Rabu, 14 November 2018 05:42 WIB
pmk

Kesehatan

Penggunaan Gadget Hambat Perkembangan Anak

Redaktur:

PERLU PERHATIAN BERSAMA: Sejumlah siswa SD di Sampang menggunakan handphone dan smartphone di lingkungan sekolah.

INDOPOS.CO.ID - Penggunaan gadget oleh siswa sekolah dasar (SD) akan mengganggu fokus belajar. Selain itu, terdapat pengaruh signifikan penggunaan gadget terhadap waktu belajar siswa. Penggunaan gawai menurunkan waktu belajar anak.

Tugas guru di sekolah menyelenggarakan proses belajar dan mengajar. Baik saat jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran sekolah. Guru dipersiapkan membantu anak meningkatkan prestasi belajar.

Sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, anak-anak gandrung akan smartphone. Malah kebanyakan para orang tua saat ini menyediakan smartphone bagi anak-anaknya sebagai bagian dari kebutuhan hidup sehari-hari.

Misalnya, di SDN Gunung Sekar 1, Sampang. Sejumlah siswa bebas menggunakan gawai di area dalam sekolah. Tidak ada teguran dari pihak sekolah kepada siswa SD yang bermain gadget.

Padahal usia SD belum saatnya menggunakan gawai. Sebab, anak bisa malas belajar dan berpikir. Usia dini lebih bagus digunakan mengeksplorasi ragam pengetahuan. Dengan begitu, sel otak dan nalar anak bisa terus berkembang dengan baik.

Jawa Pos Radar Madura menanyakan kepada siswa alasan membawa smartphone ke sekolah. Rata-rata jawabannya sama, yakni untuk menghubungi orang tua saat pulang sekolah. ”Untuk telepon orang tua minta jemputan. Setiap hari seperti itu. Kalau di kelas ya belajar, nggak main HP,” ucap salah seorang siswa SDN Gunung Sekar 1.

Sejatinya, siswa SD dilarang menggunakan gawai di sekolah. Aturan tersebut tertuang dalam tata tertib sekolah masing-masing. Kendati demikian, realita yang terjadi masih banyak siswa SD membawa gawai ke sekolah.

Kabid Pengelolaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Achmad Mawardi mengungkapkan, semestinya sekolah meluruskan kembali penggunaan gawai bagi siswa SD dilarang. Menurut dia, larangan itu didasari karena gawai akan mengganggu konsentrasi belajar siswa.

”Itu pasti mengganggu. Tidak boleh siswa SD bawa gawai ke sekolah. Kalau dipakai komunikasi dengan orangtua, seharusnya pakai punya guru. Lagipula orang tua pasti tahu jadwal pulang sekolah,” ucap Wawang, panggilan Achmad Mawardi kemarin (19/1).

Semisal ada hal darurat yang menimpa siswa, guru bisa membantu menghubungi orang tua atau mengantarkan pulang ke rumahnya. ”Misalnya, siswa sakit, guru yang harus mengantarkan siswa. Jadi tidak perlu dipanggil orang tua. Aturannya tegas seperti itu,” katanya.

Dia menegaskan, akan ada sanksi bagi sekolah yang membiarkan siswa membawa gawai. Pihaknya berjanji, untuk kali pertama akan melakukan teguran kepada kepala sekolah. Selain itu, menerbitkan surat edaran (SE) mengenai larangan siswa SD membawa gawai ke sekolah.

”Ini menjadi evaluasi bagi kami. Sebelumnya yang saya tahu, tidak ada siswa menggunakan gawai. Mungkin baru-baru ini terjadi,” ujar dia.

Wawang akan meminta pihak sekolah menjalankan aturan dengan tegas. Aturan dibuat demi perkembangan dan kecerdasan siswa. Pihak sekolah harus mengingatkan kepada siswa untuk tidak membawa gawai ke sekolah. Apabila tetap dilakukan, smartphone bisa dirampas dan menghubungi orangtua.

”Orang tua juga diingatkan agar siswa mau mengerti dan tidak lagi membawa gawai ke sekolah. Konsentrasi siswa bisa terpecah ketika belajar. Kami khawatir siswa justru sulit berkembang,” paparnya.

Wawang menyarankan, pihak sekolah memanggil para orang tua siswa dan memberi penjelasan tentang larangan membawa gadget ke sekolah. ”Orang tua dipanggil agar mereka mengerti. Ini demi masa depan anak-anak. Membawa gawai ke sekolah adalah persoalan serius. Jadi tidak boleh dibiarkan,” tandasnya. (jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #gadget #perkembangan-anak 

Berita Terkait

IKLAN