Jumat, 16 November 2018 12:11 WIB
pmk

Kesehatan

Diet Sembarangan, Waspada Jantung

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID – Saat ini, banyak diet popular yang berkembang di tengah masyarakat perkotaan. Salah satunya diet ketogenik atau biasa disingkat diet keto. Disamping itu, ada juga diet OCD dan diet mayo.

Namun sayang, banyak warga urban yang salah kaprah dan asal-asalan dalam mengadopsi pola diet. Hasilnya, selain tidak maksimal untuk menurunkan berat badan, juga akan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Lantas, diet seperti apa yang paling tepat untuk tubuh? Dokter Gizi Klinik RS Pondok Indah Bintaro Jaya dr Diana F Suganda MKes SpGK menjelaskan, banyak yang mengira bahwa diet itu adalah tidak memakan sesuatu. Padahal, sebenarnya adalah mengatur pola makan. 

Dalam ilmu gizi, kebutuhan masing masing orang akan berbeda tergantung dari kelompok umur, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas, dan faktor stresnya. Demikian pula dengan metabolisme dan kebiasaan atau pola hidup, sehingga tidak bisa dipukul rata untuk semua orang.

Untuk itu, mindset yang harus dibenarkan adalah diet yang mengatur pola makan. Apabila melakukan diet dengan berfikir menghindari makanan atau tidak makan sesuatu makanan, malah tidak akan membentuk pola hidup yang sehat, yang menjadi tujuan utama diet.

''Karena masyarakat hanya berorientasi pada penurunan berat badan dalam melakukan diet, bukan untuk membentuk pola hidup sehat. Apabila nantinya sudah tercapai penurunan berat badan yang diinginkan berpotensi besar akan kembali kebiasaan makan sebelumnya,” paparnya.

Dia kemudian membahas popularitas diet keto. Dalam diet keto ini, disarankan menghindari atau meminimalisasi konsumsi karbohidrat, seperti nasi, mie, dan pasta. 

Dengan minimnya asupan karbohidrat, tubuh pun mencari sumber energi yang lain. Mengingat karbohidrat adalah sumber glukosa yang nantinya menjadi sumber energi utama tubuh.

Alhasil, sambungnya, tubuh mengambil sumber energi dari lemak dengan memecahkan lemak cadangan yang ada di hati dan organ lain. ''Diet ini memang sangat cepat menurunkan berat badan. Namun, hal ini berpotensi lemak yang ada dalam tubuh mengalir pula dalam aliran darah. Sehingga tak jarang pada pelaku diet keto apabila di tes kolesterolnya banyak menunjukkan hasil yang buruk,” paparnya.

Maka itu, diet keto tidak direkomendasikan untuk jangka waktu lama. ”Karena berisiko menyebabkan penyakit kardiovaskular,” tegasnya.

Selain diet keto, tren yang berkembang dilakukan oleh masyakarat urban, khususnya kaum hawa adalah diet mayo. Diet ini dilakukan dalam jangka waktu 13 hari, ditambah dengan larangan makan garam atau yang mengandung natrium, minum air mineral dua liter perhari, dan tidak boleh minum air es, makan malam sebelum jam 18.00. 

Apabila salah satu hari saja gagal, maka proses 13 hari itu pun harus diulang kembali. Para pelaku diet ini pun mengklaim mereka bisa mengalami penurunan berat badan sebanyak 10 kg dalam waktu 13 hari itu. 

Faktanya, lanjut Diana, pada saat tubuh dilarang makan garam maka cairan dalam tubuh tidak bisa bertahan di tubuh dan langsung terbuang dari tubuh. Tentu saja efeknya dalah berat badan pasti turun, namun yang hilang dari itu hanyalah cairan saja.

Hal itu karena sifat garam atau natrium yang berfungsi sebagai penahan cairan dalam tubuh. Selain itu, larangan tidak minum es sebenarnya tidak berpengaruh pada tubuh. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

IKLAN