Senin, 24 September 2018 01:13 WIB
pmk

Tekno

OJK Masih Pelajari Kelemahan Bitcoin

Redaktur: Redjo Prahananda

Foto : istimewa

INDOPOS.CO.ID - Bitcoin menjadi sorotan di dunia financial technology (fintech). Harga bitcoin terus melambung. Harga mata uang kripto ini mencetak rekor tertinggi. Bahkan per 6 Desember lalu berhasil menembus angka 12 ribu dolar Amerika.

Fenomena bitcoin masih menjadi tanda tanya, terutama di Indonesia. Lantaran Indonesia belum memiliki regulasi untuk mengatur bitcoin. Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fithri Hadi mengatakan, pihaknya masih dalam tahap mempelajari seksama seputar bitcoin.

Menurut Fithri, bitcoin bagian dari era revolusi digital. Kehadira mata uang digital ini terasa paling ekstrim karena lahir sebagai aset keuangan baru yang belum ada regulasinya. Bitcoin seperti sebuah instrumen baru yang aturan hukumnya masih perlu dicocokan. Entah dari undang-undang atau peraturan tertentu.

"Sampai sekarang kami mempelajari, belum ada aturan yang cocok. Mau disebut komoditi, tidak ada barang nyatanya. Apalagi kalau dianggap sebagai uang atau produk investasi. Kalau kita runut, bitcoin itu  aset digital di server," katanya dalam Kongkow Bisnis PAS FM di Ibis Hotel Jakarta, Rabu (13/12).

Muncul tanda tanya besar, mungkinkah pasar bisa menerima inovasi di Indonesia? Menurut Fithri, semua bergantung pasar.

Harus melihat manfaat bitcoin. Kenyataannya meski belum ada regulasi, transaksi jual beli bitcoin terus menjamur. Bahkan, sudah muncul bursa bitcoin di Indonesia.

“Bila ingin disebut sebagai investasi memang harusnya ada kriteria, antara lain pembentukan harga  fair, transparansi, jenis risiko, perlindungan investor, dan lainnya. Saat ini, kami belum temukan dan mengenal instrumen itu," dia mengungkapkan

Sejauh ini, OJK terus berupaya melakukan observasi. Kemudian memetakan mana regulasi yang cocok untuk diterapkan dalam bitcoin. Spekulasi berkembang, bitcoin sangat efisien dan menguntungkan karena bebas dari biaya administrasi transaksi.

Keunggulan bitcoin lainnya yakni dapat digunakan di seluruh dunia. Jika berpergian ke luar negeri, Anda tidak perlu repot menukar mata uang negara tersebut untuk bertransaksi. Tentu dengan catatan negara yang dikunjungi sudah menerima bitcoin. Dengan begitu akan terasa lebih efisien.

"Soal keamanan bitcoin itu segmented. Definisinya bisa berbeda. Tapi yang utama keamanan bisa diukur dengan likuiditas, bagaimana minat pembeli produk itu. Lalu bagaimana keseimbangan harga dan fluktuasinya," papar Fithri lagi.

OJK sebagai regulator ingin mengutamakan sisi perlindungan konsumen. Contoh kasus , kalau terjadi fluktuasi besar sampai 20 persen. Fithri mengaku mengajak para pelaku bitcoin berdiskusi, dengan tujuan mengetahui manfaat dan bagaimana cara mengawasi bitcoin.

"Malaysia saja saat ini masih melakukan kajian bagaimana implementasi bitcoin dalam instrumen syariah. Jadi kita bisa lihat dan tunggu hasil dari negara tetangga. Sembari mencari kelemahan dari bitcoin ini," pungkasnya. (gel)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bitcoin 

Berita Terkait

IKLAN