Minggu, 25 Februari 2018 12:44 WIB
Citra indah

Politik

Gerindra Yakin Jokowi Satu Periode

Redaktur:

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon

INDOPOS.CO.ID - Walau pemilu 2019 masih satu tahun ke depan, Partai Gerindra telah jumawa. Partai berlambang kepala burung garuda itu meyakini Joko Widodo (Jokowi) akan kalah dan tak akan kembali menjabat presiden.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan, banyak masyarakat yang menginginkan kepemimpinan Presiden Jokowi cukup satu periode saja. Karena, di kepemimpinan Jokowi saat ini masyarakat banyak mengalami kesulitan. ”Harapan masyarakat demikian keinginan cukup satu periodelah (kepemimpinan presiden, Red) sudah capek, makin susah,” ungkapnya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (30/1).

Menurut Fadli, masyarakat mengalami berbagai kesulitan di berbagai sektor. Mulai dari pertanian, retail dan perdagangan. ”Jadi saya kira ada suatu perubahan. Apa yang dilakukan di satu periode ini saja banyak menimbulkan kesulitan di berbagai sektor,” ucapnya.

Wakil Ketua DPR RI itu menegaskan, di sektor pertanian tidak tercapai soal swasembada pangan, nelayan juga sudah banyak sekali di sektor retail dan pedagang. ”Pokoknya lebih banyak laporan juga,” tandasnya.

Fadli menyatakan, dalam waktu dekat partainya akan mendeklarasikan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pemilu 2019. Prabowo semakin siap kembali maju Pilpres. ”Pak Prabowo makin lama makin siap untuk menjadi calon presiden. Harapan masyarakat demikian keinginannya. Jokowi cukup satu periode lah,” kata Fadli.

Ditambahkan Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria, muncul permintaan dari kader Gerindra agar deklarasi Prabowo sebagai capres dilakukan dalam waktu dekat. Anggota Komisi II DPR itu mengaku, sejauh ini memang seluruh kader partainya sudah bulat untuk mendukung Prabowo kembali maju dalam pencalonan presiden. Hanya, Gerindra masih menunggu waktu yang tepat untuk deklarasi secara resmi. ”Kami, kader, pengurus, simpatisan, mendukung Prabowo sepenuhnya,” kata Riza.

Wakil Ketua Majelis Dewan Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid mengatakan, pihaknya masih menunggu keputusan Gerindra soal siapa yang akan diajukan jadi capres. ”Belum ada keputusan akhir Gerindra siapa yang dimajukan. Pak Prabowo mengatakan belum ada keputusan final karena (kader, red) Gerindra menginginkan iya. Tapi jadinya seperti apa (koalisi dengan Gerindra, red) kita harus menunggu dan masih panjang waktunya,” kata Hidayat, Selasa (30/1).

Hidayat menyebut partainya hingga kini belum melakukan diskusi lebih lanjut dengan Gerindra. Untuk sementara, PKS akan fokus pada hasil pilkada serentak lebih dulu di sejumlah wilayah, yang akan diselenggarakan 27 Juni mendatang. ”Oh belum (ada diskusi, Red). Itu masih panjanglah karena kita pasti juga akan melihat hasil Pilkada 2018. Hasil Pilkada 2018 akan juga menentukan peta politik pilpres menuju Pilpres 2019,” ujarnya.

Meski demikian, Hidayat tak menampik partainya akan merapatkan barisan untuk membentuk koalisi dengan Gerindra. Apalagi pada Pilpres 2014, PKS juga berkoalisi dengan Gerindra. ”PKS dan Gerindra kan sudah lama. Dulu (pilpres 2014, red) kita dengan Gerindra, sekarang di pilkada juga dengan Gerindra. Kalau PKS dengan Gerindra wajar-wajar saja, apalagi kalau pun PKS dan Gerindra itu juga sudah mencapai 20 persen lebih (presidential treshold, Red),” pungkasnya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut baik hal itu. Menurut dia, maju sebagai capres merupakan hak politik Prabowo. ”Jadi Pak Prabowo ingin menggunakan hak politiknya tentu sah-sah saja, itu wajar saja,” ujar JK, Selasa (30/1).

Menurutnya, jika seseorang mendirikan partai, tentu ujung-ujungnya adalah untuk mendapatkan kekuasaan. Sehingga, jika seorang pemimpin partai tidak memiliki minat untuk meraih kursi tertinggi di Indonesia, menurut JK, ia tidak bisa disebut pimpinan partai. ”Bisa, tapi terserah Pak Prabowo sendiri. Kita tidak bisa mengatakan wajar atau tidak wajar. Ndak bisa, itu hak politiknya,” tambahnya.

Jika Prabowo benar-benar maju, lanjutnya, maka Pilpres 2019 diprediksi akan menjadi pertarungan kedua Jokowi-Prabowo setelah Pilpres 2014 silam. Namun, tidak menutup kemungkinan akan muncul calon-calon lain di luar keduanya. ”Ini kan PT (presidential thereshold, Red) kan 20 persen. Secara teori artinya setidak-tidaknya bisa empat (calon presiden). Bisa empat, mungkin juga tiga,” kata JK.

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah juga ikut memprediksi bila bakal ada pasangan calon presiden baru di Pilpres 2019. Menurutnya, pilpres 2019 tidak hanya akan diramaikan oleh Jokowi dan Prabowo Subianto.

Menurut Fahri, yang akan menjadi presiden di tahun 2019 mendatang berasal dari gelombang baru. ”Saya percaya Pilpres 2019 itu akan ada calon baru yang fresh dan dia menang,” kata Fahri kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Selasa (30/1).

Dirinya enggan menyebutkan siapa tokoh yang dimaksud, namun ia memperkirakan di tahun 2019 Indonesia memiliki presiden baru yang memiliki tenaga untuk memperbaiki Indonesia. ”Pokoknya dia fresh,” tandasnya.

Dia menegaskan, dirinya akan bersama gelombang baru tersebut. Sebab, menurutnya, Indonesia memerlukan tenaga dan semangat untuk membangun Indonesia. ”Saya akan bersama gelombang baru yang segar yang akan menyelamatkan Indonesia,” tuntasnya. (aen)


TOPIK BERITA TERKAIT: #Gerindra #Jokowi #Jokowi Menuju 2019 

Berita Terkait

IKLAN