Headline

Fredrich Pesan Kamar Sebelum Kecelakaan, Bimanesh Palsukan Data

Redaktur: Redjo Prahananda
Fredrich Pesan Kamar Sebelum Kecelakaan,  Bimanesh Palsukan Data - Headline

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Fredrich Yunadi dan Bimanesh, dua tersangka baru yang terlibat dalam skenario kecelakaan Setya Novanto, memiliki perannya masing-masing.  Frederich terbukti memesan satu lantai kamar perawatan VIP di RS Permata Hijau, padahal kecelakaan belum terjadi. Sedangkan, Bimanesh terbukti melakukan pemalsuan data-data medis Setya Novanto. 

KPK menetapkan mantan penasehat hukum Setya Novanto, dan dokter di Rumah Sakit Permata Hijau tersebut tersangka karena menghalang-halangi penyidikan KPK terhadap Setnov. Pimpinan KPK, Basaria Pandjaitan dalam konferensi pers Rabu (10/1) sore menjelaskan, KPK sudah mengantongi bukti -bukti cukup untuk meningkatkan status kedua orang itu sebagai tersangka.

"KPK sudah mendapatkan bukti permulaan cukup untuk penetapan tersangka tersebut. Mereka terbukti melakukan tindakan menghalang-halangi penyidikan," terang Basaria. 

Dikatakan Basaria, Bimanesh yang merupakan dokter di RS Permata Hijau diduga bekerja sama memasukkan tersangka Setnov ke Rumah Sakit agar dilakukan rawat inap saat terjadi kecelakaan di Permata Berlian, Jakarta Barat, Kamis (16/11) lalu.

"Data-data medis pun diduga dimanipulasi sedemikian rupa, untuk menghindari panggilan dan pemeriksaan oleh penyidik KPK," katanya.

Menurut Basaria, penyidik juga mendapatkan kendala ketika melakukan pengecekan informasi peristiwa kecelakaan yang berlanjut pada perawatan medis di RS Medika Permata Hijau.

Menariknya, lanjut Basaria, Fredrich Yunadi yang kala itu merupakan kuasa hukum Setya Novanto, diduga telah datang terlebih dulu untuk berkoordinasi dengan pihak rumah sakit. Bahkan, dia disebut-sebut telah memesan (booking) satu lantai di rumah sakit tersebut.

"Didapatkan informasi bahwa, salah satu dokter di rumah sakit tersebut mendapatkan telepon dari seorang yang diduga sebagai pengacara SN. Bahwa saat SN akan dirawat di RS sekitar pukul 21.00 WIB dan meminta kamar perawatan VIP yang rencana akan dibooking satu lantai. Padahal saat itu, belum diketahui Setnov akan dirawat karena sakit apa," jelas Basaria.

Akibat perbuatannya, Fredrich dan Bimanesh disangkakan telah meIanggar Pasal 21 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat  (1) KUHP. 

"Ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Sebanyak 35 saksi dan ahli pun telah diperiksa dalam proses penyelidikan ini," ucapnya.

Lebih lanjut, Basaria mengatakan bahwa KPK juga telah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) pada hari Selasa (9/1) lalu, dan telah meminta imigrasi untuk mencegah bepergian ke Iuar negeri untuk 6 bulan ke depan terhadap tersangka dan 3 saksi lainnya. 

"Kami mengimbau agar pihak-pihak yang menjalankan profesi sebagai advokat ataupun dokter, dapat bekerja sesuai dengan etika profesi, itikad baik dan tidak melakukan perbuatan tercela, serta tidak menghambat atau menghalang-halangi proses hukum yang berlaku, khususnya upaya pemberantasan korupsi," ujarnya. (nyc)

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Pengusaha Didakwa Suap Bowo Sidik Rp 2,5 Miliar

Hukum / Sidang Kasus Rommy, Lukman dan Khofifah Tak Hadir

Hukum / Dipindah ke Gunung Sindur, Agar Setnov Tobat

Nasional / Dua Rektor UIN Banda Aceh Diperiksa KPK

Nasional / Kasus Rommy, KPK Periksa Rektor UIN

Headline / Presiden Jokowi Segera Pilih Pimpinan KPK Baru 


Baca Juga !.