Jumat, 16 November 2018 11:47 WIB
pmk

Kesehatan

2018, Kurang Tinggi Badan Jadi Tantangan

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Kurang gizi ternyata masih menjadi persoalan krusial di beberapa negara. World Bank menyebut bahwa ada 178 juta anak di bawah umur 5 tahun di dunia menderita stunting atau kondisi anak bertubuh pendek atau kuntet akibat kekurangan gizi kronis. Ternyata Indonesia menduduki posisi ke lima negara dengan kasus stunting tertinggi. 

Stunting adalah suatu kondisi yang merujuk pada tubuh pendek karena kekurangan gizi kronis dalam waktu cukup lama. Penyebab bayi mengalami stunting sangat kompleks mulai dari pemberian ASI yang tidak cukup, pemberian MPASI yang tidak cukup, pengasuhan anak yang kurang tepat, faktor kondisi rumah, faktor infeksi, keamanan pangan dan air yang tak terjaga serta mutu dan gizi pangan yang buruk. 

Guru Besar Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Purwiyatno Haryadi Msc menjelaskan, stunting masih menjadi tantangan pemerintah di bidang kesehatan pada 2018.

''Sektor yang paling harus diintervensi pemerintah adalah kaitannya dengan keamanan pangan. Dari sisi kesehatan bagaimana bisa mengatasi stunting  melalui bidang keamanan pangan seperti kurangnya infrastruktur air bersih. Saya lihat perlu ada investasi keamanan pangan, seperti pedagang bakso atau jajanan anak-anak,''' ujar Prof Purwiyatno dalam acara Outlook 2018: Tantangan dan Peluang di Tahun Politik, di Jakarta, baru-baru ini.

Prof Purwiyatno melihat produksi pangan yang tidak sesuai kaidah Cara Produksi Pangan yang Baik (CPBB) menjadi tantangan keamanan pangan di Indonesia. Masih banyak pedagang makanan yang abai dengan kaidah ini dan melakukan penggunan bahantambahan pangan yang berlebihan. ''Pemerintah harus memastikan perlindungan kesehatan publik dengan pembenahan standar keamanan pangan nasional,'' katanya.

Prof Purwiyatno mengatakan ketika aspek keamanan pangan diperhatikan, maka risiko anak-anak akan jatuh sakit dan mengalami gizi buruk bisa dicegah. Selain intervensi di bidang keamanan pangan, dia juga melihat pentingnya dukungan multisektor untuk merevitalisasi posyandu. ''Seperti kita tahu posyandu merupakan pusat kegiatan penyuluhan di masyarakat yang turut mempengaruhi cakupan perbaikan gizi di suatu daerah,'' kata dia. 

Mengatasi masalah stunting, lanjut dia, perlu melibatkan banyak kementerian. ''Justru saya kira perlu ada tim khusus untuk menangani secara khusus darurat stunting ini. Seperti misalnya merevitalisasi posyandu, dimonitor apakah penyuluhan untuk pemberian makanan pada bumil sudah tercapai. Bagaimana mengajarkan masyarakat pentingnya pemberian makanan bergizi pada anak,” tambah dia. 

Terpisah, Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), menjelaskan masih ada harapan memperbaiki stunting saat anak pubertas. ''Saat kita bayi tubuh yang mengalami pertumbuhan adalah bagian torso atau batang tubuh. Satu tahun keatas baru bagian kaki. Saat pubertas pun, bagian kaki tumbuh kembali,'' tutur dia.

Untuk memperbaiki hal ini, orang tua harus memperhatikan beberapa hal. Seperti asupan nutrisinya, aktifitas dan waktu tidur anak. ''Selain makanan, yang harus diperhatikan agar hormon pertumbuhan anak bekerja dengan maksimal adalah aktifitas dan waktu tidur. Semakin banyak aktifitas fisik, hormon pertumbuhan anak akan bekerja dengan baik,'' jelasnya.

Menurut dia,  hormon pertumbuhan akan bekerja pada pukul 12 sampai 1 malam. Dan hormon tersebut dapat bekerja saat seseorang dalam kondisi tidur nyenyak.

Sementara untuk asupan nutrisi, orangtua harus memberikan makanan yang kaya akan protein terutama protein hewani pada anak. ''Karena inti masalah stunting sebenarnya dari buruknya makanan yang dikonsumsi. Protein anak usia di atas 6-12 bulan itu butuh 1,2 g/kg dari berat badan. Di atas itu lebih banyak lagi proteinnya,'' pungkas dia. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tinggi-badan #konsumsi-anak 

Berita Terkait

IKLAN