Kamis, 15 November 2018 03:29 WIB
pmk

Kesehatan

Peringati Hari Kanker Dunia, 50 Wartawati Periksa Mammografi

Redaktur: Nurhayat

Para wartawati usai mengikuti pemeriksaan mammografi. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Dalam rangka memperingati Hari Kanker Dunia setiap tanggal 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mammografi gratis untuk media dan keluarga.

Sekitar 50 pewarta dari berbagai media di Jakarta, yang dikoordinir oleh Forum Ngobras tampak antusias mengikuti pemeriksaan mammografi yang berlangsung di Sekretariat YKPI di bilangan Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Rentang usia peserta antara 35-50 tahun.

Ketua YKPI, Linda Gumelar menjelaskan YKPI rutin melakukan mammografi gratis, sejak YKPI memiliki unit mammografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Sejak 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mammografi setiap minggu keliling ke Puskesmas-puskemas di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais.

Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8 persen yang dicurigai tumor jinak.

Tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien. Peningkatan jumlah peserta, menurut Linda, karena permintaan Kemenkes yang tengah gencar mensosialisasikan program Germas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas. ''Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,'' tegas Linda di Jakarta, Jumat (2/2).

Dr. Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, dokter yang bertugas dalam pemeriksaan mammografi untuk media pada hari ini, menjelaskan saat ini kanker payudara menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia.

WHO memprediksi, tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker. Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari 1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

Menurut dr. Martha, masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara. Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama.

Faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat manopuse di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal. ''Mereka ini disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara,'' jelas dr. Martha.

Deteksi dini dilakukan dengan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), USG dan mammografi. Mammografi dianjurkan untuk usia lebih dari 40 tahun, dan bisa dikombinasikan dengan USG.

Dari Indopos sendiri ada dua wartawati yang ikut pemeriksaan ini. Ini merupakan pertama kali melakukan mammografi. Saat ditawari langsung bersedia karena menyadari pentingnya deteksi dini, dan ada riwayat tumor jinak payudara pada kakak perempuannya.

Di mobil mammografi ini pemeriksaan terbilang singkat, hanya sekitar lima menit. Kalau alat sebelumnya terasa sakit karena payudara harus direkan, kini alat mammo sudah menggunakan teknologi digital, jadi tidak sakit sama sekali. ''Nggak sakit seperti yang dibayangkan,'' kata Novita, wartawati Indopos.

Linda menambahkan, salah satu tujuan YKPI melakukan mammografi untuk masyarakat adalah menekan kejadian kanker payudara metastasis stadium lanjut di tahun 2030. ''Kami mencoba mendorong upaya promotif dan preventif bahkan melakukan edukasi sampai ke sekolah-sekolah untuk remaja putri agar sejak dini mengetahui tentang pentingnya melalukan Sadari,'' jelas Linda.

''Mobil mammografi kami tidak pernah mati, jadi 24 jam mesin mobil selalu menyala meskipun tidak sedang melakukan pemeriksaan karena alat mammografi tidak boleh panas,'' pungkas Linda. (dew)




TOPIK BERITA TERKAIT: #mammografi #hari-kanker-dunia #kesehatan 

Berita Terkait

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

IKLAN