Senin, 26 Februari 2018 02:28 WIB
Citra indah

Politik

Pilkada Tangerang Dinilai Bahaya untuk Demokrasi

Redaktur: Sicilia

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Pilkada di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang dinilai bisa membahayakan demokrasi. Pasalnya, masayarakat tidak diberi pilihan karna calonnya hanya tunggal.

Terlebih, calon yang ikut kontestasi melakukan borong partai politik. Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menyayangkan masih banyaknya calon tunggal di Pilkada serentak 2018. Ini menunjukkan pragmatisme partai politik.

"Fenomena yang semakin menunjukkan pragmatisme partai. Partai memilih langkah rasional yang pragmatis. Daripada kalah berkompetisi dan menghabiskan biaya, lebih baik berkompromi politik dengan bergabung dalam koalisi calon tunggal namun jelas benefit politiknya. Jadi sangat pragmatis dan jangka pendek pendekatannya," ujarnya saat dihubungi INDOPOS, Kamis (11/1).

Titi mengatakan, pemilih harus tetap diyakinkan meski calon tunggal mereka tetap punya pilihan. Yaitu, kolom kosong di surat suara jika mereka tak sependapat dengan pilihan calon tunggal. Calon tunggal tidak otomatis dia pasti menang.

"Pemilihlah yang menentukan apakah mereka menghendaki si calon tunggal atau tidak," jelasnya. Senada, pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, calon tunggal berbahaya untuk kelangsungan demokrasi.

Dia juga setuju bahwa hal ini terjadi akibat partai hanya memikirkan kepentingan golongan semata. "Banyak petahana saat memilih jalur itu, mengamankan posisi dengan merebut dukungan dari parpol, cara mudah yang berbahaya buat demokrasi," kata Hendri, Kamis (11/1).

Hendri menegaskan, contoh yang paling kongkrit adalah wilayah Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Diketahui, pasangan petahana calon Walikota Tangerang Arief R Wismansyah dan calon Wakil Walikota Tangerang Sachrudin tidak ada lawan yang berani bersaing. Semua partai diborong oleh calon ini.

PDIP, Gerindra, Golkar, Demokrat, PPP, PKB, PKS, PAN, NasDem dan Hanura sepakat dukung Arief-Sachrudin. Dua partai non parlemen yakni, PSI dan Perindo juga ikut mendukung pasangan ini.

Menurut Arief, semua partai mau mendukung dirinya karena komunikasi politik yang dibangun berjalan baik. "Kalau soal borong partai politik, justru ini strategi komunikasi yang selama ini kami bangun," ujar Arief.

Dia berpendapat, bergabungnya seluruh partai politik yang ada di parlemen dan non parlemen ini untuk mengusung keduanya, merupakan bukti dari kinerja pasangan calon petahana selama memimpin Kota Tangerang sejak 2013 kemarin. Sehingga, realitas politik ini, lanjut dia, menjadikan seluruh partai politik yang ada untuk kembali mengusung keduanya.

"Inikan hasil evaluasi parpol terhadap kinerja kami di periode saat ini," ucapnya. Bukan cuma di tingkat kota, di kabupaten Tangerang pun demikian.

Sang petahana yakni, Ahmed Zaki Iskandar juga tak punya lawan. Lebih gila lagi, Zaki didukung oleh 10 partai parlemen dan 2 partai non parlemen yakni, Partai Bulan Bintang dan PKPI. Bedanya dengan Arief di Kota Tangerang, Zaki memilih untuk tidak menggandeng wakilnya pada periode sebelumnya.

Dia menunjuk Ketua DPRD Kabupaten Tangerang yakni, Mad Romli. Keputusan itu menambah Zaki semakin tak ada lawan di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten itu. (aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #pilkada tangerang #Pilkada Serentak 

Berita Terkait

Bebaskan Pemilu dari Konflik Destruktif

Politik

Ternyata Banyak Daerah Rawan Konflik

Nasional

Komisioner KPU Curhat ke Komnas HAM, Ada Apa ya?

Politik

Komnas HAM Ikut Awasi Pemilu

Politik

IKLAN