Sabtu, 23 Juni 2018 09:32 WIB
bjb idul fitri

Headline

Menilai Manuver Proxy Intelijen Iran, Rusia, Turki di Timur Tengah

Redaktur:

Dynno Chressbon, Pengamat Intelijen

INDOPOS.CO.ID - Pada awal Februari 2018, Pemerintah AS akan mengumumkan program "Buy American". Nantinya semua anggota korps diplomat, intelijen, dan militer ditugaskan menjual alusista militer-intelijen produksi perusahaan AS dan Israel kepada negara-negara Arab Suni, dan 58 negara mayoritas berpenduduk muslim, termasuk Indonesia, terkecuali Iran.

Dalam rangka merampungkan rencana itu, Presiden AS Donald Trump diduga mengubah daftar ancaman di Timur Tengah, dengan Iran dan Garda Revolusi, menggantikan kelompok  Negara Islam ISIS sebagai Musuh Nomor Satu AS.

BACA JUGA : Viral! Install Aplikasi Lazada sekarang dapat Diskon Hingga 80% dan Gratis Ongkir Selama Ramadhan

Inilah peningkatan eskalasi kebijakan diplomasi, intelijen dan militer paling menguntungkan Israel dan Saudi Arabia dari Presiden AS, setelah ditekan oleh lobi-lobi politik Yahudi Partai Likud yang dikomandoi PM Israel Benyamin Netanyahu di Kongres AS, sejak 20 tahun silam silam. "Saya telah menetapkan bahwa sekarang saatnya untuk secara resmi mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel," kata Trump.

"Sementara presiden sebelumnya telah membuat janji kampanye besar ini, mereka gagal menyampaikannya. Hari ini, saya mengantarkan," tukasnya.

Skenario Kebijakan intelijen AS tersebut yang melatarbelakangi Presiden Donald Trump memerintahkan Dewan Keamanan Nasional (NSC) untuk merumuskan mekanisme pemicu kerusuhan dan konflik untuk “Kepentingan dan tujuan keamanan nasional yang luas" di Iran, Turki, Yaman, Suriah, Libanon, dan Palestina guna menghancurkan semua musuh negara-negara Arab Suni, yakni Hizbullah-Hamas dan Ansarullah dalam rapat bersama petinggi-petinggi lembaga Strategi Keamanan Nasional-National Security Strategy (NSS), Strategi Militer Nasional- National Military Strategy (NMS) dalam rangka membentuk dasar strategi medan perang untuk Pusat Komando Amerika Serikat (NSS) yang akan mengarahkan pelaksanaan strategi di lapangan. Model dan kadar serangan militer yang kuat dan serius mendukung keamanan Israel, sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Jerusalem, awal Desember 201 7.

Unit-unit khusus Cyber Clandestine Action seperti Center Cyber Intelligence (CCI), Directorate Digital Inov ation (DDI), Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), ForAllSecure Consultant, Israel National Cyber Bureau (INCB), Israel Cellebrite Ponsel dan Zerodium yang mampu meretas semua jenis ponsel di dunia dicurigai bertanggung jawab dalam aksi Cyber Deception melalui Cyberaction Hoax Telegram-Twitter -Instagram-Youtube-Signal dan Thor yang dibantu perusahaan penyedia solusi Contra Cyber, MIT's Computer Science and Artificial Intelli gence Laboratory (CSAIL) yang didukung oleh unit khusus Cyber Specific Intelligence Data Al Mukhabarat Al A'amah milik Saudi Intelligence Agency dalam menghadapi Garda Revolusi Iran dan Badai Revolusi Syiah di Timur Tengah.

Kepala Staf Militer Israel Jenderal Gadi Eisenkot mengatakan, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Saudi yang berbasis di Inggris, Elaph, pada pertengahan November 2017, bahwa Israel siap untuk bertukar informasi dengan pihak Saudi untuk menghadapi Iran. "Ada kepentingan bersama dan sejauh menyangkut poros Iran, kami dalam kesesuaian penuh dengan Saudi," katanya.

Pernyataan ini dibenarkan oleh media Israel, Maariv yang mengutip pidato mantan Menteri Kehakiman Saudi Dr Muhammad bin Abdul Karim Issa, staf khusus Putera Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang mengatakan kepada surat kabar Israel Maariv bahwa "tidak ada kekerasan atau teror yang bisa dibenarkan dengan mengatas namakan Islam di manapun, tidak juga di Israel".

Memonitor perkembangan situasi dari skenario baru kebijakan intelijen AS-Irael- Saudi di Timur Tengah, sejak 28 Desember 2017, 13 hari menjelang perayaan 40 tahun pemberontakan revolusioner 9 Januari 1978, menentang raja Shah Reza Pahlevi, Iran akhirnya mengalami keguncangan demonstrasi politik di 10 kota. Aksi demonstrasi ini sudah memasuki hari ke-13.

Para pemimpin Iran tidak tinggal diam dan langsung melakukan manuver kontra intelijen agresif, ofensif, ultra dan hiper, dibantu proksi intelijen Turki dan Rusia yang membocorkan adanya operasi Operasi intelijen bersandi “Fruitful Convergence”, tahap pertama pada Desember, kedua pada Januari dan ketiga pada Februari melalui cyberspace dan jaringan sosial.

Dalam konferensi pers di Teheran pada Sabtu (6/1/18), Sekretaris Dewan Kebijakan Republik Islam Iran Mohsen Rezaei menyebutkan, pihak-pihak yang berada di balik kerusuhan di Iran. Rezaei mengatakan, kerusuhan Iran telah direncanakan dalam pertemuan rahasia di Erbil beberapa bulan lalu. Pertemuan itu diikuti oleh kepala CIA untuk misi Iran, Michael D’Andrea, mantan kepala staf dari Irak di era Presiden Saddam Hussein, saudara ipar Saddam Hussein, wakil dari Arab Saudi, MKO, dan keluarga Barzani.

Menurut Rezaei, langkah pertama operasi ini adalah dengan mengambil kontrol sebagian besar kota Iran dari pemerintah. Dengan cara itu, mereka dapat menyelundupkan senjata ke dalam Iran dan membunuh sejumlah warga. Setelah itu, mereka akan menekan Dewan Keaman an PBB untuk menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran dengan dalih pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Untuk langkah kedua, mereka akan memasukkan anggota MKO ke Iran dan memperburuk situasi. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei langsung dan tegas menyebut AS, Zionis Israel serta Mujahidin Sosialis-Khalq membentuk segitiga yang berada di belakang demonstrasi anti-rezim di Iran.  "Plot telah ditetaskan oleh orang Amerika dan Zionis," kata Khame nei saat berpidato di Qom untuk memperingati ulang tahun ke-40 pemberontakan pada 9 Januari 1978 di kota tersebut terhadap Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi, yang di angkat menjadi pemimpin tertinggi Iran, melalui operasi intelijen AS-Inggris-Israel dengan sandi " Operasi Ajax " pertama pada 15 Agustus 1953.

"Mereka telah mengerjakannya selama beberapa bulan, berencana untuk mulai dari kota-kota kecil dan kemudian bergerak menuju pusa t," kata Khamenei.

"Uang itu berasal dari salah satu negara pesisir Persia yang kaya raya. Jelas, proyek semacam itu membutuhkan uang, tapi orang Amerika tidak akan mau menghabiskan apa pun asalkan memiliki sekutu kaya tersebut," imbuhnya seperti dikutip dari Breitbart, Rabu (10/1).

"Ini adalah perjuangan melawan sebuah negara anti-bangsa; perang melawan Iran melawan anti-Iran; Pertarungan Islam melawan anti-Islam: ini selalu ada dan akan terus berlanjut. Mereka telah merusak kita pada hari-hari ini. Mereka tahu akan ada semacam pembalasan," tukasnya.

Komandan pasukan pengawal revolusi elit Iran  Jenderal Mohammad Ali Jafari, kepala Garda Revolusi Ir an (IRGC) mengumumkan akhir dari hasutan berdemonstrasi. "Sejumlah besar pembuat masalah di pusat hasutan, yang mendapat pelatihan dari kontra-revolusioner telah ditangkap dan akan ada tindakan tegas terhadap mereka," tegasnya.

Aksi protes terus berlanjut, tapi meredup setelah Iran menghentikan platform media sosial Telegram dan Instagram untuk mengkonteraktivitas Cyberaction Hoax yang dilakukan oleh unit-unit khusus Cyber Attack Effective AS-Israel-Saudi.

Selain itu, menurut BBC, rezim Iran dilaporkan menggunakan bots untuk menjejali Twitter dan Instagram dengan propaganda melawan pemrotes anti-rezim. Teheran menciptakan lusinan, jika bukan ratusan, bots Twitter yang tugasnya berkisar dari menyerukan video demonstrasi bersama secara luas dan palsu untuk mengecilkan hati para pemrotes potensial agar tidak ikut demonstrasi.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa eksistensi rakyat Iran di lapangan dan kerja sama mereka dengan pasukan relawan Basij dan aparat keamanan telah berhasil merontokkan  upaya-upaya makar baru pihak musuh terhadap revolusi dan pemerintahan Islam Iran, dalam statamennya yang dirilis, Minggu (7/1).

Menurut IRGC dalam statemennya, bangsa Iran dengan semua komponennya, termasuk puluhan ribu pasukan relawan, telah bangkit melawan upaya pengacauan stabilitas dan keamanan, serta berhasil mempermalukan AS, Inggris, Rezim Zionis Israel, dan dinasti Al-Saud serta selempok kecil orang Iran yang kontra-sistem pemerintahan Islam Iran.

Manuver strategis proksi intelijen Iran-Turki-Rusia di Timur Tengah menghadapi skenario intelijen AS-Israel-Saudi ini terjadi sangat dibantu  oleh mantan pakar intelijen National Secret Agency (NSA), Edward Snowden, yang melarikan diri ke Rusia menjadi konsultan profesional kontra intelijen Dunia untuk Presiden Rusia, Vladimir Putin. Salah satu operasi rahasia gabungan AS-Israel-Saudi, yang penah dibongkarnya adalah operasi mantan pasukan khusus Iraq Intelligen Service (IIS) Unit 9 99 di era Presiden Saddam  Hussein yg bertugas mendestabilisai keamanan Iran, Irak, Suriah, Turki, Li banon, Jordania, Palestina, Pakistan, Afghanistan, Pilipina, Myanmar dan Indonesia.

Kepakaran Snowden ini, diduga sengaja dibagikan oleh Snowden sendiri kepada editor lepas ‘Vanity Fai r’, Howard Blum, yang tengah mempersiapkan buku yang akan terbit Februari 2018 mendatang. Buku ‘The Enemy’s House’ itu akan mengungkap bagaimana Rusia-Iran-Turki berhasil menggagalkan operasi agen rahasia Israel, Mossad, di Iran. Di antara dokumen yang dicuri tersebut adalah data rahasia mengenai detil rencana operasi khusus AS-Israel-Saudi di Iran. Blum mengklaim, Rusia kemudian menyerahkan data rahasia tersebut ke Iran dan Turki.

Dynno Chressbon, Pengamat Intelijen


TOPIK BERITA TERKAIT: #pengamat-intelijen 

Berita Terkait

IKLAN