Minggu, 23 September 2018 07:56 WIB
pmk

Indobisnis

Bank Dilarang Jual Cryptocurrency

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: AtoZForex

INDOPOS.CO.ID - Pelarangan penggunaan mata uang kripto atau cryptocurrency semakin tegas. Setelah Bank Indonesia (BI) melarang transaksi mata uang virtual, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa perbankan tidak menjual produk cryptocurrency. Alasannya, mata uang virtual bukan merupakan produk perbankan yang sesuai dengan fungsi perbankan. Jika ada bank yang ingin menjadi agen penjual cryptocurrency, OJK meminta bank melapor lebih dulu kepada OJK.

’’Bank kalau mau jualan produk tentunya harus lapor kepada kami. Tapi, memang tidak boleh menjual produk yang tidak terdaftar di regulator,’’ tegas Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Jumat (19/1). Sejauh ini belum ada bank yang menjual cryptocurrency.

OJK belum membuat pernyataan bahwa peredaran cryptocurrency sebagai komoditas berjangka di masyarakat merupakan hal yang ilegal. Hanya, Wimboh mengakui bahwa cryptocurrency di Indonesia tidak mempunyai regulator sehingga tidak ada yang mengawasi.

Saat ini, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) membuat kajian mengenai kemungkinan memasukkan cryptocurrency dalam komoditas berjangka yang diperdagangkan secara sah di Indonesia. Namun, OJK tidak membuat bahasan serupa dengan Bappebti. Jika ada lembaga di bawah Bappebti yang menjadi agen penjual, juga harus melapor ke OJK.

Secara terpisah, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menyatakan, pihaknya lebih memandang semua cryptocurrency sebagai digital asset. Dia menilai wajar apabila Bappebti berencana mengkaji cryptocurrency. ’’Kami adalah marketplace untuk seluruh token public blockchain di dunia. Bitcoin cuma salah satu produk kami selain dari ripple, ethereum, stellar maupun token lainnya,’’ ujarnya.

Saat ini bitcoin tidak mendapatkan dukungan, baik sebagai alat investasi maupun alat tukar. Menurut Oscar, ada kesalahpahaman masyarakat dalam penilaian terhadap bitcoin sebagaimana emas yang disebut menggantikan rupiah. ’’Padahal yang satu komoditas dan yang satunya mata uang,’’ terangnya.

Sementara itu, analis FXTM Lukman Otunuga menyatakan, sebagai komoditas berjangka, bitcoin dan mata uang kripto lainnya anjlok drastis selama dua hari terakhir. Juga kehilangan kapitalisasi pasar senilai hampir USD 300 miliar. Investor yang membeli bitcoin di sekitar puncak harga USD 20 ribu adalah yang paling terpukul. Sebab, harga turun mencapai di bawah USD 10.000.

’’Situasinya lebih menyakitkan lagi untuk mereka yang meminjam dana untuk membeli uang digital karena khawatir ketinggalan peluang terbesar dalam sejarah pasar finansial,’’ tuturnya.

Menurut Lukman, mencari nilai wajar uang kripto saat ini tidak mungkin dilakukan. Sebab, penggerak utamanya hanya gairah pasar. Sebagian besar pembeli bitcoin dan mata uang kripto tersebut memang tidak menggunakannya sebagai alat transaksi, tapi untuk disimpan dengan harapan mengambil untung dari harga yang terus meningkat. ’’Kami bisa menyimpulkan apakah pasar kehilangan gairah dari penurunan dua hari ini,’’ katanya. (rin/c22)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN