Alexa Metrics

Rumah Mewah Milik Terdakwa Pasutri Vaksin Palsu Terancam Disita

Rumah Mewah Milik Terdakwa Pasutri Vaksin Palsu Terancam Disita

INDOPOS.CO.ID – Rumah mewah milik terdakwa pembuat vaksin palsu, Taufiqurahman dan istrinya Rita Agustina di Perumahan Kemang Pratama Regency, Jalan Kumala II Blok M 29 RT 09/35, Rawalumbu, Kota Bekasi terancam disita negara. Sambil menangis, pasangan suami istri (pasutri) itu meminta pengadilan untuk tidak merampas aset yang jadi tempat tinggalnya selama ini tersebut.

”Majelis hakim yang mulia, saya meminta keringanan hukuman, mengingat anak-anak saya yang masih kecil-kecil,” terang Rita saat membacakan nota pembelaan dalam sidang lanjutan kasus vaksin palsu yang digelar di Pengadilan Negeri Bekasi, Rabu (25/10).

Dalam pembacaan nota pembelaan, Rita memberikan sejumlah alasan kenapa dia bersama suaminya berkeberatan rumah dan mobilnya disita untuk negara. Rita mengaku tak tahu bagaimana kelak bila anak-anaknya tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Untuk diketahui, Hidayat Taufiqurroham dan Rita Agustina didakwa memproduksi lima jenis vaksin palsu sejak 2010 hingga Juni 2016 di rumahnya yang berlokasi di pemukiman mewah Kemang Pratama Regency.

Adapun jenis vaksin yang dipalsukan adalah jenis Pediacel, Tripacel, Engerix B, Havrix 720, dan Tuberculin.

Senada juga dilontarkan suami Rita, Taufiqurahman. Saat membaca nota pembelaannya, Taufiq memohon keringanan kepada majelis hakim atas tuntutan jaksa Pengadilan Negeri (Kejari) Bekasi yang ingin menyita asetnya, terutama rumah miliknya.

”Kami mohon yang mulia mengembalikan rumah di Kemang Pratama Regency. Karena rumah itu kami beli dari hasil jeriph payah kami pada 2010. Sedangkan dalam dakwaan kami membuat vaksi palsu di mulai pada 2011,” ujarnya.

Menurut Hidayat juga, rumah yang dimilikinya di kawasan Kemang Pratama itu dibeli hasil dari penjualan rumah mereka sebelumnya yang ada di Perumahan Duta Harapan, Bekasi Utara dan ditambah dengan uang tabungan hasil kerja keras mereka selama ini. ”Kalau rumah saya juga disita, kasus yang saya alami ini lebih berat dari tindak pidana korupsi,” paparnya.

Atas pembacaan nota pembelaan itu, Ketua Majelis Hakim Oloan Sillahi yang memimpin kasus itu memberikan waktu kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menanggapi nota pembelaan pasutri tersebut.

Akhirnya sidang kasus vaksin palsu yang menghebohkan Kota Bekasi beberapa waktu lalu karena lebih dari 200 orang itu kembali ditunda Rabu (1/11) depan dengan agenda mendengarkan tanggapan jaksa atas nota pembelaan terdakwa. (dny)



Apa Pendapatmu?