Minggu, 18 November 2018 09:06 WIB
pmk

Peer to Peer Lending, Kenalkan Investor dan Peminjam via Online

Redaktur: Redjo Prahananda

Founder dan CEO Amartha, Andi Taufan

INDOPOS.CO.ID - Layanan keuangan berbasis financial technology (fintech) semakin tumbuh. Bahkan sudah banyak melahirkan konsep bisnis baru. Salah satu konsep itu peer to peer (P2P) micro lending yang diterapkan PT Amartha Mikro Fintek (AMARTHA).

Pertama kali berdiri 2010, Amartha lembaga keuangan mikro. Kemudian bertransformasi menjadi perusahaan P2P sekitar 2016. Peralihan ini membuat Amartha menjadi pionir platform P2P micro lending di Indonesia. 

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, P2P konsep investasi unik, aman, dan menguntungkan. Sebab, Amartha mampu mempertemukan investor yang tertarik memberikan akses permodalan kepada peminjam secara online. Terutama, bagi para kreditur dari kalangan pengusaha mikro di pedesaan.

"Orang dengan beragam tipe latar belakang bisa menjadi investor dan memilih sendiri siapa peminjam dananya. Begitu juga dengan peminjam yang terdiri dari beragam jenis usaha. Keunggulan P2P adalah kecepatan akses permodalannya," katanya dalam media briefing di Williams Restaurant, Kamis (14/12).

Menariknya, meski baru berubah haluan pada konsep P2P setahun terakhir. Andi mengaku pertumbuhan perusahaannya begitu pesat. Bahkan turut mampu menjaga kualitas serta menekan risiko investasi. Kunci utama terletak pada pendanaan mikro dengan sistem pinjaman berkelompok (Group Lending).

"Sejauh ini kami sudah memberikan bantuan dana kepada 70 ribu mitra pengusaha mikro terutama kaum perempuan di pedesaaan. Total dana yang tersalurkan sekitar Rp 200 miliar dan tingkat angsuran tepat waktu mencapai 99,7 persen," dia menuturkan.

Selama ini, Amartha mempertahankan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Sistem group lending memiliki mekanisme tanggung renteng, setiap peminjam akan dikelompokkan ke dalam satu kumpulan disebut Majelis. Kelompok ini terdiri dari 15-25 orang peminjam yang tinggal berdekatan.

Dengan begitu, setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan tanggung renteng atau menanggung risiko secara kelompok, apabila salah satu anggota mengalami kredit macet.

"Kisaran pinjaman untuk per orang mulai dari Rp 3-Rp 15 juta. Nanti diadakan pertemuan setiap pekan untuk pembayaran cicilan. Kami punya tim lapangan untuk memantau cicilan," tuturnya.

Adapun, lima terbesar jenis usaha yang mendapatkan pinjaman melalui Amartha. Di antaranya warung atau toko kelontong, perabotan rumah tangga, modal pertanian, sayuran, warung makan.

"Konsep pendekatan pembiayaan kelompok ini sekaligus untuk screening peminjam. Setelah mendapat pinjaman, kalau ada kredit macet bisa teratasi dengan tanggung renteng," jelasnya.

Walau antara investor dan peminjam tidak saling tatap muka. Amartha mampu menjamin keamanan dari sistem dan regulasi yang terbentuk. "Lenders atau pemberi dana bisa melihat semua transaksi reel time. Ada dashboard, mereka bisa konsisten memantau dana yang dipinjamkan. Mereka bisa lihat biodata peminjam, semua transparan," pungkasnya. (gel)


TOPIK BERITA TERKAIT: #andi-taufan #fintech #pt-amartha-mikro-fintek-amartha 

Berita Terkait

IKLAN