Senin, 26 Februari 2018 02:31 WIB
Citra indah

Internasional

Iran: Jangan Ikut Campur, Trump!

Redaktur:

PRO PEMERINTAH-Demonstran pro-pemerintah menggelar aksi di sebuah kota Isfahan di Iran Tengah, Kamis (4/1). Aksi pro-rezim besar-besaran dilakukan setelah pihak berwenang mengumumkan akan mengalihkan perhatian untuk mengatasi masalah ekonomi AFP BERITA FOTO / TASNIM / MORTEZA SALEHI

INDOPOS.CO.ID - IRAN dengan marah menuduh Amerika Serikat campur tangan dalam urusan domestik negara itu,  setelah Presiden Donald Trump mengungkapkan dukungannya terhadap aksi protes anti-pemerintah yang tengah berlangsung di negara Timur Tengah itu sejak pekan lalu.

“Pemerintah AS telah melangkahi haknya karena mengintervensi urusan internal Iran secara aneh dengan dalih memberikan dukungan untuk demonstrasi sporadis, yang dalam beberapa kasus telah dibajak oleh penyusup,” kata Duta besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Gholamali Khoshroo, melalui sebuah surat yang ditujukan kepada Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal PBB, Kamis (4/1).

Pernyataan itu diungkapkan Khoshroo sebagai respons atas kicauan Trump di Twitternya yang mengatakan bahwa dirinya mendukung demonstrasi besar-besaran di Iran yang telah menewaskan puluhan orang sejak Kamis (28/12).

Trump bahkan menyerukan perubahan dalam sistem pemerintahan Iran yang dinilainya sarat tindakan represif dan korupsi. Dia bahkan berjanji membantu warga Iran “mengambil alih” pemerintahan mereka.

Gedung Putih juga mengancam akan memberi sanksi baru bagi setiap individu yang terlibat tindakan represif terhadap para demonstran.

Menurut Khoshroo tindakan, Trump itu melanggar hukum internasional dan prinsip piagam PBB. Dia mendesak negara-negara lain mengutuk pernyataan AS tersebut.

“Presiden AS dan wakilnya, melalui kicauan Twitter aneh mereka yang luar biasa telah menghasut warga Iran untuk melakukan tindakan yang menganggu.

 

Iran kembali dihadapkan pada aksi demonstrasi besar-besaran setelah ribuan massa di beberapa kota seperti Teheran, Kermanshah, Sari, dan Rasht turun ke jalan memprotes kenaikan harga serta dugaan korupsi yang meluas di Iran.

Sebagian pedemo juga mengungkapkan kekhawatiran terkait keterlibatan Iran dalam konflik di Timur Tengah, seperti di Suriah dan Irak. Para pengunjuk rasa menuntut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang telah menjabat sejak 1989 untuk lengser.

Setidaknya 23 orang, termasuk seorang polisi, tewas dalam protes yang telah memasuki hari kelima ini. Pejabat berwenang mengatakan hingga kini ada 450 demonstran yang telah ditahan, termasuk 200 orang yang di tahan di Ibu Kota Teheran.

Duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley pun mengatakan, delegasinya tengah berencana mengajukan pertemuan darurat DK PBB untuk mendiskusikan situasi di Iran.

Namun, sejumlah diplomat lainnya dalam badan tersebut mengatakan tidak ada jadwal pertemuan mengenai isu tersebut.

Sejumlah negara dan komunitas internasional telah mengungkapkan keprihatinannya terhadap demonstrasi yang telah memakan korban tersebut.

Sekjen PBB Antonio Guterres menyayangkan aksi demo yang telah memakan korban jiwa tersebut dengan menyatakan “kekerasan harus dihindari”.

Kepala badan HAM PBB, Zeid Ra'ad Al Hussein, juga mendesak otoritas Iran menghindari kekerasan dalam meredakan aksi protes tersebut

Sehari sebelumnya, Trump bersumpah akan mendukung unjukrasa warga Iran.

Trump menjanjikan dukungan yang tidak disebutkan bentuknya, untuk warga Iran yang menggelar unjukrasa.

"Penghormatan terhadap rakyat Iran saat mereka mencoba untuk mengembalikan pemerintahan yang korup ," tulis Trump di laman tweeternya Rabu pagi. 

"Anda akan mendapat banyak dukungan dari Amerika Serikat pada waktu yang tepat!" katanya, tanpa menawarkan spesifik tentang apa atau kapan itu mungkin. 

Trump telah berusaha untuk meningkatkan tekanan rezim Iran, yang telah berjuang untuk menahan satu minggu demonstrasi di seluruh negeri.  Namun sejauh ini masukan dari pemerintahnya bersifat retoris dan diplomatis.  Trump pada hari Selasa menggambarkan rezim tersebut sebagai "brutal dan korup," dengan mengabaikan peringatan bahwa intervensi tersebut dapat menjadi bumerang. 

Pemerintahan Trump juga menuntut sebuah pertemuan singkat Dewan Keamanan PBB untuk memperdebatkan kerusuhan yang telah menewaskan 21 orang - kebanyakan pemrotes.  Diplomatnya yang tertinggi di PBB, Duta Besar Nikki Haley, menggunakan platform publiknya untuk melafalkan slogan pemrotes dan menyatakan bahwa "orang-orang Iran sedang menangis karena kebebasan." 

Sebagai tanggapan atas serangan Twitter Trump yang terbaru, pejabat Iran mengatakan bahwa akun online di Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi mengobarkan protes, yang oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disalahkan pada "musuh" negara tersebut. 

"Presiden Trump tidak akan duduk diam seperti yang dilakukan Presiden Obama. Dan dia pasti mendukung rakyat Iran dan ingin menjelaskannya," kata sekretaris pers Gedung Putih Sarah Sanders.  Pengawal Revolusi Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa kerusuhan yang mengguncang Iran selama beberapa hari telah berakhir, dan mengklaim bahwa jumlah maksimum 15.000 orang telah mengambil bagian secara nasional.  "Hari ini kita bisa mengumumkan akhir dari hasutan tersebut," kata Mohammad Ali Jafari, komandan Garda Revolusi. (afp/esa)


TOPIK BERITA TERKAIT: #Donald Trump #Amerika Serikat 

Berita Terkait

IKLAN