Rabu, 21 November 2018 11:19 WIB
pmk

Wanita

Hai Ladies, Anda Suka Belanja Online? Baca Baik-Baik Kata YLKI Ini

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID– Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) memperingatkan Belanja online sebagai transaksi yang rawan terhadap pelanggaran terhadap hak-hak konsumen. Hal tersebut disampaikan pengurus harian YLKI di Jakarta kemarin (19/1).

Dalam catatan YLKI, dari total 642 pengaduan (di luar jumlah pengaduan umroh), 16 persennya adalah aduan tentang belanja online. Atau 101 aduan. Tertinggi dibanding jenis aduan lain. Pengaduan meliputi masalah tidak terkirimnya barang, proses refund, sistem, cacat produk, penipuan, cyber crime (peretasan akun dan pencurian data pribadi), hingga lambatnya respon penjual.

Dari 101 aduan tersebut, 86 persen ditujukan pada toko online yang berada di bawah naungan penyedia aplikasi. Sisanya adalah berasal dari blog pribadi, domain umum, dan media sosial.

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi menyatakan bahwa meskipun transaksi online meningkat pesat, namun nyatanya banyak pelanggaran konsumen. Pada Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Desember lalu, tercatat bahwa jumlah aduan mencapai puncaknya, yakni 33 aduan. Meningkat  40 persen dari bulan Desember tahun lalu.

Menurut Tulus, setidaknya ada dua faktor mengapa sektor belanja online sangat rawan terhadap pelanggaran hak konsumen. ”Lemahnya regulasi dan ada itikad yang kurang baik dari operator atau penyedia jasa belanja,” katanya.

Selain itu, kata Tulus, ketidakmengertian konsumen terhadap hak-haknya juga masih menjadi faktor yang mendominasi. Maka dari itu edukasi terhadap hak-hak konsumen harus terus dilakukan. Terungkapnya kasus pelanggaran juga membutuhkan konsumen yang kritis dan berani.

”Saya yakin banyak yang tahu persis haknya dilanggar, tapi masih belum berani melaporkan,” katanya.(tau/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: #belanja-online #ylki 

Berita Terkait

Usulan Tarif LRT Rp 10.800 Kemahalan

Jakarta Raya

Belanja Online dengan Konsep Minishop Terintegrasi

Indobisnis

IKLAN