunga untuk ketiga kalinya di tahun 2017 harus berdasarkan data ekonomi yang mendukung keyakinan mereka bahwa inflasi akan bergerak menuju target Fed yaitu 2 persen. 

”Saya kira, dollar bulls tidak menyukai pernyataan ini, walaupun ekspektasi kenaikan suku bunga Desember tetap berada di atas 80 perseb menurut FedWatch Tool CME. Indeks Dolar terus merosot selama lima hari berturut-turut pada hari Kamis. Total penurunan adalah 1.5 persen dari level tertinggi 6 Oktober,” papar Chief Market Strategist FXTM Hussein Sayed.

”Mengingat inflasi telah menjadi metrik ekonomi terpenting yang menentukan arah Dolar, rilis IHK besok akan sangat dipantau. Kejutan positif akan menahan penurunan Dolar, namun data yang mengecewakan akan menjadi alasan untuk Dolar semakin melemah,” tambahnya.

Performa Euro sangat baik, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua pekan terakhir di 1.1878. Setelah Carles Puigdemont menangguhkan proses kemerdekaan Catalonia, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy memberi waktu lima hari untuk menegaskan apakah ia menyatakan kemerdekaan.

Menurutnya, tergantung pada respons ini, pemerintah Madrid dapat membuat ketentuan tegas pada Catalonia.

”Saya berpendapat bahwa krisis di Spanyol secara keseluruhan masih belum terefleksikan sepenuhnya dan apabila tidak ada kesepakatan dalam beberapa hari mendatang, stabilitas Zona Euro secara umum dipertaruhkan. Walaupun fundamental ekonomi masih mendukung Euro, namun politik memiliki peran penting dalam menentukan arah Euro. Gubernur ECB Mario Draghi akan berpartisipasi dalam rapat tahunan Bank Dunia dan IMF di Washington hari ini. Sinyal pergerakan ECB berikutnya akan menggerakkan Euro,” kata Hussein.

Walaupun tidak ada kemajuan dalam negosiasi Brexit, Pound tetap menguat terhadap Dolar untuk empat hari berturut-turut. Brexit masih membebani Pound di jangka yang lebih panjang dan kebijakan moneter sepertinya merupakan faktor penggerak utama saat ini.

Hussein mengatakan, ekspektasi kenaikan suku bunga BoE di kuartal terakhir 2017 tetap tinggi sehingga mempersempit divergensi kebijakan moneter dengan Federal Reserve.

”Saya menduga bahwa dalam beberapa hari mendatang Pound akan lebih dipengaruhi oleh data ekonomi dibandingkan negosiasi Brexit,” katanya. (wsa)


 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #Rupiah #fxtm #Hussein Sayed #moneter 

Berita Terkait

IKLAN