Rabu, 26 September 2018 01:58 WIB
pmk

Kesehatan

Mau Hindari Limfoma? Stop Rokok!

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Keisha, 14, kini terbaring lemah di sebuah rumah sakit di Jakarta. Awalnya pelajar SMP ini merasakan ada benjolan di lehernya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan ternyata dia terkena kanker limfoma. Bahkan sudah menjalar ke organ lainnya. 

Beberapa artis seperti Ria Irawan dan Aldi Taher juga contoh public figure yang terkena kanker limfoma. Di Indonesia, diperkirakan terdapat lebih dari 14.500 pasien limfoma.

Dokter spesialis hematologi onkologi medik, RS Kanker Dharmais Hilman Tadjoedin menjelaskan, limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik, yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. ''Limfoma disebabkan oleh sel-sel limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau sehat berfungsi menjaga daya tahan tubuh kita untuk menangkal infeksi bakteri, jamur, dan virus, namun kemudian menjadi abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa,'' ujar dr Hilman pada acara ”Rudy Soetikno Memorial Lecture”, belum lama ini.

Penyebab utamanya lebih banyak dari rokok dan bahan kimia. Meski kebanyakan yang merokok adalah laki-laki, tapi yang terserang justru wanita. Dia menyebut, dari enam pasiennya, empat orang diantaranya adalah perempuan. ''Walau tidak merokok, kan ada perokok pasif,'' kata pria berkacamata itu.

Pilihan terapi pengobatan kanker limfoma kini semakin luas dengan hadirnya obat antitumor bendamustine. Obat kanker tersebut kini sudah bisa diproduksi di dalam negeri sehingga harganya lebih terjangkau.

Hasil penelitian yang dilakukan Prof Rummel MJ,MD, PhD dari Jerman menyimpulkan, pasien yang diberikan terapi bendamustine yang dikombinasikan dengan rituximab dapat meningkatkan masa bebas penyakit atau remisi sampai 10 tahun. ''Angka kematian pasien dengan pengobatan bendamustine lebih sedikit dibandingkan dengan angka kematian pasien dengan terapi standar,'' kata Rummel di acara yang sama.

Hilman kembali menjelaskan, bahwa terapi kombinasi ini memberi harapan baru bagi pasien limfoma, terutama kanker dengan stadium rendah. ''Pengobatan ini untuk mengendalikan penyakitnya sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Misalnya menghambat pertumbuhan benjolan, walau belum sembuh sempurna tapi itu sudah sangat membantu pasien,'' pungkasnya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Tren Diet Keto di Kalangan Millenial

Kesehatan

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

IKLAN