Jumat, 16 November 2018 10:38 WIB
pmk

Kesehatan

Tak Hanya Anak-Anak, Dewasa juga Perlu Divaksin Difteri

Redaktur:

ANTISIPASI : Alissa saat sedang di-swab untuk diambil sample tenggorokan.

INDOPOS.CO.ID - Vaksin difteri sudah digunakan di Amerika Serikat sejak 1890. ”Jadi, vaksin bukan barang baru. Lalu kenapa sekarang jadi takut divaksin?,'' tegas Prof Sri.

Untuk menetralisir racun yang sudah beredar, diberikan antitoksin.

Namun bila toksin sudah menempel di jantung, hanya bisa menunggu tubuh menetralisir. Kalau tubuh gagal melakukannya, detak jantung bisa terganggu dan kematian bisa terjadi. Cakupan vaksin DPT secara nasional memang tinggi.

''Namun bila dilihat per kabupaten, per kecamatan dan per kelurahan, ada kantong-kantong yang cakupannya sangat rendah,” tegas dr. Hindra. Difteri sudah mulai muncul sejak 9 tahun lalu di Jawa timur. Penyakit ini tidak datang tiba-tiba; sudah ada lampu kuning sejak lama.

Dia juga menegaskan, difteri tidak cukup dengan imunisasi dasar. ”Kekebalan ada masanya, sehingga harus diulang,'' tandasnya. Setelah tiga dosis imunisasi dasar saat bayi, perlu dilakukan booster di usia 18-24 bulan, 5 tahun dan 10 tahun. ''Setelah itu, idealnya vaksin lagi tiap tahun,'' paparnya.

Untuk dewasa, bisa mendapat vaksin Td (tetanus-difteri) di sektor swasta. Vaksin juga bisa diberikan pada ibu hamil. Yang pasti, lanjutnya, kampanye soal vaksin harus diulang-ulang terus. ”'Kita harus terus konsisten. Jangan malas dan bosan, karena itulah yang ditunggu oleh kelompok antivaksin,” tandasnya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #difteri #kesehatan 

Berita Terkait

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

IKLAN