Kamis, 20 September 2018 12:19 WIB
pmk

Wanita

Ini Risiko untuk Anak Akibat Ibu Stres Selama Hamil dan Menyusui

Redaktur: Dani Tri Wahyudi

SPESIALIS KANDUNGAN: dr Naomi Esthernita F. Dewanto SpA(K) (kanan) dan dr med Ferdhy Suryadi Suwandinata SpOG

INDOPOS.CO.ID - Stres selama hamil dan menyusui tidak hanya akan memengaruhi psikologis ibu. Tapi itu juga menggangu tumbuh kembang anak selama 1.000 hari pada kehidupan awalnya.

Maka ibu yang stres akan berpengaruh kepada anak sejak dari janin dalam kandungan, masa menyusui, hingga pertumbuhannya hingga usia dua tahun. Gangguan yang dimaksud baik secara psikis maupun fisik. Untuk itu, dukungan kepada ibu agar terbebas dari stres sangat penting diberikan.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) dr med Ferdhy Suryadi Suwandinata SpOG mengatakan selama hamil untuk memastikan kesehatan dan perkembangan otak bayi, tidak hanya hanya membutuhkan nutrisi yang baik. Tapi juga faktor psikologis ibu.

Dia mengatakan apabila ibu mengalami stress makan akan meningkatkan enzim yang memetabolisme kortisol. Sedangkan kortisol yang tinggi pada ketuban akan memberikan efek negatif pada perkembangan koginitif bayi. “Bahkan, itu akan berpotensi pada pecahnya ketuban yang membuat bayi lahir lebih awal atau lahir prematur,” ungkap dr Ferdhy di SHKJ, Jakarta Barat, (15/12).

Tidak hanya itu, stres pada ibu akan memengaruhi penyerapan gizi pada selama kehamilan, sehingga bayi mengalami lahir berat rendah. Bahkan, kulit bayi juga mengalami keriput. Untuk itu, dia menekankan ibu hamil dan menyusui harus bebas dari stres. Salah satu kunci agar ibu hamil merasa nyaman serta mampu memelihara emosi positif adalah dukungan suami.

Bentuk dukungan yang diberikan dapat dilakukan dengan tidak merokok, memperhatikan asupan makanan ibu hamil, mengingatkan untuk istirahat yang cukup, mengajak berolahraga, berempati pada periode mual muntah, bijak menyikapi perilaku mengidam mendampingi saat konsultasi.

“Para suami juga bisa ikut menstimulasi janin, ikut kelas prenatal, rajin memijat ibu, menyusun rencana melahirkan, dan mendampingi di hari kelahiran,” jelas Dr Ferdhy. Sementara itu, pimpinan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan coordinator Klinik Laktasi SHKJ dr Naomi Esthernita F Dewanto SpA(K) mengatakan pada masa menyusui ibu juga harus terbebas stres. Sebab, stres akan memengaruhi jumlah ASI yang akan diberikan kepada sang bayi. Padahal, ASI merupakan hak asasi bagi setiap bayi.

ASI mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi selama masa  tumbuh kembang terutama pada usia dua tahun pertama. Paling sering terjadi adalah ketika pada masa awal pemberian ASI, banyak ibu stres karena tidak bisa menghasilkan jumlah ASI yang banyak.

”Padahal, jumlah yang sedikit itu bukan masalah. Mengingat kebutuhan bayi pada masa awal kehidupannya memang masih sangat sedikit,” papar dr Naomi. Dr Naomi menambahkan ASI adalah suatu cairan biologis yang dinamis dan kompleks, lebih dari 200 zat aktif termasuk imunoprotektor, enzim, hormon, vitamin, faktor pertumbuhan, dan faktor lainnya yang sama baiknya dengan nutrisi zat esensial yang dibutuhkan untuk Pertubuhan dan perkembangan bayi. Komposisi ASI selama menyusui akan berubah dari hari ke hari sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi.

Selain faktor nutrisi, ASI mengandung faktor imunologi (kekebalan tubuh) dan faktor pertumbuhan yang tidak dimiliki oleh susu sapi atau susu formula. Dengan memberikan ASI secara langsung, dr Naomi menjelaskan ibu sudah memberikan kebutuhan asah, asih, dan asuh yang diperlukan bayi. Ibu menyusui sampai usia dua tahun lebih hemat, anak sehat dan cerdas dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera.

“Berangkat dari kebutuhan tersebut, ibu harus tetap memberikan ASI walaupun sudah kembali bekerja, mulai menabung ASI sebelum kembali bekerja, dan tetap memerah ASI di tempat kerja,” tandasnya.(rls/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

Mengetahui Manfaat Daun Kelor

Kesehatan

IKLAN