Nusantara

Speedboat Terbalik Warnai Awal Tahun

Delapan Orang Meninggal, 13 Belum Ditemukan

Redaktur:
Speedboat Terbalik Warnai Awal Tahun - Nusantara

DUKA AWAL TAHUN: Speedboat Anugerah Ekspress dari Tanjung Selor tujuan Kota Tarakan yang bertolak dari Pelabuhan Kayan terbalik di Sungai Kayan, Senin (1/1) pukul 08.30 pagi. Speedboat ini terbalik hanya beberapa ratus meter setelah meninggalkan dermaga speedboat. Delapan orang meninggal dunia dalam musibah ini. Satu diantaranya seorang balita. Tampak sejumlah korban saat dievakuasi warga bersama petugas gabungan.

INDOPOS.CO.ID - Ada kabar duka dari Kalimantan Utara. Insiden yang sama terulang kembali. Speedboat Anugrah Express mengalami kecelakan di di perairan Sungai Sesayap, Kalimantan Utara, Senin (1/1). Akibat kecelakaan tersebut, delapan orang meninggal dan 13 orang belum ditemukan.

Kapal cepat Anugrah Express berlayar dari Dermaga Tanjug Selor menuju Tarakan. Menurut data yang dimiliki Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, di kapal tersebut terdapat 48 penumpang. Lima diantaranya anak-anak. Sementara awak kapal ada tiga orang.

Kapal cepat Anugrah Express memang tiap harinya melayani pelayaran jalur Tanjung Selor-Tarakan. Dari Dermaga Tanjung Selor, kapal tersebut berangkat pagi sekitar pukul 08.00.

Pada hari nahas, speedboat itu berangkat seperti biasa. Kapal cepat dengan motoris Amir tersebut, berangkat dari Dermaga Tanjung. Aliran Sungai Sesayap memang sedang deras.

Baru sekitar 200 meter dari dermaga, kapal tersebut menabrak kayu. Mulanya kapal hanya miring ke kanan. Namun kapal yang memiliki berat 6 GT lambat laun terbalik.

Salah seorang korban selamat, Marsono (50) yang hendak ke Tarakan untuk melanjutkan perjalanannya ke Surabaya kepada media ini mengatakan, beberapa menit sebelum bertolak dari dermaga, speedboat memang terdengar menabrak sesuatu yang diduga kayu. Kemudian, speedboat langsung terbalik dan seketika air memenuhi speedboat tersebut dan membuat seluruh penumpang yang berada di dalam langsung panik mencari pintu keluar.

“Belum pakai pelampung semua saat berangkat. Saya duduk di belakang karena terakhir masuk. Sementara yang duduk di depan berebutan keluar,” cerita Marsono.

Di benak Marsono pun hanya terlintas untuk menyelamatkan diri, tanpa berpikir lagi menyelamatkan barang bawaannya. Kendati demikian, ia berhasil menyelamatkan satu buah ransel yang berisi dokumen-dokumen pribadi maupun perusahaan tempatnya bekerja.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP)  Jhonny R Silalahi menyebutkan, tim penyelamat gabungan langsung melakukan evakuasi. Tim tersebut terdiri dari petugas KPLP Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Tanjung Selor, Basarnas dan Polair.

”Penumpang yang selamat langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan,” ujar Jhonny.

Kapal tersebut dibuat pada tahun 2010 berbahan Fiberglass dinyatakan laiklaut. Hal itu dibuktikan dengan surat keselamatan kapal yang dikeluarkan oleh Kepala UPP Kelas III Tanjung Selor pada tanggal 20 November 2017. Surat masih berlaku sampai dengan 19 Mei 2018.

Sampai Senin (1/1) siang, sudah 31 orang ditemukan selamat. Delapan orang meninggal. ”Kami terus melakukan proses pencarian dan evakuasi penumpang,” katanya.

Saat evakuasi, arus air sedang dalam kondisi deras. Sehingga proses evakuasi berlangsung ekstra hati-hati.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah mengeluarkan Surat Edaran Direktur Perkapalan dan Kepelautan atas nama Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor: UM.003/13/16/DK.16 Tentang Peningkatan Keselamatan Kapal, tertanggal 16 September 2016. Berdasarkan Surat Edaran tersebut seluruh UPT Perhubungan Laut untuk meningkatkan pengawasan keselamatan kapal, khususnya kapal kecepatan tinggi dengan mesin di dalam (inboard engine) maupun mesin tempel (outboard engine). Mereka juga harus memastikan setiap pemilik atau operator dan juga Nakhoda kapal melaksanakan dan melaporkan hal-hal yang menjadi persyaratan keselamatan sebelum keberangkatan kapal. 

Kecelakaan kapal cepat Anugrah Express ini menjadi catatan buruk dalam Natal dan tahun baru kali ini.

Design Speedboat Harus Diubah

Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Tarakan, Sofyan Udin Hianggio turut berkomentar atas insiden yang kembali terjadi. Menurutnya kondisi design speedboat yang ada di Kaltara ini memang butuh perubahan. Informasi yang dia dapatkan dari penumpang terbaliknya speedboat Rejeki Baru Kharisma Juli lalu, sangat dibutuhkan pintu darurat.

 Sebab, saat terjadinya insiden, semua penumpang berebut untuk keluar melalui satu pintu itu. Sementara ada satu  pintu lagi yang dibuka ke atas berada dekat dengan nakhoda, tidak dapat dibuka. Karena tekanan air membuat para korban tidak bisa membukanya.

“Bayangkan saja, 40 hingga 50 orang penumpang berebut untuk keluar hanya mengandalkan satu pintu. Kami meminta ke dinas terkait dalam hal ini KSOP Tarakan, untuk bisa menjalankan regulasi standar speedboat yang beroperasi di Kaltara,” ungkap Sofyan sapaan akrabnya, kepada Radar Tarakan, grup Indopos, Senin (1/1) malam.

Menurutnya, jika memang masih banyak speedboat yang tidak standar, maka jangan diberikan izin operasi. Karena sudah dua kali insiden ini terjadi akibat teknis bukan karena cuaca.

“Kalau perlu speedboat yang dari mulai struktur body, keseimbangan dan lainnya itu tidak layak harus dicabut izinnya. Hingga nanti mereka bisa memenuhi standar yang ada,” tegas Sofyan.

Tak hanya menyoal pintu darurat, lembaga legislatif ini juga menyoroti penggunaan pelampung yang tidak berstandar. Apalagi dengan kondisi speedboat design  lama. Logikanya jika speedboat terbalik maka tubuh penumpang akan menempel dengan atap speedboat, lalu ruang akan terbatas sehingga bukan tidak mungkin, ini juga menjadi salah satu faktor penumpang sulit keluar dari dalam speedboat. Sehingga banyak yang menumpuk di dalam.

Sementara Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli KSOP Kota Tarakan, Syaharuddin mengatakan life jacket wajib digunakan karena peluang untuk selamat ketika terjadi kecelakaan cukup besar dibandingkan yang tidak menggunakan life jacket.

“Meskipun ada plus dan minusnya, penggunaan life jacket lebih banyak plusnya dalam hal memberikan keselamatan ketika terjadi kecelakaan. Sehingga diwajibkan menggunakan life jacket saat menaiki speedboat,” tuturnya. (lyn/idr/jnr/nri)

Baca Juga


Berita Terkait

Internasional / Wah, Siswa Sesak Nafas dan Muntah, 400 Sekolah di Malaysia Ditutup

Banten Raya / Warga Blokir Jalan Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta

Banten Raya / Oknum ASN Digerebek, Wali Kota Cilegon Murka

Banten Raya / Kepala SMAN 3 Kota Serang Bantah Tahan Ijazah Siswa

Daerah / Pemain Arung Jeram Tewas Tertimpa Longsor

Megapolitan / Gudang Petasan di Pasar Pagi Asemka Dilahap Api


Baca Juga !.