Jumat, 21 September 2018 08:57 WIB
pmk

Kesehatan

Imunisasi Lengkap Kunci Terhindar Difteri

2017, Ada 38 Jiwa Korban Meninggal
Redaktur:

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID – Penyebaran wabah difteri sudah sedemikian meluas begitu cepat di Indonesia. Pemerintah pun telah menyatakan status penyakit ini sebagai kejadian luar biasa (KLB), lantaran sudah menyebar di 142 kabupaten/kota di 28 provinsi. Tercatatat, sepanjang Januari-Desember 2017 sudah 38 jiwa korban meninggal dunia akibat wabah mengerikan ini. Sedangkan, ada 600 korban yang dirawat menjadi pasien.

Informasi yang dihimpun awak INDOPOS, populasi korban di Indonesia  terbanyak jika dibanding dengan negara yang pernah terjangkit wabah yang sama. Itu diketahui dalam konfrensi pers Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Desember 2017 lalu. “Data kami peroleh dari dua lembaga yakni IDI dan IDAI di daerah. Dari data yang sudah kami hitung jumlahnya hampir sama dengan yang dimiliki Kementerian Kesehatan,” kata Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Aman Bhakti Pulungan belum lama ini.

Tak jauh berbeda, laporan kasus difteri, yang diterima Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) sejak 1 Januari hingga 4 November 2017 menunjukkan sebanyak 591 kasus. Dengan 32 kematian di 95 kabupaten/kota di 20 Provinsi di Indonesia.

''Meski difteri sangat mudah menular, berbahaya dan dapat menyebabkan kematian, difteri ini dapat dicegah dengan imunisasi'', ujar Menteri Kesehatan RI,  Nila Farid Moeloek saat meninjau outbreak response immunization (ORI) di SMA Negeri 33 Jakarta, dua pekan lalu.

Menurut dia, KLB difteri terjadi karena adanya kesenjangan imunitas atau immunity gap di kalangan penduduk suatu daerah. Keadaan ini terjadi karena ada kelompok yang tidak mendapatkan imunisasi atau status imunisasinya tidak lengkap sehingga tidak terbentuk kekebalan tubuh terhadap infeksi bakteri difteri, sehingga mudah tertular. Ia menjelaskan, difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada selaput saluran pernafasan bagian atas, hidung dan kulit. ''Gejala demam yang tidak terlalu tinggi, namun yang terjadi adalah adanya selaput yang menutup saluran napas. Selain itu bakteri tersebut juga mengakibatkan gangguan jantung dan sistem syaraf'', tambah Menkes.

Ia mengatakan, imunisasi untuk mencegah difteri sudah termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap. ''Imunisasi ini upaya preventif yang spesifik terhadap penyakit. Imunisasi difteri dimulai sejak anak usia 2, 3, dan 4 bulan. Lalu untuk meningkatkan antibodinya lagi, harus diulang di usia 2 tahun, 5 tahun dan usia sekolah dasar'', terang Menkes.

Pemerintah menjamin baik keamanan maupun ketersediannya. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya. Keberhasilan pencegahan difteri dengan imunisasi sangat ditentukan oleh cakupan imunisasi, yakni minimal 95 persen. Pada angka itu, kekebalan kelompok tercapai, dan bakteri tidak bisa menyebar dan menginfeksi ke pihak lain. Oleh karenanya, imunisasi rutin dan massal jadi kunci pencegahan. (nug)

Sekilas Difteri

Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diphteriae strain toksin, ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi.

Organ yang Diserang

  • selaput mukosa faring
  • laring
  • tonsil
  • hidung
  • lapisan pada kulit

Kategori penyakit

Infeksi serius, berpotensi kematian

Penularan

  • Ditularkan melalui percikan cairan dari saluran pernafasan atau kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernafasan, dan pengelupasan luka di kulit.
  • Lewat cairan mulut/hidung penderita yang tersebar lewat bersin dan batuk
  • Kontak dengan barang atau mainan yang terkontaminasi bakteri
  • Kontak dengan luka berdarah milik penderita

Gejala

  • Demam di atas 38 derajat celcius
  • Ada selaput putih  di tenggorokan
  • Munculnya pseudomembran putih keabu-abuan, tak mudah lepas dan mudah berdarah
  • Leher membengkak seperti leher sapi (bull neck), akibat pembengkakan kelenjar leher
  • Sesak nafas disertai bunyi (stridor)
  • Nafsu makan menurun

Pencegahan

  • Vaksin DPT-HB-Hib (penderita negatif difteri)
  • Vaksin DT (penderita negatif difteri)
  • Vaksin Td (penderita negatif difteri)

Imunisasi Difteri pada Bayi dan Balita

(kondisi negatif difteri)

  • Bayi (0-11 bulan) mendapatkan 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian, dilanjutkan dengan 1 dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan
  • Imunisasi difteri pada anak sekolah
  • Anak seokolah dasar/sederajat kelas 1 wajib mendapatkan 1 dosis imunisasi DT. Anak sekolah dasar/sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td 

Cara mengobati penderita suspek difteri

  • Segera mendapatkan pengobatan oleh dokter.
  • Pengobatan dilakukan dengan menetralisir racun exotoxin, serta mematikan bakterinya. Itu dilakukan dengan pemberian antitoksin difteri dan antibiotik seperti erythromycin atau penicillin.
  • Penderita difteri juga harus di isolasi agar tidak menyebarkan bakteri difteri kepada orang lain.
  • Dalam rentang waktu sekitar 2 hari setelah pemberian antitoksin dan antibiotik keadaan penderita difteri akan mulai membaik.
  • Dokter memastikan penderita sudah terbebas dari virus difteri

Jumlah kasus difteri di Indonesia

2007  = 183 kasus

2008 = 219 kasus

2009 = 189 kasus

2010 = 385 kasus

2012 = 1.192 kasus

2013 = 767 kasus

2014 = 394 kasus

2015 = 502 kasus

2016 = 415 kasus

2017 (Nov) = 593 kasus


TOPIK BERITA TERKAIT: #difteri #kesehatan 

Berita Terkait

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

Mengetahui Manfaat Daun Kelor

Kesehatan

IKLAN