Selasa, 25 September 2018 12:46 WIB
pmk

Jakarta Raya

Gubernur Jakarta Silih Berganti, Tapi Banjir Masih di Sini

Waduk dan Situ Berkurang, Sungai pun Menyempit
Redaktur:

JEBOL LAGI: Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau kembali tanggul jebol Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (20/12) malam. PURWOKO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - KEPEMIMPINAN  di Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah banyak berganti. Dimulai era kepemimpinan Soewirjo tahun 1945, hingga saat ini dijabat Gubernur Anies Rasyid Baswedan. Namun ada satu persoalan yang tak kunjung dapat diselesaikan; banjir. Apa penyebabnya?

Purwoko, JAKARTA

DALAM lima tahun terakhir, tercatat ada sejumlah peristiwa banjir besar yang terjadi di ibu kota. Masih lekat dalam ingatan, pada Januari 2013 ketika kawasan Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) tenggelam oleh banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 1 meter. Saat itu Gubernur DKI dijabat Joko Widodo (Jokowi) yang turun langsung menembus banjir, menggunakan gerobak dorong di bundaran HI. Kemudian yang paling terkenal, adalah aksi Jokowi masuk ke gorong-gorong di HI sebagai salah satu upaya mengecek saluran air. Ini untuk mencari cara menuntaskan banjir Jakarta. Namun tampaknya banjir masih terjadi, bahkan setelah Jokowi menjadi presiden.

Kemudian, banjir juga menjadi ujian serius bagi kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan yang baru berjalan dua bulan. Pada Senin (11/12/2017) lalu, sejumlah wilayah tergenang hingga menyebabkan Jakarta nyaris lumpuh karena kemacetan lalu lintas terjadi di mana-mana. 

Pakar tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai, banjir Jakarta disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, karena terjadinya perubahan besar pada tata ruang di Jakarta dan kota sekitarnya, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Faktor pertama, berubahnya ruang terbuka hijau di Jakarta, menjadi kawasan pembangunan, seperti permukiman, gedung, dan jalan. Resapan air hujan menjadi berkurang dan akhirnya air mengalir ke jalanan. Kedua, sistem drainase yang buruk di Jakarta. Seharusnya saluran air bukan berujung ke sungai atau laut, melainkan ke daerah resapan atau ke dalam tanah.

Ketiga, tidak optimalnya fungsi waduk maupun situ. Dalam catatannya, pada tahun 1990-an, Jakarta memiliki 70 waduk dan 50 situ. Namun, kini hanya tersisa 42 waduk dan 16 situ. Sebanyak 50 persen di antaranya pun tidak berjalan optimal. Keempat, belum dilakukannya normalisasi di semua sungai. 

Terkait banjir Jakarta pada Pada Senin (11/12) lalu, Nirwono menilai, penyebabnya karena banyaknya bangunan yang berdiri di sepanjang ruas Jalan HR Rasuna Said dan Senayan. Di samping juga karena buruknya persiapan antisipasi banjir dengan bukti rusaknya pompa air di underpass Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

"Seluruh kavling telah penuh dengan bangunan, tanpa ada daerah yang disisakan untuk resapan air. Untuk itu kami mendorong perlunya audit bangunan," ujar Nirwono, Kamis (21/12).

Nirwono mengatakan, harusnya masing-masing kavling bangunan menyediakan ruang terbuka hijau 30 persen sebagai daerah resapan air. Kemudian, setiap saluran air dibuat agar mampu menampung air hujan yang jatuh di jalan, serta untuk menampung air yang berasal dari masing-masing kavling.

"Dengan begitu tidak akan lagi air yang menggenang di sembarang tempat," kata dia.

Menurut dia, selama ini sistem saluran air di Jakarta tidak terhubung baik dengan daerah sekitar. Nirwono pun berharap agar ke depan ada pengecekan seluruh pompa air yang ada di Jakarta. "Ini hal sepele. Bagaimana seluruh pompa air berfungsi optimal, ya berarti harus dicek," terang dia.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terlihat sangat serius dalam penanganan masalah banjir. Bahkan, dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2018, Anies menganggarkan sebesar Rp 1,98 triliun untuk mengantisipasi banjir.

"Kita ada alokasi Rp 1,98 Triliun untuk pengelolaan air di Jakarta. Harapannya usaha mengelola air di Jakarta akan lebih baik sehingga terhindar dari segala macam potensi banjir," tutur Anies.

Selain itu, untuk jangka pendek, Anies mengaku, tengah berusaha mengatasi banjir di beberapa titik banjir. Salah satunya lokasi banjir di Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Untuk kesekian kalinya dia mendatangi kawasan itu. Kali ini selain bersama para Pekerja Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), Anies juga mengajak serta dua anaknya, Mikail Azizi Baswedan dan Ismail Hakim Baswedan, sekitar pukul 21.30 WIB, Rabu (20/12).

Petugas PPSU langsung ditugaskan untuk membantu warga membersihkan rumah warga yang terkena banjir. "Saya ke sana (Jatipadang) dan saya lihat langsung. Kita full force itu ada 50 orang PPSU yang bantu bersihkan rumah yang kena genangan," ujar Anies di Monas.

Petugas juga membantu warga membersihkan rumahnya, lanjut Anies, pasukan oranye dibantu Satpol PP juga membangun tanggul sementara. "Kemudian 30 pasukan oranye bangun tanggul sementara 20 Satpol PP bantu. Lebih dari 100 orang kita bantu," jelas dia.

Dikatakan Anies, penyebab banjir langganan di wilayah tersebut karena penyempitan trase jalan yang menyebabkan aliran air tersumbat. Sumbatan air yang tak terbendung itulah yang mengakibatkan tanggul jebol. "Kejadian minggu lalu di RT 3, semalam di RT 14 ini sama masalahnya karena sungai sangat sempit kemudian aliran air kuat tanggul jebol. Walaupun hulu sudah ditutup tapi tetap saja curah hujan tinggi, tekanan jadi besar," terang Anies.

Namun ia mengaku telah menemukan solusi, walau baru untuk jangka pendek. "Langkah yang dilakukan adalah pembangunan tanggul sementara hingga bebas banjir. Kedua ada jembatan di kampung itu yang rendah sehingga menutup aliran air maka tentu akan dibongkar akan ditinggikan akan dilakukan penguatan di titik-titik yang dianggap lemah. Itu yang akan dilakukan jangka pendek," tutur dia.

Anies berharap, banjir langganan di Jatipadang tahun ini merupakan yang terakhir. "Jadi problem ini sudah menahun. Kita ingin musim hujan sekarang adalah musim hujan penghabisan bagi masalah genangan air di tempat itu," tuturnya.

Lebih jauh Anies menjelaskan, lebar trase jalan di Jatipadang seharusnya 20 meter. Namun, kini menyusut jadi hanya 2 meter. Malah, di beberapa lokasi lebar trase jalan hanya 1,5 meter. "Bahkan 50 meter dari lokasi tanggul jebol tadi malam sungainya hilang, ditutup oleh rumah warga di atasnya," ucapnya.

Dengan demikian, nantinya Anies bakal memperlebar trase jalan tersebut agar tak lagi terjadi banjir. Namun, untuk besaran trase jalan yang akan dilebarkan, masih akan dikaji. "Jadi itu trasenya 20 meter, nanti dilebarkannya berapa meter sangat tergantung kebutuhan dan situasi seperti apa. Jadi yang penting adalah airnya bisa dialirkan baik," tandas dia. (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #banjir #boks 

Berita Terkait

Ketika Tingkat Perceraian Makin Tinggi di Bogor

Megapolitan

Dahnil Rela Mundur sebagai ASN, untuk Prabowo-Sandi

Nasional

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

IKLAN