Hukum

Sidang e-KTP Kupas Transaksi Valas Setnov

Redaktur:
Sidang e-KTP Kupas Transaksi Valas Setnov - Hukum

Setya Novanto. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Jaksa penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengupas lapis demi lapis transaksi aliran dana mencurigakan sejumlah perusahaan money changer ke Setya Novanto (Setnov). Jaksa kembali menghadirkan para pelaku usaha pertukaran uang itu dalam sidang kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (15/1).

Sama seperti sidang sebelumnya, saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) KPK terkait dengan keterlibatan perusahaan money changer dalam pendistribusian fee e-KTP untuk Setnov dari PT Biomorf Maritius (Afrika). Sebelum ke Setnov, uang itu lebih dulu disalurkan ke Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, keponakan Setnov dan Made Oka Masagung, rekan Setnov.

Saksi itu antara lain Direktur PT Star Cellular Lulu Fransisca, Direktur PT Gonsal Rudi Trianto, karyawan money changer Meliana Tjap, Direktur PT Mekarindo Abadi Sentosa Neni, dan pegawai PT Berkat Omega Sukses Sejahtera Yu Bang Tjhiu alias Mony.

Kelima saksi itu merupakan rekan bisnis Juli Hira, komisaris PT Berkah Langgeng Abadi yang pada sidang Kamis (11/1) lalu mengaku melakukan jual beli valuta asing atau valas dari uang PT Biomorf Maritius, rekanan e-KTP. ”Juli Hira adalah salah satu money changer besar, dan ini lah rekan-rekan bisnis yang membeli valas ke yang bersangkutan (Juli, Red),” kata jaksa KPK Irene Putri.

Di antara para saksi itu, Direktur PT Mekarindo Abadi Sentosa Neni mengaku pernah melakukan transaksi jual beli valas dan mengirimnya langsung ke rekening OEM Investment Pte Ltd, perusahaan Made Oka Masagung di Singapura. Jumlahnya, USD 1,4 juta dikirim secara bertahap.  ”Dari Raja Valuta (perusahaan money changer, Red) terima rupiah, dan kirim (dollar AS, Red) ke Singapura, ke OEM Investment,” ujarnya.

Setelah dicek Neni, sumber uang asing yang diperjualbelikan itu ternyata berasal dari PT Biomorf Maritius pada 2012. Nah, penghubung antara perusahaan money changer Neni dengan PT Biomorf dan OEM adalah Deni Wibowo, pemilik Raja Valuta.

Jaksa Irene menjelaskan, pihaknya ingin mengurai kronologi transaksi valas itu dari hilir ke hulu. Semua keterangan para saksi yang dihadirkan dalam dua sidang terakhir merupakan bagian dari penyamaran distribusi fee e-KTP untuk Setnov. ”Kami masih cek transaksi-transaksi yang di ujung dulu. Jadi bukan terlepas,” jelasnya.

Perlahan, keterangan para saksi yang dihadirkan memang mengarah pada pendistribusian uang ijon e-KTP ke Irvanto dan Made Oka. Itu sesuai dengan surat dakwaan JPU. ”Saksi-saksi dari money changer menerangkan bahwa benar mereka ada transaksi dengan Juli Hira atau OEM,” ungkap koordinator unit kerja pengelolaan barang bukti dan eksekusi (labuksi) KPK itu.

Sementara itu, penasehat hukum (PH) Setnov, Maqdir Ismail menilai para saksi yang dihadirkan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kliennya. Itu setelah pihaknya menanyakan satu persatu para saksi dengan pertanyaan apakah mengenal Novanto. ”Ketika kami tanya hubungannya apa (dengan Setnov, Red), dia (saksi, Red) juga tidak tahu,” ujarnya.

Atas dasar itu, pihaknya menilai bahwa dugaan aliran dana yang diterima Setnov, seperti yang disebut dalam surat dakwaan jaksa, belum tentu benar. ”JPU mengharapkan kita bersabar untuk sampai akhirnya nanti akan dibuka siapa sesungguhnya yang mengirim uang itu, darimana uangnya, siapa yang terima,” terangnya.

Terkait dengan pengajuan justice collaborator (JC) Setnov, Maqdir menyebut upaya itu merupakan permintaan seseorang. Sejauh ini, kliennya baru sebatas mengakui perbuatan yang berkaitan dengan pertemuan-pertemuan sebelum proses pembahasan anggaran e-KTP di DPR. ”Untuk menerima dana USD 7 juta, kami sudah tanya betul beliau tidak tahu mengenai itu,” imbuh dia.

Di sisi lain, Juru Bicara KPK Febri Diansyah membantah bila pihaknya yang meminta Setnov mengajukan JC. Sebab, JC umumnya berdasar pada pengajuan tersangka atau terdakwa. ”Yang biasanya dilakukan (KPK, Red) adalah pemberian informasi hak-hak tersangka, termasuk di antaranya JC sesuai dengan aturan yang sudah ada,” tuturnya.

Di tempat terpisah, kemarin, KPK memeriksa beberapa orang saksi kasus e-KTP yakni, mantan bos Gunung Agung, Made Oka Masagung sebagai saksi untuk tersangka Anang Sugiana Sudihardjo. Terkait kasus dugaan persekongkolan pelarian Setnov, KPK juga memeriksa eks ajudan Novanto yang merupakan anggota Polri yakni, Reza Pahlevi. Pria yang berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) itu diperiksa sebagai saksi untuk Fredrich Yunadi (FY). "Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi," terang Juru Bicara KPK Febri Diansyah.

Sebelumnya, Reza dipanggil KPK pada Rabu (10/1). Namun, dia tidak hadir dan KPK pun melakukan penjadwalan ulang pemeriksaan. Fredrich ditetapkan sebagai tersangka atas masus dugaan menghalangi dan merintangi penyidikan kasus e-KTP. Fredrich pun resmi ditahan KPK sejak Sabtu (13/1) bersama dokter Bimanesh Sutarjo.  Selain Reza, KPK kemarin juga memanggil kader DPP Partai Golkar yakni, Aziz Samual. Dia juga diperiksa sebagai saksi atas kasus yang menjerat Fredrich. (tyo/nyc)

 

Berita Terkait

Nusantara / Setya Novanto Sempat Memohon ke Kalapas Bangun Gazebo

Nasional / KPK Jangan Tebang Pilih Menguak Kasus e-KTP

Headline / Basir Minta Jatahnya Dibagi Tiga

Headline / Eni Beberkan Aliran Dana ke Munaslub Golkar


Baca Juga !.