Selasa, 23 Oktober 2018 11:52 WIB
pmk

Nusantara

PSK Belia Pilih Jajakan Tubuh karena Gaji di Toko Terlalu Kecil

Redaktur:

DIDATA: Para PSK didata di kantor Satpol PP Denpasar, Rabu (15/11). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

INDOPOS.CO.ID - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar bersama tim gabungan unsur Kodim, Denpom, dan Kepolisian Selasa (14/11) malam menggelar penyisiran ke beberapa lokasi yang dicurigai menjadi sarang prostitusi. Beberapa yang disasar yakni di Jalan Tirta Ning 01, 14A, dan Hotel Barokah Jalan Bypass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar. Alhasil, dari penyisiran tersebut 33 Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) berhasil diamankan. Sebagian yang terjaring ternyata masih berusia belia. Mereka memiliki banyak alasan menjajakan tubuhnya. Salah satunya karena gaji sebagai penjaga toko terlalu kecil.

Para PSK yang berusia kisaran 17-37 tahun tersebut berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Mereka datang ke Bali dengan berbagai alasan. Sebagian besar ada yang mengaku karena kebutuhan ekonomi, namun ada juga yang mengaku karena tergiur dengan penghasilan besar dengan cara yang relatif mudah ini. Untuk meraup keuntungan besar, para PSK yang umurnya masih muda tersebut rela menjajakan tubuhnya ke pria hidung belang.

Salah satu PSK, Marisa, 19, asal Bandung saat ditemui di sela-sela pendataan di Kantor Satpol PP Kota Denpasar, Rabu (15/11) mengatakan ia baru dua bulan berada di Bali dan langsung menuju ke Hotel Barokah. Marisa datang ke Bali karena ada tawaran dari salah satu temannya untuk bekerja di Bali, tepatnya wilayah Sanur dengan penghasilan besar. Karena merasa cocok Marisa langsung datang ke Bali dan bertemu dengan salah satu Bos yang mengajaknya ke tempat tersebut.

Namun kata Marisa, baru dua bulan bekerja ia malah diciduk di Mes Hotel saat masih tertidur. "Kemarin malam saya masih tidur. Tiba-tiba Satpol PP datang, katanya kami mau dibawa untuk didata," jelasnya.

Sementara Menurut Marisa, orang tuanya di Bandung belum mengetahui pekerjaannya sebagai pelayan hidung belang di Bali. Karena alasan ke orang tuanya ia ke Bali hanya untuk bekerja.

Hal senada juga disampaikan oleh Cika Putri Nabila, 19, yang juga berasal dari Bandung. Menurut Putri, ia memilih bekerja sebagai pelayan lelaki hidung belang di Bali karena tuntutan ekonomi. Selain itu kata Putri, karena sejak kecil sudah tinggal dengan neneknya karena kedua orang tuanya bercerai. Makanya Cika memilih jalan sendiri untuk mendapatkan uang.

Kata Putri, dulunya ia bekerja di toko tidak mendapatkan penghasilan sebesar sekarang. "Orang tua saya sudah pisah, saya sendiri sama nenek. Penghasilan waktu kerja di toko di Bandung juga sedikit. Perbulannya hanya Rp 1,2 juta, kalau di sini bisa sampai Rp 4,5 Juta. Tapi sekarang bisa ngirim Rp 1 Juta kadang juga Rp 2 juta," jelasnya.

Untuk perharinya kata Putri ia kadang menerima 4 pelanggan kadang juga kurang dari itu tregantung pengunjung yang hadir.

Meurutnya, perhari penghasilan yang didapat bervariasi, karena tawaran mereka sekali main minimal Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Namun jumlah tersebut tidak seluruhnya ia terima. Melainkan wajib menyisihkan sekitar Rp. 120 ribu untuk pembayaran kamar hotel dan uang keamanan.

Sementara Kepala Satpol PP Kota Denpasar, I Dewa Gede Anom Sayoga saat dikonfirmasi mengatakan, pihaknya melakukan penyisiran terhadap PSK tersebut untuk menindaklanjuti instruksi langsung walikota Denpasar. Hal ini terkait dengan maraknya praktek prostitusi yang ada di Bali. Menurut Sayoga, pencidukan PSK tersebut karena melanggar dua perda sekaligus di Kota Denpasar. 

"PSK yang terjaring ini kan sudah melanggar dua perda. Yakni Perda nomor 7 tahun 1993 tentang pemberantasan pelacuran, dan perda nomor 1 tahun 2015 tentang ketertiban umum, di pasal 39 diatur tentang larangan perbuatan asusila dan praktek prostitusi prostitusi sudah jelas mengatur itu," kata Sayoga.

Sehingga menurutnya, pihaknya langsung menyisir tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat prostitusi. "Yang saat ini kita temukan kan di penginapan-penginapan. Karena mereka menjajakan dirinya freelance bukan dikondisikan oleh satu orang atau sering kita sebut germo," tambahnya. 

Mantan Sekretaris DLHK Kota Denpasar ini menegaskan bahwa pihaknya melaksanakan penyisiran terhadap PSK ini bukan untuk mencari-cari kesalahan, malainkan untuk menjaga ketertiban umum. Sehingga kalaupun nanti aparat justru akan diajak kucing-kucingan , Sayoga mengaku akan memantau dan mengawasi kembali kawasan tersebut. “Ya ini kan tugas kami di Sat Pol PP, kalau ada lagi ya kita amankan lagi. Intinya bukan mau cari kesalahan, tapi kami ingin mengembalikan fungsi wanita itu sesuai dengan fungsinya, kan masih banyak lapangan pekerjaan yang lain,” ungkapnya.

Untuk saat ini kata Sayoga, ke 33 PSK itu masih di tempatkan di tempat penampungan di Kantornya untuk dilakukan sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) di pengadilan negeri Denpasar hari Jumat (17/11)  mendatang.

"Sebelum kami tindak Tipiring mereka akan diberikan pencerahan rohani dengan mengundang dari departemen Agama dan Dinas Sosial untuk memberikan kekuatanental, dengan tujuan memberikan Pendidikan dalam rangka pencegahan antisipasi penyakit HIV dan narkoba dan ingin mengembalikan mereka menjadi perempuan normal pada umumnya tanpa terjerumus lagi ke lembah hitam," tandasnya.  (bx/gus /bay/yes/JPR)


TOPIK BERITA TERKAIT: #denpasar #psk 

Berita Terkait

Jalan Puspemkab Tangerang Jadi Tempat Maksiat

Banten Raya

Rumah Dirazia, Isinya Lima Janda Berprofesi PSK

Nusantara

Tempat Dugem Digerebek, Polisi Temukan...

Nusantara

Pengakuan PSK: Saya Keenakan

Nusantara

IKLAN