Kental Sejarah Vietnam, Pulau Rempang dan Galang Didorong Jadi Tujuan Wisata

INDOPOS.CO.ID – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman merestui Pulau Rempang dan Pulau Galang (Relang) dijadikan daerah tujuan wisata. Pulau yang sangat kental dengan sejarah pengungai Vietnam ini akan dikembangkan Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau menjadi destinasi wisata dengan standard global.

“Dalam rapat dengan kementerian di Tanjung Pinang beberapa hari yang lalu, Relang (Rempang dan Galang) dibahas untuk daerah pariwisata. Kami menyambut baik kalau ada pelaku usaha yang ingin mengembangkan pariwisata di Relang. Kedua pulau itu memiliki potensi wisata bahari yang besar. Apalagi letaknya yang strategis di sekitar Selat Malaka,” kata Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad Jumat (19/1).

Relang merupakan dua dari ratusan pulau yang berada di wilayah Kota Batam. Pulau itu terletak di sebelah selatan pulau utama. Mantan Presiden BJ Habibie, saat menjabat sebagai Ketua Otorita Batam membangun enam jembatan penghubung dari Pulau Batam hingga Pulau Galang. Tujuannya demi memudahkan pengembangan Batam

Lantas seperti apa potensi yang dimiliki Relang? Selain pesona alam yang mumpuni, Pulau Relang juga menawarkan konsep destinasi yang berbeda. Di pulau tersebut terdapat destinasi wisata sejarah yang unik. Ada bekas pengungsian warga Vietnam yang dapat menjadi wisata unggulan di sana.

Baca Juga :

“Di pulau ini, wisatawan seolah-olah berada di negara Vietnam zaman dulu. Ada banyak peninggalan para pengungsi Vietnam di sana. Ini merupakan potensi yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Di bekas pengungsian Vietnam terdapat Humanity Statue Tinhn Han Loai. Sebuah patung yang berada di dekat area masuk Kampung Vietnam. Patung ini merupakan patung kemanusiaan yang dibuat untuk mengingatkan dunia bahwa masih diperlukan kedamaian.

“Patung itu dinamai Tinhn Han Loai. Diambil dari nama seorang gadis pengungsi Vietnam yang mati karena bunuh diri. Konon, perempuan ini adalah korban kekerasan yang dilakukan oleh sesama pengungsi Vietnam. Disana juga banyak monyet liar. Namun tenang, monyet-monyet tersebut tidak akan menggangu,” ujar Amsakar menceritakan.

Lalu ada Monumen Perahu. Sebuah spot yang menampilkan perahu kayu kecil yang digunakan oleh para pengungsi Vietnam untuk menuju Indonesia. Di perahu kecil itulah ratusan pengungsi berdesakan untuk melarikan diri. Perahu tersebut pernah ditenggelamkan oleh para pengungsi. Kabarnya, itu adalah upaya pengajuan protes ke pemerintahan Indonesia karena mereka pernah akan dipulangkan ke negara Vietnam.

“Kini perahu tersebut direnovasi dan dijadikan satu bagian dari wisata sejarah Kampung Vietnam,” tambah Amsakar.

Pulau ini sering kedatangan turis asal Vietnam. Sebab terdapat Pemakaman Nghia-Trang Galang. Kompleks pemakaman ini menampung sekitar 500 makam dari pengungsi. Budaya khas Vietnam sangat menonjol di pemakaman tersebut. Di area masuk pemakaman ada satu tulisan dalam 4 bahasa yang merupakan pesan untuk mengingat sejarah kelam tersebut.

“Hingga saat ini, seringkali ada keluarga pengungsi dari Vietnam yang datang ke sini. Mereka berziarah ke makam keluarganya yang dikubur di sini,” terangnya.

Tak jauh dari makam, terdapat Museum Kampung Vietnam. Sebuah museum yang menampilkan barang-barang peninggalan para pengungsi. Ada juga foto para pengungsi yang kini dipasang di museum. Selain foto, ada banyak peralatan hidup pengungsi Vietnam yang dipajang, seperti peralatan rumah tangga ataupun peralatan kantor PBB saat bertugas di pulau tersebut. Juga rumah sakit dan penjara Kampung Vietnam.

“Foto-foto tersebut dipasang dengan judul Seribu Wajah Kenangan Camp Sinam Pulau Galang. Ada juga barang-barang lain seperti patung, lukisan, serta barang-barang lainnya,” imbuhnya.

Ada pula bangunan tempat ibadah seperti Vihara Quan Am Tu. Vihara tersebut sudah mengalami beberapa kali pemugaran dan kini bentuknya tidak sama persis dengan bentuk aslinya. Tapi, kesan sejarah dan nilai religi masih bisa didapatkan dari sana. Vihara ini adalah salah satu tempat ibadah yang sering dijadikan lokasi ibadah pada masa itu. ada patung Guang Shi Pu Sha di depan vihara.

Bagaimana wisata alamnya? Ada Pantai Vio Vio. Walau belum setenar pantai Nongsa tapi pesonanya tak kalah ciamiknya. Pantai ini menawarkan keindahan pantai serta jernihnya air laut. Beragam aktifitas air bisa dilakukan disini, tak ketinggalan matahari terbenam yang menghipnotis. Pantainya terletak di Pulau Galang. Untuk ke sana, wisatawan lebih dahulu harus melewati Jembatan Tuanku Tambusai atau lebih dikenal dengan Jembatan 5 Barelang.

Selain pantai Vio Vio ada juga Vihara Pa-Auk Tawya Vipassana Dhura Hermitage di pulau Rempang. Lokasinya berada di dalam hutan Pulau Rempang. Vihara ini digunakan oleh para biksu untuk bermeditasi,” pungkasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mendukung bila Relang dijadikan daerah wisata. Menurutnya, Relang punya segudang potensi yang layak dikembangkan. Selain itu jaraknya yang relative dekat dengan Batam bisa menjadi keunggulan tersendiri.

“Untuk mengembangkannya akan lebih mudah karena dekat dengan Batam. Batam sudah menjadi tempat favorit dikunjungi wisman. Akan lebih mudah untuk menggiring wiman Batam. Apalagi memiliki sejarah dengan Vietnam. Ini bisa menjadi andalan untuk mendatangkan wisman dari Vietnam,” kata Menpar Arief Yahya. (lis/ags)

Komentar telah ditutup.