Senin, 19 November 2018 10:56 WIB
pmk

Kesehatan

Teknologi Terbaru Pengobatan Kanker

Redaktur:

Dr. Wong Seng Weng selaku ahli Onkologi dan Konsultan Spesialis dari The Cancer Center, SMG.

INDOPOS.CO.ID - Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia, dan nomor tujuh di Indonesia (Buletin Jendela Data dan lnformasi Kesehatan, Kemenkes RI 2015).

Di 2013 saja, prevalensi penyakit kanker sudah mencapai 0,14 persen (347.792 orang) dari total populasi penduduk.

Selain itu, berdasarkan prediksi World Health Organization (WHO), pada 2030 jumlah penderita kanker di lndonesia akan meningkat tujuh kali lipat.

Kanker paru, hati, usus, kolorektal, payudara dan serviks adalah beberapa jenis kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

Dr. Wong Seng Weng selaku ahli Onkologi dan Konsultan Spesialis dari The Cancer Center, SMG menjelaskan bahwa semua orang memiliki sel kanker di tubuhnya.

Sel kanker dapat dibedakan dari sel normal berdasarkan sejumlah karakteristik morfologi, perilaku, dan genetiknya.

Sel kanker memiliki perkembangan yang abnormal, dapat menyebar dan menyerang sel normal lain layaknya ‘teroris’, dan sel ini tidak memiliki waktu tenggat hidup.

Jika sel teroris ini sudah menyebar ke organ-organ lain, pemberantasan penyakit kanker secara tuntas sangat sulit dicapai.

Pengobatan kanker umumnya ditentukan berdasarkan stadium kanker dan penyebarannya di dalam tubuh.

Secara garis besar, terdapat empat tipe pengobatan kanker yaitu operasi, terapi radiasi, kemoterapi dan terapi hormon.

Kemoterapi sangat umum dilakukan pada pasien kanker karena terapi ini sangat ampuh dalam menyasar sel kanker yang sudah menyebar.

Namun, kemoterapi dapat ikut membunuh sel normal yang sehat selain sel kanker sehingga menimbulkan efek samping tertentu, seperti Alopecia, Neutropenia dan dalam beberapa kasus langka, Cardiotoxicity.

Mengenai pengobatan kanker, The Cancer Center, salah satu yang menawarkan pengobatan terkini untuk kanker. Pengobatan kanker seiring waktu semakin berkembang.

Jika sebelumnya pengobatan kanker cenderung dipukul rata untuk setiap pasien tanpa melihat lebih detail kondisi pasien bersangkutan, kini pengobatan untuk penyakit serius ini telah lebih personal.

Pasien pun dapat menaruh harapan pada treatment terapi target maupun imunoterapi yang lebih minim efek samping dan tepat sasaran.

''Dulu pasien kanker rata-rata diberikan pengobatan yang sama, seperti kemoterapi dan tidak selektif,'' ujar dr Wong Seng Weng, Medical Directory & Consultant Specialist The Cancer Center (TCC), yang merupakan bagian dari Singapore Medical Group (SMG), di Jakarta, Rabu (24/1).

Kemoterapi, jelas dia, membabat semua sel, baik yang terkena kanker maupun yang sehat. Efek samping yang paling terlihat dari terapi kimia ini adalah gangguan nafsu makan, rambut rontok, penekanan sistem imun, hingga kerusakan ginjal.

Berbeda dengan terapi target, terapi ini hanya menyerang sel kanker atau sel yang mengalami pembelahan tidak terkendali sehingga pertumbuhan dan penyebarannya dapat dihambat.

Sebelum diberikan terapi ini, pasien lebih dulu harus menjalani pemeriksaan profil genetik. ''Dari sini bisa diketahui gen yang bermutasi sehingga bisa diberikan obat yang sesuai. Kami juga bisa melihat apa yang menyebabkan sel kanker terus berkembang dan menyebar, kemudian digunakan obat untuk memblokir sinyal yang terlibat dalam pertumbuhan sel kanker,'' kata medical oncologist ini.

Pemeriksaan genetik bisa dilakukan dengan pengambilan sampel dari hasil biopsi atau contoh darah. Lebih jauh, obat terapi target bekerja dengan memanfaatkan mutasi gen tersebut.

Obat masuk ke tubuh dan mencari sel dengan gen yang bermutasi tersebut, lalu melumpuhkannya. Arifin Ng, General Manager & Senior Vice President SMG International Partners mengatakan, pengobatan kanker dibanding 10 tahun lalu sudah banyak mengalami kemajuan. ''Setelah terapi target, ada imunoterapi yang juga minim efek samping,'' tukasnya.

Pada prinsipnya, lanjutnya, imunoterapi bekerja dengan mengaktivasi sistem imun (kekebalan tubuh) pasien. Imunoterapi bekerja dengan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun dan tumor.

Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut Programmed Death- Ligand 1 (PD-L1) melumpuhkan sel T sehingga sel-sel imun tidak dapat mengenali dan membunuh sel-sel kanker.

''Kombinasi imunoterapi dengan kemoterapi bisa memberikan 80 peraen keberhasilan untuk pengobatan kanker paru,'' tukas dr Wong.

Di Singapura, imunoterapi selain untuk kanker paru, juga diberikan bagi pasien kanker kulit (melanoma).

Namun, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat US FDA baru-baru ini juga telah menyetujui pemberian imunoterapi untuk jenis kanker lainnya.

Dengan begitu, Singapura akan menerapkan imunoterapi untuk kanker lain, seperti kanker leher dan kepala, ginjal, lambung, kelenjar getah bening/limfoma (tipe Hodgkins), dan kanker lainnya dengan karakteristik genetik tertentu yang dikenal dengan Mis-match repair (MMR) deficiency. FDA pada Mei 2007 telah menyetujui penggunaan imunoterapi untuk kanker dengan gen yang abnormal yang disebut MMR deficiency .

Kanker dengan mutasi gen yang lebih banyak akan merespons lebih baik pengobatan imunoterapi.

Menurut dr Wong, jika pemeriksaan profil genetik cocok, pasien akan diberikan terapi target. Jika tidak sesuai, imunoterapi menjadi solusi.

SMG hingga saat ini memiliki 25 dokter spesialis dan 51 dokter subspesialis dengan 35 klinik tersebar di penjuru Singapura.

SMG mulai berekspansi ke luar negeri pada 2015, salah satunya Indonesia dengan Ciputra SMG Eye Clinic, lalu Vietnam. The Cancer Centre berlokasi di Paragon Medical & Mount Elizabeth Novena.  (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #pengobatan-kanker 

Berita Terkait

Bayi Prematur Juga Bisa Tumbuh Optimal

Internasional

Jangan Biarkan Kanker Meredupkan Mimpi

Jakarta Raya

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

IKLAN