Rabu, 21 November 2018 01:04 WIB
pmk

Kesehatan

Mengungkap Penggunaan Styrofoam dalam Kehidupan Sehari-hari

Redaktur:

Ilustrasi Styrofoam. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan tentang bahaya menggunakan styrofoam sebagai kemasan makanan.

Kemasan ini dianggap tidak aman bagi kesehatan manusia karena dapat menyebabkan kanker. Hal tersebut diasumsikan karena kandungan stirena di dalam kemasan tersebut. Benarkah?

Opini tersebut dibantah oleh Kepala Laboratium Teknologi Polimer dan Membran (LPTM) ITB Ir Akhmad Zainal Abidin MSc PhD. 

''Polistirena dan stirena adalah dua zat yang berbeda. Sama bedanya dengan karbon dan diamond (berlian). Stirena itu benar berbahaya. Tapi polistirena terutama yang sudah menjadi kemasan makanan, hanya mengandung 10-43 ppm stirena,'' jelas Akhmad di Jakarta, Kamis (18/1).

Jumlah tersebut, sambung dia, masih dalam batas aman sesuai standard WHO dan Badan POM. ''Selain itu ada beberapa makanan yang lazim kita konsumsi memiliki kandungan stirena yang tidak jauh berbeda, seperti stroberi, kopi, dan kayu manis. Jadi kalau menyatakan kemasan makanan polistirena berbahaya, berarti stroberi, kopi, dan kayu manis juga sama berbahayanya,'' tambah Akhmad. 

Menurut Joint Expert Committee on Food Additives (JECFA) Food and Agriculture Organization (FAO)/World Health Organization (WHO), residu stirena masih aman bagi manusia jika jumlahnya di bawah 5000 ppm. 

Di Indonesia, pemakaian kemasan makanan polistirena sudah diizinkan oleh pemerintah Indonesia.

Izin tersebut dikeluarkan oleh Badan POM (Badan Pengawas Obat dan Makanan/Indonesia National Agency of Drug and Food Control) dalam keterangan persnya di tahun 2009.

BPOM meneliti untuk 17 kemasan styrofoam dan ditemukan bahwa residu ppm masih dalam angka yang sangat aman, yakni 10-43 ppm. 

Angka ini jauh di bawah level membahayakan. Lalu di 2011, dalam kebijakan No. K.03.1.23.07.11.6664 tahun 2011, Badan POM menetapkan batas maksimal residu total monomer stirena untuk kemasan pangan, yakni sebesar 0.5 persen - 1 persen dari berat, tergantung tipe makanannya.

''Di tahun 2009, BPOM telah melakukan penelitian independen untuk 17 kemasan berbahan polistirena. Dalam 17 kemasan tersebut ditemukan bahwa residu ppm masih dalam angka yang sangat aman, yakni 10 43 ppm. Angka ini jauh di bawah level berbahaya untuk residu kemasan makanan,'' kata Badan POM Indonesia Dra Ani Rohmaniyati MSi, kasubdit Standarisasi Produk dan Bahan Berbahaya, Direktorat Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya, BADAN POM Indonesia.

Meski demikian, tetap perlu lebih seksama ketika akan menggunakan styrofoam yang berlogo segitiga dengan kode 6 dan PS, tidak menggunakannya sebagai wadah makanan untuk microwave.

Selain itu tidak menggunakan kemasan yang sudah rusak untuk makanan yang berminyak dan berlemak, terutama jika masih panas. Jadi, selalu pastikan kemasan yang dipakai masih dalam keadaan sempurna dan berlogo sesuai standar pemerintah. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #styrofoam 

Berita Terkait

Bayi Prematur Juga Bisa Tumbuh Optimal

Internasional

Jangan Biarkan Kanker Meredupkan Mimpi

Jakarta Raya

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

IKLAN