Minggu, 18 November 2018 02:47 WIB
pmk

Indobisnis

Shutdown Gak Ngaruh di Indonesia

Redaktur:

Bhima Yudhistira Adhinegara, Peneliti Indef.

INDOPOS.CO.ID - Penghentian operasional sementara (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS) tidak berdampak signifikan pada indonesia. Secara temporer shutdown itu sangat minim untuk mengganggu nilai tukar rupiah. Karena itu, proyeksi rupiah masih berada dalam rentang terkendali di kisaran Rp 13.350-13.400 per dolar AS (USD).

Shutdown sendiri merupakan keputusan yang diambil pemerintah negeri Paman Sam setelah para senator gagal mencapai kesepakatan soal dana operasional pemerintah. Ketika shutdown, USD cenderung melemah terhadap mata uang negara lain, tidak terkecuali pada rupiah. ”Justru sebaliknya, rupiah berpotensi menguat di tengah koreksi USD,” tutur peneliti Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, ketika dihubungi di Jakarta, akhir pakan lalu.

Bhima melanjutkan shutdown menyebabkan prospek pemulihan ekonomi AS terganggu. Dalam posisi itu, rupiah akan diuntungkan. Begitu juga dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) masih tetap positif di angka 6.490-6.500. Itu didorong sentimen investor dalam negeri terhadap prospek pemulihan ekonomi Indonesia. ”Pastinya, membawa angin segara untuk rupiah dan indeks,” imbuhnya.

Sejatinya sambung Bhima, peristiwa shutdown pernah terjadi pada edisi 1995-1996 dan periode 2013. Kala itu, kurs rupiah hampir tidak terpengaruh. Penyababnya, shutdown bersifat lebih temporer atau jangka pendek, kira-kira berlangsung dalam tempo dua  minggu. Apalagi, cadangan devisa Indonesia cukup untuk mengawal stabilitas kurs. Angka terakhir Desember 2017, cadangan devisa berada di posisi USD 130 miliar.

Nah, sebagai safety net atau jaring pengaman terhadap gejolak eksternal, cadangan devisa harus terus ditingkatkan nilai maupun kualitasnya dengan mendorong devisa ekspor non-migas dan devisa pariwisata. Bank Indonesia (BI) juga perlu terus memantau resiliensi atau ketahanan fundamental ekonomi terhadap tekanan global. Hanya, perlu diwaspadai kalau shutdown berlangsung lebih dari 2 minggu. Sebab, pertumbuhan ekonomi AS kuartal tiga tahun lalu tercatat 3,2 persen, tercepat dalam 3 tahun terakhir. ”shutdown itu akan menurunkan prospek ekonomi AS,” ucapnya.

Secara spesifik kalau shutdown berlangsung lama, akan mengganggu kinerja perdagangan Indonesia ke AS. Dengan begitu, performa ekspor sepanjang tahun ini  berpotensi menurun. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, porsi ekspor Indonesia ke AS mencapai 11,2 persen dari total ekspor atau senilai USD 17,1 miliar. Pemerintah didesak untuk mempersiapkan mitigasi risiko salah satunya dengan memperluas pasar ekspor ke negara alternatif sehingga ketergantungan terhadap AS berkurang. ”Perluasan ekspor bisa ke Negara Afrika Utara, Pakistan dan Amerika Latin,” saran Bhima.

Berdasar data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi langsung sepanjang Januari-September 2017, realisasi investasi AS berada di peringkat ke-4 senilai USD 1,53 miliar atau naik USD 1,1 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya. Tren positif investasi AS tahun ini bisa terkoreksi menyusul peristiwa shutdown tersebut. Ditambah reformasi kebijakan AS mulai berlaku efektif. ”Jadi, pemerintah perlu terus melanjutkan reformasi investasi khususnya percepatan perizinan, deregulasi dan evaluasi insentif fiscal,” ingatnya.

Di sisi lain lanjut Bhima, dampak shutdown di pasar keuangan akan berimplikasi pada naiknya yield surat utang. Itu mencerminkan kenaikan risiko dan keluarnya modal asing dari negara berkembang. Tahun lalu, dana asing keluar (capital outflow) dari bursa saham (net sales) Indonesia USD 2,96 miliar atau hampir Rp 40 triliun. Dalam jangka menengah, tekanan capital outflow menguat dipengaruhi ancaman kenaikan suku bunga Fed rate sebanyak 3 kali hingga akhir tahun, instabilitas geopolitik, proteksionisme perdagangan AS, dan kenaikan harga minyak hingga USD 80 dolar. ”Motor pertumbuhan ekonomi dari investasi dan ekspor bisa terpengaruh,” tegasnya.

Sementara Rektor Universitas Paramadina Firmanzah menyebut shutdown pemerintahan Trump itu tidak berdampak luar biasa. Alasannya, secara fundamental ekonomi domestik cukup kuat. Apalagi, penghentian sementara itu tidak bakal berlangsung berlarut. ”Ya, dampaknya kecil saja. Tidak usah khawatir, Negara sudah teruji terhadap beragam terpaan krisis,” tukas Firmanzah. (far)


TOPIK BERITA TERKAIT: #shutdown 

Berita Terkait

IKLAN