Pergantian Panglima TNI Harus Perhatikan 3 Aspek

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Hadi Tjahjanto menjadi calon tunggal Panglima TNI pilihan Presiden Joko Widodo

Redaktur: Redjo Prahananda
Pergantian Panglima TNI Harus Perhatikan 3 Aspek -

KSAU, Hadi Tjahjanto

INDOPOS.CO.ID - Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan menilai bila  setiap pergantian Panglima TNI lebih mengedepankan rotasi antar matra TNI, bukan semata menghadapi tantangan strategi Indonesia di masa depan.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Hadi Tjahjanto menjadi calon tunggal Panglima TNI pilihan Presiden Joko Widodo menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Merujuk pada studi tentang manajemen pertahanan, terdapat 3 isu besar dan harus diperhatikan dalam memilih Panglima TNI,” kata dia, Selasa (5/12).

Pertama, aspek temporal menitikberatkan pada isu perubahan ideologi di level menengah sampai pimpinan TNI di mana  sudah mulai menerima nilai liberalisme demokrasi dan menganut ideologi Pancasila masih murni. 

Kemudian, isu kultural di level akar rumput  dan semakin meruncing. Tanpa pengelolaan  baik dan objektif, masalah ini berpotensi menyebabkan ancaman keamanan.   

Panglima Gatot Nurmantyo, Jaka meniliai  bisa mengelola dinamika ini dengan baik. Terakhir, isu dinamika ancaman. Dalam topik ini, identifikasi dinamika risiko, tantangan, dan ancaman menjadi sebuah keharusan.

“Salah satunya sengketa Laut Natuna menjadi tantangan tersendiri, karena penguasaan Flight Information Region (FIR) Singapura, wilayah udara Natuna tidak bisa Indonesia kendalikan,”kata Jaka 

Dia menuturkan, instruksi Presiden Jokowi sejak pertengahan September 2015 tentang realignment FIR sampai sekarang (2017) belum memiliki arah jelas.

FIR Singapura telah banyak menimbulkan kendala, baik dari penerbangan sipil Indonesia maupun pelaksanaan operasi dan penegakan hukum di wilayah sekitar Tanjung Pinang dan Natuna.

Dari kasus tersebut, Jaka mencontohkan, ruang udara nasional merupakan salah satu kekayaan ekonomi  Indonesia. Tapi, keuntungan untuk ndonesia jauh dari optimal 

Dalam hukum penerbangan internasional, terdapat istilah Rans Charges, penerbangan pesawat udara dengan rute tertentu pada sebuah wilayah negara, berkewajiban membayar penggunaan media udara untuk navigasi udara, sesuai dengan jarak tempuh pesawat. "Pemasukan itu tidak optimal bagi Indonesia.” (sla)

Berita Terkait

Megapolitan / Gereja Katedral Jakarta Dijaga Ketat

Nasional / TNI Tambah Personel di Nduga

Megapolitan / Jihandak Menutup Aksi Penanggulangan Teroris

Megapolitan / TNI Berhasil Bebaskan Sandera dari Teroris

Nasional / Tindak Tegas Pengganggu Pemilu


Baca Juga !.